Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Kematian Nyonya Cao.


__ADS_3

Ular yang di lemparkan Nyonya Cao kini tepat mengenai leher Liena Sue lalu menggigitnya. Liena Sue memang sengaja membiarkan ular itu menggigitnya walaupun dia kebal terhadap semua racun tapi kali ini ia membuat wajahnya pucat dan berpura pura pingsan karena racun.


"Nona,, Tuan Cao tolong Nona terkena racun ular itu Tuan" . Ucap Yuri memprovokasi Cao Feng.


"Kau!!! Kenapa kau melakukan ini!! Cepat panggil tabib". Teriak Cao Feng.


"Kenapa kau membela J*l*ng itu!! Bukankah dia hanya seorang gadis pengembara yang tidak jelas latar belakangnya!!". Teriak Nyonya Cao.


"Tutup Mulutmu!!! Cepat Seret Nyonya Cao cambuk dia Lima puluh kali!!".


"Baik Tuan". Ucap prajurit di dekat pintu.


" Tidak... Tidak ... Kau tidak bisa menghukumku Cao Feng!! Kau tidak berhak". Teriak Nyonya Cao.


"Cepat Seret dia!!".


Para Prajurit kekar itu pun menyeret paksa Nyonya Cao , sehingga Nyonya Cao meronta ingin di lepaskan.


"Tuan, tolong lepaskan Nyonya. Biarlah Pelayan ini yang menggantikan Nyonya di Hukum.. Kumohon Tuan ". Ucap Bibi Lan pelayan Nyonya Cao sambil bersujud di depan Cao Feng.


"Siapa Nyonyamu!!! Mulai Sekarang Nyonyamu akan ku turunkan sebagai selir dan Li Li akan menjadi Nyonya Baru keluarga Cao!".


"Tuan Kumohon jangan!! Tolong hukum saya saja Tuan". Ucap Bibi Lan masih dengan bersujud.


"Tidak!! Kau tidak bisa menggantikanku dengan perempuan J*L*ng itu !! Kau tidak Bisa!!". Teriak Nyonya Cao dari luar tenda.


"Kalian cepat pukul Nyonya kalian!! Aku sudah muak dengan semua kejahatannya selama ini". Perintah Cao Feng.


Bibi Lin yang tidak Bisa berbuat apa apa kini tiba tiba menabrakkan dirinya ke pilar di sampingnya hingga mati, karena sudah di pastikan Nyonyanya akan mati karena 50 pukulan.


Tak lama kemudian Tabib pun tiba dan langsung memeriksa Li Li.


Beberapa pelayan bertugas untuk mengurus mayat Bibi Lan, dan sebagian mengurusi Mayat Nyonya Cao yang sudah meninggal padahal baru tiga puluh pukulan.


"Tuan, Sebaiknya Nona ini di bawa ke ibukota untuk mendapatkan tabib terbaik. Takutnya di perbatasan tidak ada herbal yang bisa menyembuhkannya".


"ck tidak berguna!! Cepat pergilah sebelum aku membunuhmu!!".


"Ba..Baik Tuan". Ucap Tabib itu ketakutan kemudian pergi meninggalkan Cao Feng yang begitu menyesal.


"Cao Feng, kau tak perlu khawatir. Aku akan baik baik saja". Ucap Li Li dengan wajah pucat dan lemah kini mulai membuka matanya.


"Tidak, kumohon.. Kau harus sembuh dan menjadi Nyonya Cao yang baru". Ucap Cao Feng sedih.

__ADS_1


"Aku akan.. Yang terpenting kau harus hidup lebih baik. Dan jangan serakah akan kekuasaanmu".


"Baik.. Aku sudah memutuskan. Kau harus ke ibukota!!". Ucap Cao Feng dengan mantap.


"Tidak perlu". Tolak Li Li.


"Kau tidak bisa menolak!! Ini perintah". Jawab Cao Feng sambil tersenyum pahit.


"Baiklah". Jawab Li Li pasrah.


Cao Feng kemudian menyiapkan Kereta dan beberapa pengawal untuk mengawal Li Li ke Ibukota, setelah semua siap Cao Feng mengantar sendiri Li Li keluar sari pintu Kamp.


Li Li atau Liena yang berada di dalam Gerbong kini sedang memastikan bahwa dia meninggalkan Kamp Cao Feng, setelah dirasa benar sudah cukup Jauh Liena Meminta mereka untuk berhenti.


"Nona, kenapa kita berhenti!! Bukankah Tua Bangka itu menyuruh kita ke Ibukota". Ucap Salah satu pengawal dengan nada Jengkel .


"Sst jangan bicara keras keras, nanti kalau bawahannya ada yang mendengar kita".


"Huhh menyebalkan".


Ucap mereka saling bersahutan. Liena Sue pun keluar dengan wajah yang sudah ia cuci di dalam kereta bersama Yuri.


Alangkah terkejutnya salah satu dari mereka yang mengetahui siapa sosok yang baru saja keluar dari kereta.


"Sst, kalian rahasiakan ini. Bukankah Kakakku sudah memberitahu teman teman kalian?" Sahut Liena Sue.


"Benar Jenderal Putri, Putra Mahkota sudah memberitahu garis besarnya kepada Jenderal ".


"Kalau begitu bersiaplah kita harus merebut Kamp. Sepertinya Penghianat di pihak kita yang memijaknya cukup banyak jadi kalian harus berhati hati".


"Tentu Yang Mulia" Ucap mereka serentak.


...


Di tempat Lain, Pasukan pegasus akhirnya Sampai dengan Kaisar yang memimpin di depannya. Bian Sue yang melihatnya kemudian memberikan Singal agar mendarat di tempat yang telah di tentukan.


Tak lama dari tempat lain Liena datang dengan beberapa pengawal.


pakaian yang serba Hitam dengan Kedua pedang dua matanya yang berada di punggungnya membuat Liena Sue terlihat gagah walaupun dia seorang wanita.


"Bagaimana Kak? ". Tanya Liena Sue.


"Semua sudah siap, Ayah kita kini berada di tempat persembunyian. kita akan menyergap pukul sembilan malam Nanti". Jawab Bian Sue.

__ADS_1


"Baik kak, kak apakah kau mempunyai makanan. Huh aku lapar sekali setelah memainkan banyak sandiwara".


"Masuklah ke tenda, para pelayan akan membawakan mu makan malam".


"Baiklah Kak.. Aku akan mengisi perut terlebih dahulu sebelum berperang".


Liena Sue pun melenggang memasuki Tenda dengan Santainya, ia duduk di meja sembari menunggu Makanan di sajikan.


Setelah makanan di sajikan Liena Sue tidak sungkan untuk memulai makan malamnya bersama Yuri di sampingnya.


Setelah selesai memakan makanan yang berat, Liena kini tengah mencicipi Sup matahari yang berada tidak jauh dari tempat ia duduk.


"Hummm.. Rasa ini sepertinya sangat Familiar ". Gumam Liena Sue sambil terus menyeruput sup matahari itu.


Saat sendokan kelima, tiba tiba ingatan asing melintas di kepalanya sehingga membuat ia merasa kesakitan dan memegang kepalanya .


"Yang Mulia, apakah kau baik baik saja?". Tanya Yuri Khawatir, namun Liena Sue hanya melambaikan tangannya.


Ingatan ingatan tersebut meljntas dengan cepat sehingga memenuhi pikiran Liena Sue.


"Li Na? Siapa Li Na". Gumam Liena Sue. Sambil memegangi kepalanya.


Sedangkan di luar jendela berdirilah sosok lelaki tampan yang tengah memperhatikan Liena Sue.


"Ternyata kau memang Rengkarnasi Li Na". Gumam Pria itu yang tak Lain Adalah Kai Yuwen.


"Tuan muda, bubuk pengingat sudah saya masukkan ke sup matahari Nona Liena ". Ucap Salah satu pelayan yang menghampiri Kai Yuwen.


"Terimakasih. Ini ambil upahmu, dan aku akan Pergi dulu". Ucao Kai Yuwen kemudian menghilang setelah memberikan koin kepada pelayan tersebut.


Di dalam tenda Liena masih saja memegangi kepalanya, hinggaYuri yang tak tahan kini memanggil Bian Sue dan tabib.


"Kenapa bisa sakit kepala?". Tanya Bian Sue kepada Yuri.


"Tidak tau Yang Mulia. Tiba tiba setelah makan Sup matahari Yang Mulia Putri langsung sakit kepala ".


"Cek sup nya terlebih dahulu , Tolong tabib".


"Baik Yang Mulia". Jawab Tabib itu kemudian mengecek Sup nya terlebih dahulu .


"Sup nyaa baik baik saja Yang Mulia, tidak ada racun apapun. Mungkin Yang Mulia Putri mempunyai alergi makanan yang diolah di dalam Sup". Jelas Tabib.


"Sepertinya dia bukan orang pemilih, Sudah lupakan sekarang cek Liena ".

__ADS_1


Tabib itupun memulai memeriksa Liena melalui pergelangan tangannnya.


__ADS_2