
Adam masih terdiam di meja makan, ia takut jika uminya semakin memarahi nya karena ayahnya marah dan pergi dari rumah.
Tapi ia benar-benar mencintai Farah istri kedua ayahnya, ya cinta itu hadir saat ia di suruh ayahnya untuk menjaga Farrah beberapa tahun yang lalu ketika Farah belum menjadi istri ayahnya.
Cinta terlarang itu muncul begitu saja, di saat ia sulit jatuh cinta tapi dengan mudahnya bisa jatuh cinta dengan wanita yang di cintai ayahnya.
Ia tahu ia salah ingin merebut cinta kedua ayahnya, tapi ia juga gak bisa membohongi perasaannya yang begitu semakin membesar untuk istri kedua ayahnya.
Ia ingin memperjuangkan cintanya yang begitu hadir tanpa permisi, tanpa kenal waktu dan tempat itu.
Tapi dia juga takut menjadi anak durhaka, karena meski begitu ayahnya juga sosok ayah panutan yang ia cintai dan menjadi tempat di mana dulu di saat terpuruk harus kehilangan cahaya terang dalam hidup nya.
Dulu saat ia kehilangan Abi kandung nya untuk selama-lamanya ayah tirinya hadir menjadi penyemangat dan penuntun dalam hidup nya.
Ia juga tak lupa akan semua jasa-jasa itu dari ayah tirinya yang sudah ia anggap dan adik-adiknya seperti ayah kandung sendiri.
"Kak, kamu tenang aja. Nanti umi akan bantu kamu untuk memperjuangkan cintamu" ucap umi dengan lembut mengusap kepala Adam.
"Serius mi?" sumringah Adam.
Umi mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Eyang kakung dan eyang putri diam mematung bingung harus apa.
Mereka merasa bersalah karena penyebab utama yang menyuruh Faizal menikah lagi juga atas saran dan suruhan mereka.
.
.
.
Aku sedikit terkejut membaca surat dari bang Faiz yang seharusnya tidak kaget karena sudah terlalu sering bang Faiz mengirim surat untuk ku.
Tapi kali ini berbeda kata-kata bang Faiz menyentuh hatiku. Bang Faiz yang selalu ku rindukan tapi tak ingin ku jumpai.
__ADS_1
Entah mengapa aku masih takut dan benci untuk bertemu bang Faiz, untuk mengukir kembali rumah tangga dengan nya sudah tidak ada keinginan lagi.
Aku takut dia tidak seperti dulu seperti dengan janjinya yang akan selalu ada untuk ku, di saat aku terpuruk maupun tertimpa masalah.
Selama ini dia pergi, dan aku berjuang sendiri melawan semuanya.
Ya, ada satu sosok yang selalu ada untuk ku meski aku masih ragu untuk melangkah dan memberikan kepastian dan harapan untuk nya.
Muhammad Adam Sirajuddin ya, lelaki yang selalu ada untuk ku. Menguatkan dan mempercayai ku di saat semua keluarga nya tak mempercayaiku.
Entah aku masih ingin sendiri, meski aku sangat menginginkan seseorang hadir mewarnai hatiku.
Hidup ku terasa kosong tak seindah dulu.
Air mata yang selalu menjadi temanku dan adik-adik ku yang menjadi tempat di saat aku butuh pelukan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." ku usap air mataku dan mencari sumber suara yang ternyata dokter Fadlan.
"Ada apa dok tumben kesini?"
"Tadi saya main ke rumah ibu katanya kamu lagi di sini, makanya saya langsung kesini"
Ya, rutinitas dokter Fadlan dan dokter Gita mengunjungi rumah ibu untuk memeriksa ku tapi kali ini ia langsung ke toko menemui ku tanpa di dampingi dokter Gita.
"Sendirian?gak sama dokter Gita?"
"Dia lagi jaga hari ini, kenapa masih manggil dok sih kan kita lagi di luar rumah sakit"
"Iya kak maaf..."
Dokter Fadlan adalah dokter kandungan yang belajar psikologis jadi dia tahu tentang semua yang ku alami.
Dia termasuk seorang lelaki yang tak pernah aku takuti karena dia benar-benar baik dan tahu bagaimana memperlakukan wanita.
__ADS_1
Tak heran jika dokter Gita tergila-gila padanya meski dokter Fadlan belum bisa membalas rasa itu.
"Kakak sudah makan?"
"Belum, ini aku bawakan makanan buat kita makan" dokter Fadlan membuka makanan lalu menyuapiku.
"Kakak nggak makan?"
Lalu dokter makan dengan dengan bekas sendok ku. Ya makanan itu cuma satu dan dokter Fadlan seperti nya sengaja ingin makan berdua denganku.
"Kak?kalau cuma satu makan kakak sendiri aja gak apa-apa, tadi aku juga habis makan es buah kok"
"Kamu gak suka ya?makan bekas ku?"
"Bukan gitu kak,aku nggak enak kalau kak Gita tahu atau suamiku tahu. Aku masih istri orang kak"
"Apa ada harapan untuk aku masuk ke dalam rumah mu?"
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Karena sudah berulang kali dokter Fadlan mengutarakan ingin menjadi suamiku.
Sosoknya selalu aku inginkan untuk ku jadikan suami, tapi aku tak ingin dia menjadi suamiku.
Sangat berat jalan ke depan yang harus di tempuh.
Status ku masih istri bang Faiz, dan apalagi dokter Gita yang sudah menjadi temanku. Tak mungkin aku merusak semuanya yang sudah baik ini.
"Maaf kak, meski rumah ku kosong tak berpenghuni tapi kunci pintu rumah ku masih terbawa pemiliknya"
"Tapi kabari kakak ya? kalau kunci itu sudah kembali, aku ingin membukanya. Aku ingin menghuni rumah itu. Akan ku jadikan rumah itu penuh warna dan penuh cinta. Agar tenang, damai dan ceria"
Aku menunduk, tak sanggup lagi menatapnya karena aku tak ingin memberikan harapan lebih padanya.
Memang aku sangat nyaman bisa bercerita panjang lebar tentang masalah yang ku alami agar dokter Fadlan bisa memberikan solusi dari semua apa yang ku alami.
Tapi bukan seperti ini saat aku lemah dia masuk dan ingin menguasai ku.
__ADS_1