
Sementara Farah istirahat di kamar usai di periksa dokter Gita. Semua sudah berkumpul di ruang tamu.
Sedikit canggung Gita memulai pembicaraan.
"Sebelumnya mohon maaf jika saya telah lancang dan ikut campur dalam permasalahan keluarga ini. Saya dan dokter Fadlan memang orang luar tapi saya dan dokter Fadlan tahu atas semua permasalahan yang sedang di timpa saudari Farah"
"Soal perselingkuhan semua sudah saya dan dokter Fadlan jelaskan pada bapak Adam dan bapak Faizal. Dokter Fadlan tidak ada hubungan sama sekali dengan saudari Farah. Dia memang sangat baik kepada siapapun terutama pada wanita hamil"
"Ya, karena ada kejadian di masa lampau yang membuat dokter Fadlan sedikit trauma, hingga selalu memperhatikan dengan baik semua pasien nya apa lagi wanita hamil "
"Saudari Farah tidak ada hubungannya dengan dokter Fadlan karena dokter Fadlan itu tunangan saya, dan sebentar lagi kita akan menikah" dokter Gita tersenyum sembari menatap dokter Fadlan dan tanpa aba-aba dokter Fadlan menggenggam tangan dokter Gita.
"Maaf, jika melenceng dari inti masalah ini, cuma saya ingin memastikan dan menyakinkan semuanya kalau apa yang di tuduhkan ke saudari Farah itu fitnah"
"Saudari Farah itu mengalami trauma, saya harap bapak Faiz tidak menemui saudari Farah dulu. Dia benar-benar syok berat apalagi di tambah anak yang di harapkan juga ikut meninggalkannya"
"Sebentar dok, maksudnya gimana?"
"Apa bapak belum tahu tentang anak bapak?" tanya dokter Gita heran.
"Belum dok"
Fadlan sedikit menahan amarah, kenapa ada sosok suami yang tidak siaga seperti itu.
Setelah dari tadi dia diam menahan semuanya ia akhirnya bersuara meski tangan Gita menggenggam untuk menahannya tapi ia sudah tak sabar dengan sikap Faizal.
"Bapak Faizal apakah anda tidak tahu foto yang tertera di sana?" Fadlan menunjukkan foto baby Rayyan yang terpajang di dinding ruang tamu begitu besar.
Foto baby Rayyan yang yang telah ia potret ketika ia ambil dari perut Farah. Tempo hari ia berikan pada Adam.
"Ar rayyan?siapa Bu?" tanya Faiz.
Ibu sudah menangis tersedu tak mampu menjelaskan pada menantunya.
"Dia anak bapak Faizal dengan saudari Farah"
__ADS_1
"Owh ya? syukurlah bayi nya tampan sekali" sahut umi sumringah menggenggam tangan Abah dan Abah membalas dengan mengelus nya.
"Akhirnya aku punya anak mi" Faizal terlalu senang tanpa menanyakan lagi keberadaan anaknya. Ia memeluk Luluk dengan erat.
"Selamat ya sayang" lirih Luluk.
Gita dan Fadlan sedikit bingung dan penasaran dengan status Luluk dengan Faizal.
"Andaikan baby Ar-rayyan masih ada mungkin saudari Farah tidak akan mengalami trauma berat seperti ini" jelas Gita.
"Maksudnya dok?" tanya Faizal.
"Sudah dari awal saya jelaskan pada bapak, kandungan Farah itu bermasalah tapi bapak tidak mendengarkan nasehat saya. Bapak terlalu gelap mata hingga mencemburui saya. Usai bapak memfitnah ibu Farah dia mengalami kontraksi hebat dan bayi dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan"
"Bahkan saya sudah menghubungi bapak berkali-kali untuk mengabari dan mengurusi jenazahnya tapi bapak tak menggubrisnya" jelas Fadlan dengan emosi.
Fadlan teringat saat itu ia pergi liburan ke luar negeri dan dengan sengaja ponselnya ia tinggal di rumah.
"Akhirnya saya yang harus mengurus semuanya" tambah Fadlan dengan menahan gemuruh di dadanya teringat anaknya yang meninggal juga.
"Bagaimana ibu bisa ngasih kabar kamu sedangkan saya dan si kembar sibuk ngurus Farah yang masih koma" Isak tangis ibu menjelaskan pada menantunya.
Semua seketika terhening dengan Isak tangis masing-masing.
"Maafkan umi ya bi? andaikan umi tidak percaya dengan Vita dan Sila pasti kejadiannya tidak akan begini" sesal Luluk mengelus tangan Faizal. Sedangkan Faizal terdiam masih syok tidak karuan. Pasalnya ini untuk yang kedua kalinya anaknya harus meninggal.
Fadlan mengerutkan keningnya.
"Iya mi, umi gak salah kok" jawab Faizal mengelus tangan Luluk.
"Bu, boleh kita ke makam anak saya?"
"Silahkan nak, Rayyan juga merindukan doa ayahnya pastinya. Tapi maaf ibu tidak bisa mengantarkan. Kamu sudah tahu kan makam ayah?"
"Sudah Bu"
__ADS_1
"Sebelahnya persis nak ,di sana sudah ada fotonya Rayyan "
"Iya buk, kalau begitu saya dan keluarga pamit kesana dulu ya. Assalamualaikum..."
"Iya nak, Waalaikumsalam "
Usai Faizal dan keluarganya pergi Fadlan segera menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak tadi.
"Bu, mohon maaf saya mau bertanya, sebenarnya siapa wanita yang di sebelah bapak Faizal tadi?"
"Ouh, itu istri pertamanya Faizal "
"Apa?!..." Fadlan dan Gita bersamaan saling bertukar pandang saking terkejutnya.
"Farah itu istri kedua nak"
"Kok di kasih ijin sih Bu anaknya di jadikan istri kedua" ucap Fadlan sedikit tidak percaya.
"Dulu ibu tidak bisa menolak nak, semua awalnya juga manis sekali apalagi Luluk lah yang memintanya langsung untuk di jadikan madunya"
"Ibu pikir Farah akan bahagia karena , Faizal dan Luluk yang berlatarbelakang sebagai ustadz dan dosen bisa mengarahkan Farah menjadi lebih baik lagi. Ilmu dan wawasan mereka luas. Ibu pikir mereka akan mengajarkan kedewasaan dan banyak hal ke Farah bukan seperti ini" jelas ibu merasa bersalah.
"Sudahlah nak, doakan yang terbaik untuk Farah saja. Karena nasi sudah menjadi bubur "
"Bu, bisa minta ijin melihat kondisi Farah?"
"Boleh silahkan,nak" Fadlan langsung masuk kamar Farah dan Gita sedang mendengarkan curhatan ibu di ruang tamu.
Cklek...
Fadlan membuka pintu kamar Farah dan di biarkan terbuka.
Ia duduk di kursi sebelah Farah yang masih tergeletak di atas ranjang.
"Farah, malang sekali nasib kamu. Andaikan kamu lebih kenal aku dulu di banding suamimu tak akan mungkin kau ku jadikan istri kedua. Tak akan mungkin aku akan menyakitimu" lirih Fadlan memandangi wajah Farah dengan sayu dan penuh iba.
__ADS_1