
Pangeran Silas pamit undur diri dari Kediaman Pak Tua Jun Li setelah Leon pergi membawa Mayat Wang Feying.
"Pak Tua Jun Li, kalau begitu saya pamit dulu dan maaf mengganggu istirahatmu".
"Ahh tidak apa apa, apa kau berencana memasuki Akademi Yang Mulia?".
"Yah sepertinya begitu".
"Kalau begitu tinggallah di sini untuk sementara, penginapan kota pasti sudah penuh".
"Apa tidak apa apa Pak Tua Jun Li?". Ucap Pangeran Silas sungkan .
"Tidak apa apa, nanti jika kau lolos semua seleksi kau akan mendapatkan asrama di dalam Akademi".
Pangeran Silas tampak berpikir sejenak, dan akhirnya menerima tawaran dari Pak Tua Jun Li. Pelayan Mengantarkan Pangeran Silas ke kamar kosong di lantai atas, setelah mengantarnya pelayan itu undur diri secepatnya karena takut tamu itu bertanya macam macam terhadapnya.
Dan benar, Pangeran Silas menghentikan Pelayan itu untuk bertanya.
"Tunggu, apakah ada orang yang kemari dan meminta menghidupkan orang seperti diriku?". Tanya Pangeran Silas.
"Dulu ada satu orang Yang Mulia, tapi setelah mayat itu hidup dia menjadi manusia pemakan daging yang kemudian membunuh orang yang menghidupkannya. Dan Sejak saat itu Pak Tua Jun Li tidak berani lagi, karena Dewa Takdir sudah mengutuknya". Jelas pelayan tersebut.
"Jadi Pak Tua Jun Li bisa bertemu Dewa? Memang dia sebenarnya siapa kenapa bisa menghidupkan orang mati?".
Pelayan itu kaku tidak bisa menjawab pertanyaan Pangeran Silas, dia begitu takut membocorkan informasi sehingga ia berniat pergi dari kamar itu lagi .
"Sebaiknya anda jangan mengetahui atau mencari tahu terlalu jauh Yang Mulia". Ucap pelayan itu kemudian berlalu pergi.
"Sepertinya Pak Tua Jun Li adalah orang yang misterius. Aku harus mencari tahu nanti". Gumam Pangeran Silas.
...
Kabar kematian Wang Feying pun sudah tersebar di seluruh pelosok Negara Gu dalam semalam, dan Kaisar kini tengah membaca Surat Silas yang tiba tiba berada di atas meja kerjanya. Begitupun Permaisuri selaku Ibu Pangeran Silas yang juga menerima Surat dari anaknya.
Jendral Wang kini terburu buru menuju Istana untuk memastikan kebenaran dan bertanya kepada Kaisar Bai tentang kematian Putri pertamanya itu.
Kaisar Bai pun sudah bersiap di Istana Utama untuk menyambut dan menjawab seluruh pertanyaan Jendral Wang berikut dengan para Saksi yang sudah berada di sana.
"Salam Yang Mulia". Sapa Jendral Wang.
"Bangunlah, aku tahu tujuanmu Jendral. Jadi aku akan mengatakan seluruh cerita untukmu".
__ADS_1
Jendral Wang tertunduk dan bersiap mendengar cerita dari Kaisar dan beberapa Saksi mata yang menyaksikan kematian Wang Feying.
Kaisar Bai yang hari ini baru tiba setelah perjalanan dari Negara Ba mau tidak mau mengurungkan niat istirahatnya demi Jendral Wang. Dia bercerita keseluruhan cerita tetapi tidak menceritakan tentang niat dihidupkannya kembali oleh Silas, karena di dalam surat Pangeran Silas sudah menjelaskan untuk tidak memberitahu Jendral Wang.
Setelah selesai bercerita, Jenderal Wang tangisannya pecah dan terduduk lemas. Para bawahannya membantunya untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Karena putrimu berjasa menyelamatkan Silas, jadi aku akan mengirimkan hadiah ke kediamanmu. Dan kau akan di promosikan nantinya Jendral Wang". Ucap Kaisar kemudian berhasil membuat Jendral Wang berhenti menangis dan bersujud di depan Kaisar mengucapkan terimakasih .
Jendral Wang pun kembali untuk menyiapkan pemakaman Sang Putri kesayangannya.
.....
Di Kota Suwan Pagi hari...
Leon pun sudah kembali di tempat Pangeran Silas berada, di sana Pangeran Silas tengah termenung menatap awan yang semakin terang karena matahari perlahan muncul di ufuk timur.
"Yang Mulia,". Sapa Leon.
"Kau kembali". Singkat Silas.
"Benar Yang Mulia, aku sudah melakukan semua tugas". Ucap Leon.
"Baik Yang Mulia, alangkah baiknya anda pergi sarapan terlebih dahulu".
"Ya,mari pergi". Singkat Pangeran Silas yang sejak tadi tanpa ekspresi apapun.
Leon hanya memilih diam saat melihat Masternya begitu terlihat sedih. Apakah dia benar benar jatuh untuk Wang Feying? entahlah Leon tidak mau terlalu memikirkannya.
Setelah selesai sarapan, Mereka berdua pamit undur diri untuk mengikuti seleksi di Akademi Langit Suang. Setelah mendapat ijin dari Pak Tua Jun Li pun mereka segera pergi Menuju Akademi.
"Leon, apakah Feying sudah di makamkan?". Tanya Silas.
"Kemungkinan hari ini Yang Mulia". Jawab Leon.
"Ambil raganya dan bawa kembali".
"Tapi Yang Mulia Bukankah kau ....".
"Tidak ada penolakan, malam nanti kita akan melakukan pembangkitan. Setelah kau menemaniku seleksi, kau pergilah mengambil raga itu ".
"Baik Yang Mulia". Ucap Leon akhirnya memilih menurut kepada Masternya.
__ADS_1
Mereka berjalan sedikit jauh dan akhirnya menemukan Akademi Langit Suang yang sudah di padati oleh para calon murid.
Saat mereka memasuki kerumunan untuk menunggu giliran, tak sengaja melihat Putri Liena Dan Pangeran Bupati yang baru keluar dari halaman belakang tengah berbincang Ria . Mereka terlihat semakin akrab dan semakin dekat, membuat Pangeran Silas marah sampai ke ubun ubun tetapi masih ia tahan karena tidak ingin menjadi pengacau sekarang.
"Lihat saja, aku akan menghancurkan kedekatan kalian. Dan pastinya aku akan membunuhmu Rong Bai!!". Batin Pangeran Silas.
.....
Setelah keluar dari Akademi, Liena Sue meminta Sang kakak untuk mencarikan Kedai makan terlebih dahulu, karena sudah waktunya untuk makan siang.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka menemukan sebuah kedai makan yang cukup besar dan Ramai dan akhirnya mereka memutuskan untuk memasuki Kedai.
"Wahh, Makanan laut.. Kakak pesankan aku makanan laut yang pedasssssss". Ucap Liena Sue yang begitu antusias.
"Baiklah, tapi jangan terlalu pedas ya".
"Tidak, pokoknya yang super pedasss kakak".
"Tidak, Apa kau lupa kau paling tidak bisa kebanyakan makan pedas!!!". .
"Tapi Kak....". Rengek Liena Sue.
"Kau pesankan saja Kak Bian, nanti aku juga akan membantunya makan". Ucap Rong Bai menengahi .
"huh, baiklah. Kalian naiklah ke lantai atas yang lebih tenang". Ucap Bian Sue akhirnya lebih memilih mengalah.
Pelayan mengantar Rong Bai dan Liena Sue ke Lantai atas sebagai tamu VIP, sedangkan Bian Sue memesankan makanannya di lantai bawah.
Setelah Selesai memesan makanan Bian Sue pun segera menyusul Liena Dan Pangeran Bupati yang sudah terlebih dahulu naik ke lantai atas.
Di Lantai atas mereka bisa melihat pemandangan Pusat Kota Suwan yang cukup ramai, Liena Sue sangat antusias ketika ia mendongakkan kepalanya di jendela untuk melihat banyak sekali pedagang yang berjajar rapi tengah memerkan dagangannya.
"Ah Rong, nanti belikan aku kue bulan di sana, atau Tanghulu super besar itu". Rengek Liena Sue.
"Baiklah, nanti akan ku belikan". Jawab Rong Bai sambil tersenyum hangat.
"Memang perut kecilmu bisa menampung semua itu ?". Ejek Bian Sue yang tiba tiba memasuki Ruang Makan mereka.
"Kau lihat saja nanti Kak... Huh". Ucap Liena Sue yang kemudian memalingkan wajahnya berpura pura marah.
Bian Sue dan Rong Bai pun terkikik geli melihat tingkah Liena Sue yang merajuk terlihat sangat imut. Berbeda ketika dia di hadapkan oleh Musuh atau bahaya , yang terlihat Dingin dan acuh tak acuh.
__ADS_1