
Bimbang dan bingung melanda hatiku meski jauh di dalam hatiku cukup sekali seumur hidup ku untuk menikah.
Andaikan aku berani melawan rasa takut ku pasti aku ingin kembali ke pelukan bang Faiz.
Memberikan kesempatan untuk nya lagi meski aku masih ragu.
Aku masih takut masuk lagi di lingkungan bang Faiz yang ku rasa membuat ku tiada bandingannya.
Keluarga bang Faiz yang terpandang dan kaya raya apalagi semua dengan lulusan terbaik di pendidikan tertinggi nya.
Aku hanyalah secuil roti yang tidak akan ada memandangku.
"Dok, saya harus apa ya?saya bingung di sisi lain saya masih mencintai suami saya tapi saya masih takut untuk kembali" ujarku saat menemui dokter Fadlan di klinik nya.
Aku sengaja datang langsung ke klinik nya agar dia tidak datang ke rumah atau ke toko seperti tempo hari.
Aku tak mau memberikan harapan padanya, ya dengan datang ke klinik dia tidak akan berani menyatakan cinta karena keprofesionalan dalam bekerja membuat nya tegas dan tidak berpihak kepada siapapun.
"Apa yang sedang anda rasakan sekarang?apa masih ada rasa takut untuk jatuh cinta?"
"Perasaan takut masih ada dok, tapi saya juga rindu dengan suami saya, tapi untuk menemuinya saja saya masih takut"
"Coba anda untuk mengingat hal-hal terindah saat berjumpa pertama dulu, hal-hal manis yang pernah anda lalui bersama suami anda"
"Anda juga bisa melihat foto-foto kenangan bersama, atau bisa dengan datang ke tempat lokasi di mana anda dan suami anda sering berjumpa dulu"
"Emmm, iya dok akan saya lakukan. Sebelumnya terima kasih banyak ya dok"
"Sama-sama mbak Farah" dokter Fadlan menjabat tangan ku dengan senyum yang di paksakan meski terlihat sangat tulus.
Aku segera pulang naik taksi online usai mengurusi administrasi tapi lagi-lagi seperti biasanya dokter Fadlan sudah mengimbau semua pegawai,suster dan semua yang bekerja di klinik itu kalau aku tak di ijinkan untuk membayar sepeserpun.
Ya sudahlah meski terkesan aku berhutang budi pada dokter Fadlan tapi aku tetap berusaha suatu saat nanti bisa membalasnya dengan setimpal setara dengan kebaikan nya.
.
.
.
.
Dokter Fadlan.
__ADS_1
Dokter sedikit terkejut saat ada pasien yang masuk tanpa melakukan perjanjian itu apalagi itu Farah.
Ya, meski dulu sering kesini dengan di antar dokter Gita atau dengan Adam.
Selama ini seringkali ia yang datang ke rumah nya langsung untuk memeriksa kesehatan fisik maupun mental nya.
Tapi hari ini sebuah kejutan terjadi Farah datang dengan sendirinya tanpa pendamping di sisinya.
Ada rasa sumringah tersendiri saat Farah datang menemui nya , ia kira Farah akan menjawab soal pernyataan nya yang ingin menjadikan Farah istrinya itu.
Iya yakin Farah akan menerima pernyataan tempo hari.
Dengan kepercayaan dirinya ia mendengar kan segala keluh kesah Farah pada nya.
Tapi hatinya sedikit kecewa usai mendengar keluh kesah Farah yang sangat berbanding terbalik dari apa yang ia pikirkan.
Meski dalam hati nya terasa sakit ia tetap dengan profesional memberikan pelayanan terbaik untuk pasien nya.
Hatinya terketuk dan sedikit kecewa mendengar Farah menyebut nama suaminya.
Bahkan selama ini tak pernah sekalipun menyebut nama suaminya.
Apa kamu sengaja Rah untuk menghindari ku?apa ini termasuk jawaban penolakan kamu? kenapa kamu dengan tiba-tiba menyebut nama lelaki itu yang sudah jelas-jelas menyakiti mu.
Fadlan tersenyum dan menjabat tangan Farah dengan menutupi rasa sakitnya dengan senyuman nya.
Cklek.
"Dok, ada teman dokter ingin bertemu" ujar suster.
"Siapa?" tanya dokter yang masih stay duduk di kursi ruang kerjanya.
"Dokter Adam"
"Oh, suruh masuk aja sus"
"Baik dok"
Cklek.
"Siang dokter Fadlan "
"Haist, salam kek"
__ADS_1
"Iya dok assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...baru aja Farah dari sini, tumben nggak kamu anter"
"Masak sih? sendirian apa sama adiknya?"
"Sendiri "
"Tumben banget sih, cerita apa dia dok?"
"Haist, rahasia"
"Dikit lah dok"
"Mana boleh gitu sih, kan sudah menjadi perjanjian tidak boleh di ceritakan kembali apa yang sudah menjadi rahasia pasien ke orang lain"
"Iya-iya dok..."
"Mau pamit dok,ini mau berangkat tugas lagi. Cuma mau titip Farah aja kalau ada apa-apa tolong kabari saya. Soalnya dia akhir-akhir ini sepertinya sedikit syok.Kemarin juga tiba-tiba nangis sendiri"
"Kok bisa?"
"Nggak tahu" Adam sedikit berbohong karena ia tak mau dokter Fadlan tahu kalau dirinya mencintai Farah.
Karena setahu dokter Fadlan, Farah adalah sepupu nya.
"Ya, takut kali lihat kamu"
"Kok bisa?"
"Kan kamu gak doyan cewek sukanya cowok jadi dia takut mungkin " ujar dokter Fadlan menggoda Adam. Karena selama ini Adam terkenal cuek dan jutek sama cewek.
"Dok, please deh jangan gitu saya serius "
"Sudah-sudah tenang saja dia sudah banyak perubahan kok, dia sudah tidak takut jatuh cinta lagi. Dia hanya butuh waktu saja" singkat Fadlan menyembunyikan rasa di hati nya juga.
"Ya sudah pamit ya dok, titip Farah "
"Oke-oke. Hati-hati di jalan yah?" Fadlan menepuk bahu Adam.
"Maaf gak bisa nganter mau periksa pasien "
"Iya gak apa-apa dok, terima kasih atas waktunya "
__ADS_1
"Sama-sama "
Mereka keluar ruangan lalu berpisah di depan lobi.