
Liena Sue kembali menyerang namun masih saja terhalang oleh Akar aneh.
"Nona, Jangan kemari... Kau akan mati jika mendekatiku". Ucap Perempuan itu.
"Kenapa? Lalu kenapa kau tertanam Seperti ini?". Tanya Liena Sue.
"Itu karena ada satu jiwa lain yang menguasai tubuhku bersama hewan Spiritual ini. Kumohon Nona, Jika Jiwa yang lain mengambil tubuhku lagi kau akan mati". Jawab Wanita itu .
Liena Sue tampak diam dan terlihat bingung dengan ucapan wanita itu hingga tak lama kemudian Wanita itu merubah ekspresi wajahnya, kali ini terlihat marah.
"Berani beraninya kau menggangguku!!". Teriak Wanita itu.
"Ternyata dia mempunyai dua kepribadian". Gumam Liena Sue.
Liena Sue beringsut mundur ketika tiba tiba akar itu kembali menyerangnya, Sedangkan Rong Bai dan lainnya kini bisa melukai Raksasa itu sehingga keseimbangannya sedikit tergoncang.
"Sepertinya ada seseorang lagi di atas sana, sehingga memecah konsentrasi Raksasa ini pada kita". Ucap Bian Sue.
"Liena...". Sahut Rong Bai yang kemudian terbang menuju ke kepala Raksasa itu.
"Ternyata Adik, Kai kita selesaikan dari sini. Biarkan Rong Bai dan adik yang menangani di atas sana".
"Tentu saja". Jawab Kai Yuwen bersiap untuk menyerang.
Sedangkan di atas sana Liena Sue dan Rong Bai masih berjibaku dengan Akar akar aneh dari wanita itu, tak lama kemudian Akar itu kembali menghilang dan ekspresi Wanita itu kini berubah menjadi sosok wanita lemah seperti saat memperingatkan Liena Sue .
"Nona, Tuan cepat pergilah.. Kumohon".ucap Wanita itu.
"Beritahu kami bagaimana caranya mengalahkan mu". Tanya Liena Sue tak peduli dengan ucapan wanita itu.
"Itu.... Aku pun tidak tahu. Semenjak Jiwa lain itu menjadikanku seperti ini, aku tidak tahu kelemahannya". Jawab wanita itu sambil tertunduk lesu.
"Na'er jangan percaya padanya, Ada sesuatu yang aneh dari dia. Dia hanya ingin kau kasihan dan mengikuti kata katanya". Bisik Rong Bai.
"Kau benar, Aku merasakan Ada yang di sembunyikan dari wanita itu". Jawab Liena Sue.
"Aku tahu, Cahaya warna merah itu adalah jantungnya. Namun kita tidak bisa mendekatinya dengan mudah". Sambung Liena Sue.
"Kalau begitu aku akan mengalihkan perhatiannya , sementara kau harus menghancurkan cahaya merah itu". Ucap Rong Bai.
__ADS_1
"Baik, hati hati Ah Rong".
"Kau pun juga harus berhati hati Na'er".
"Tentu". Jawab Liena Sue sambil tersenyum.
Mereka pun berpisah, dan Rong Bai mulai menyerang wanita itu.
"Dasar manusia Bodoh!! Aku sudah memperingatkan kalian, kalau begitu jangan salahkan aku jika aku memakan kalian". Ucap wanita itu dengan suara berbeda dan terlihat marah.
Rong Bai menghalau akar akar yang muncul dari segala arah itu, Sedangkan Liena Sue terbang di atas Raksasa itu.
"Ketemu, Panah Surgawi keluarlah".
Liena Sue membidik cahaya hitam itu dengan Panah Surgawinya , Panah tak kasat mata itu meluncur dengan kecepatan penuh dan akhirnya berhasil mengenai Cahaya itu.
Suara kesakitan wanita dan Raksasa itu memenuhi seluruh hutan sehingga para hewan lari terbirit birit.
"Manusia kurang ajarr....". Ucap Wanita itu yang akhirnya tumbang bersamaan Raksasa kera itu.
"Kau baik baik saja adik?". Tanya Bian Sue kepada Sang adik yang masih terengah engah.
Liena Sue tak menjawabnya , kemudian tubuhnya limbung dan Pingsan. Untung saja Bian Sue cepat menangkap tubuh Liena Sue sehingga tidak terjembab ke tanah.
"Kita cari tempat beristirahat, Sepertinya aku melihat Goa di sebelah sana". Ucap Rong Bai sembari menunjukkan Goa yang awalnya tidak ada yang melihatnya.
Tanpa berpikir panjang, Mereka pun segera berjalan menuju Goa yang terletak di atas bukit yang tak jauh dari tempat mereka.
Mereka memasuki Goa tanpa ada penghalang atau apapun itu, Kai Yuwen membuat Api unggun dan Rong Bai tengah menyiapkan tempat untuk tidur di dekat api unggun.
"Letakkan disini kak, Aku akan menunggunya". Ucap Rong Bai.
"Baiklah". sahut Bian Sue sembari meletakkan Liena Sue.
Rong Bai mengamati Liena yang tengah terlelap karena kelelahan, Sedangkan Bian Sue dan Kai Yuwen tengah memanggang Kelinci dan burung panggar hasil buruannya.
"Makanlah, Aku sudah menyisihkan sedikit daging untuk Liena.". Ucap Kai Yuwen sembari memberikan paha Kelinci kepada Rong Bai.
"Terimakasih". Ucap Rong Bai.
__ADS_1
Bau daging yang sangat harum membuat Liena terusik dari mimpinya, Ia perlahan membuka mata karena perut yang sudah bergemuruh.
Melihat Liena Sue yang sudah sadar, Rong Bai segera membantu membangunkannya dan segera memberikan Daging yang sudah di sisihkan untuk Liena .
"Baunya wangi". Ucap Liena Sue.
"Makanlah, ini Na'er". Ucap Rong Bai sambil menyodorkan dagingnya.
"Wah wah, Kalian datang ke rumahku dan memasak makanan enak tanpa menyisihkan untukku?". Terdengar Suara Pria Tua dari dalam Goa yang gelap gulita.
Semua orang jadi waspada dan memegang senjata masing masing.
"Tidak perlu takut, Aku adalah Pak Tua Bao penghuni Goa ini". Ucap orang itu
Mendengar nama Pak Tua Bao mereka teringat dengan nama Tetua Bao, Mereka pun meletakkan senjata dan memberi Hormat kepadanya.
"Salam Tetua Bao, maafkan kami yang tidak tahu ". Ucap Kai Yuwen mewakili mereka.
"Tidak apa apa, Bangkitlah". Ucap Tetua Bao.
"Terimakasih Tetua Bao". Ucap Mereka berempat.
"Kalian ikutlah aku , kita mengobrol di Kediamanku saja jangan disini. Dan kau nona minumlah air ini maka tubuhmu akan lebih baik". Ucap Tetua Bao sembari memberikan botol porselen berisi air berwarna biru terang.
"Terimakasih Tetua". Ucap Liena Sue sambil menerima botol porselen dari Tetua Bao kemudian meminumnya. Tubuhnya merasa ringan dan lebih sehat setelah meminum air itu.
Merekapun segera mengikuti Tetua Bao yang sudah berjalan terlebih dahulu, Goa yang awalnya gelap kini tiba tiba berubah menjadi sebuah Halaman Mansion yang luas.
"Mari lewat sini dan kita akan menemukan apa yang kalian cari". Ucap Tetua Bao.
Setelah melewati halaman Yang Luas mereka melewati Hutan bambu yang tertata rapi dan sejuk, Walaupun malam hari tetapi hutan bambu itu masih terlihat jelas karena Cahaya bulan dan beberapa Mutiara cahaya sehingga terlihat terang.
Tak lama mereka berjalan, mereka telah sampai di sebuah danau dengan Mansion mewah di tepinya. Mereka memasuki Mansion mewah dua tingkat dengan balkon yang luas, menaiki tangga menuju balkon yang sudah terdapat camilan dan makan malam yang sudah tertata rapi.
"Silahkan duduk, dan nikmati makanannya". Ucap Tetua Bao.
"Terimakasih Tetua, tapi kami sudah makan malam tadi". Sahut Kai Yuwen.
"Tidak apa apa, kalian rasakan sedikit saja". Ucap Tetua Bao.
__ADS_1
Mereka pun dengan ragu segera memakan hidangan berat itu secara perlahan, namun setelah sampai di mulut mereka pun malah tambah berselera pada makanan itu.
Tetua Bao tersenyum dan ikut menikmati camilan yang tersaji . Setelah selesai makan malam Tetua Bao memulai pembicaraan kepada mereka berempat .