
Setelah menunggu sedikit lama, makanan yang mereka pesan pun sudah datang. Para pelayan dengan bergiliran menata makanan di meja dengan perlahan dan rapi.
Liena Sue yang sudah lapar sejak tadi kini tidak bisa menahan godaan yang berada di depannya, apalagi banyak makanan laut yang di pesan dengan rasa pedas.
"Makanlah perlahan, jangan sampai tersedak". Kata Rong Bai sembari memberikan daging ikan pedas di piring Liena Sue.
"Tentu". Singkat Liena yang kemudian memulai kegiatan makan siangnya yang sudah sedikit telat.
"Dasar, tukang makan". Gumam Bian Sue yang masih jelas di dengar oleh Liena Sue.
Liena tidak menggubris ucapan Bian Sue, yang ada di matanya hanyalah makan pedas favoritnya.
Mereka akhirnya memakan hidangan dengan tenang tanpa ada yang berbicara sedikitpun.
Dilihat dari cara makannya, Liena Sue jauh dari kata seorang Putri sebuah Negara yang terkenal sopan santunnya. Tetapi dengan kelakuan dia apa adanya seluruh keluarga sangat menyayanginya apalagi Kakak kandungnya Bian Sue , dia adalah Garda terdepan setelah Ayahnya jika Liena Sue di ganggu.
Liena Sue yang makan terlalu cepat sehingga membuat muka cantiknya terlihat belepotan seperti anak kecil, Rong Bai yang melihatnya pun mengulurkan sapu tangannya untuk membersihkan wajah Liena dengan perlahan.
Liena Sue terkejut mendapati wajahnya yang tiba tiba di usap oleh Rong Bai, sehingga matanya tak sengaja melihat wajah Rong Bai yang begitu dekat.
Jantung Liena perlahan semakin ingin meloncat keluar, apalagi wajah Liena Sue yang sudah di tebak seberapa merahnya karena merona.
Tak sengaja Bian Sue menyadari kedua orang di depannya atau tepatnya sepasang kekasih di depannya, kini ia mencoba membuat suasana canggung agar segera terpecahkan.
"Ehemmmm..... Huhh panas sekali cuacanya". Ucap Bian Sue yang pura pura kepanasan.
Keduanya kini terperanjat kaget kemudian kembali duduk ke posisi masing masing dengan salah tingkah.
"Dasar, yang baru di mabuk cinta.. Huhh tidak menoleh diriku sedikitpun.. Astagaaa.. Ya Dewa tolong berikanlah Hambamu pasangan...".
"Hahahah Kakak, kau ini apa apaan sih...". Sahut Liena sambil tertawa melihat kakaknya.
"Aku selalu di acuhkan , alangkah lebih baik aku mempunyai pasangan juga kan?". Ucap Bian Sue.
"Kau benar kakak, kalau begitu ayo kita berkeliling kota untuk mencarikan mu pasangan". Ucap Liena Sue yang diangguki Rong Bai.
"Memangnya ada?". Tanya Bian Sue yang begitu polosnya.
"Hahahahah, kita lihat saja nanti".
__ADS_1
Mereka akhirnya menyelesaikan makananya dan melanjutkan berkeliling kota Suwan untuk melihat lihat.
"Apa kau ingin membeli Kue bulan dan Tanghulu Putri?". Tanya Rong Bai saat menemukan lapak makanan itu.
"Tentu, belikan aku dua tanghulu dan sepuluh Kue bulan yaa". Jawab Liena yang begitu antusias.
"Kau masih ingin makan kue bulan sebanyak itu?". Tanya Bian Sue.
"Tidak, itu untuk ku bawa pulang. Yuri sangat menyukainya". Singkat Liena .
Bian Sue pun menganggukan kepalanya mengerti, pasalnya adiknya tadi sudah makan cukup banyak melebihi porsinya.
"Apa kau sudah mendengar berita Wang Feying Putri tertua Jendral Wang sudah mati?". Tanya Bian Sue.
"Belum kak, dari mana kau mendengarnya?".
"Dari orang orang kota".
"Kenapa orang orang kota tahu dengan itu?". Tanya Liena Sue.
" Para Pedagang dari Negara Gu yang bilang". Jawab Bian Sue.
"Apa mungkin tadi Aura membunuh itu?.....". Gumam Liena Sue sambil mengetuk dagunya..
"Mark, kemarilah".
"Iya Yang Mulia".
"Selidiki Silas, sepertinya dia berada di Kota Suwan. dan jangan lupa selidiki Leon Bawahannya".
"Baik Yang Mulia". Mark pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Memang kau melihat Silas Si*lan itu Ah Rong?". Tanya Liena Sue.
"Sepertinya begitu, bagaimana kita kembali lebih cepat dan membicarakan di Mansion".
"Yah Kau benar Rong Bai, kita harus kembali. Sepertinya Silas akan bergerak malam ini". Ucap Bian Sue yang mengiyakan ucapan Rong Bai.
Mereka akhirnya pun segera kembali Ke Mansion untuk menunggu laporan dari Mark dan bawahannya tentang Silas yang menurut Pangeran Bupati dia berada di Kota Suwan.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup lama, tak sengaja Bian Sue seperti melihat sosok Silas di Kediaman Pak Tua Jun Li dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang di dalam kediaman yang sepertinya adalah Pak Tua Jun Li sendiri.
"Kenapa Kak?". Tanya Liena Sue.
"Sepertinya memang benar Pangeran Silas di kota Suwan". Jawab Bian Sue yang kemudian melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
Liena Sue yang bingung dengan ucapan Sang kakak kini hanya bisa mengikutinya dengan banyak pertanyaan di benaknya .
Setelah sampai di Mansion Mereka membersihkan diri masing masing dahulu. Setelah selesai mereka berkumpul Di Ruang Tamu untuk membahas masalah tadi.
"Mari kita mulai pembicaraannya, Rong Bai kau mulai dulu". Perintah Bian Sue .
"Baiklah... tapi aku harus memastikan setelah Mark mendapatkan informasi". Jawab Rong Bai.
"Kalau begitu biarkan aku dulu, Tadi sewaktu kita berjalan pulang dan melewati Rumah Pak Tua Jun Li aku melihat Silas di depan mansion sedang berbicara dengan seseorang". Ucap Bian Sue dengan pandangan lurus kedepan, mengingat ingat apa yang ia lihat.
"Pak Tua Jun Li, Siapa itu kak?". Tanya Liena Sue.
"Dia adalah mantan Kultivator terlarang yang kini tinggal di pusat kota. Dia sudah lama mengabdikan diri pada Kota Suwan sebagai salah satu Kultivator Kuat yang melindungi kota". Terang Bian Sue.
"Lalu mengapa Silas berada di sana?". Gumam Rong Bai.
"Entahlah, kita sepertinya tetap harus menunggu bawahan mu lebih jelasnya". Jawab Bian Sue .
Tak lama kemudian muncullah Mark dan kedua bawahannya , mereka tengah berlutut di depan ketiga anggota kerajaan tersebut.
"Salam Yang Mulia". Ucap mereka bertiga.
"Bangunlah dan ceritakan apa yang kalian dapatkan ". Perintah Rong Bai.
"Memang benar Pangeran Silas berada di Kota Suwan Yang Mulia, dia kini tengah berada di rumah yang katanya Pak Tua Jun Li. Setelah aku menyelinap ke dalam, aku melihat Mark tergesa gesa pergi dan mereka berdua mengikutinya. Leon pergi menggunakan token teleportasi, karena kami tidak mempunyainya jadi kami hanya menunggu di tempat Pangeran Silas. Setelah Leon kembali dia membawa Mayat Wang Feying ke tempat Pak Tua Jun Li di atas altar . Setelah itu kami tidak bisa melihat apa yang terjadi Yang Mulia, tiba tiba sebuah penghalang berwarna hitam muncul". Jelas Mark Panjang lebar.
Mereka bertiga sempat berpikir apa yang akan di lakukan Silas di kediaman Pak Tua Jun Li itu, hingga mereka terperanjat kaget saat mendengar ledakan yang sepertinya dari Rumah Pak Tua Jun Li.
"Apa itu ledakan? Sepertinya dari sebelah sana". Ucap Liena Sue.
"Tunggu, ada cahaya hitam di sana dan mengarah pada Hutan Kematian Utara Kota Suwan". Ucap Bian Sue.
"Kita harus kesana, mungkin itu berhubungan dengan Silas". Ucap Rong Bai.
__ADS_1