
Setelah selesai menata kembali dari masalah, Kaisar Sue dan yang lainnya memutuskan kembali ke Ibukota karena Pernikahan Bian Sue yang tinggal empat hari lagi.
Liena Sue dan Bian Sue kini kembali dengan bawahan dengan menggunakan Mantra teleportasi yang sudah di siapkan. Sedangkan Kaisar kembali menunggangi Pegasus bersama puluhan pasukan Pegasus lainnya.
Karena mantra teleportasi hanya dua lembar , jadi mereka harus berhenti dua kali sebelum melakukan teleportasi selanjutnya. Itupun tidak langsung sampai di gerbang istana melainkan di Gerbang Ibukota .
Semua Rakyat tengah berjejer rapi menyambut kedatangan Putra Mahkota dan Rombongan yang tak lama kemudian di susul Rombongan Kaisar Sue.
Setelah sampai Di istana, Liena Sue yang sangat merindukan Sang ibu pun bergegas berlari setelah turun dari Kudanya menuju Istana Sang ibu yang tak jauh dari Gerbang utama.
"Ibu.....". Teriak Liena Sue saat sampai di pintu masuk Istana ibunya.
Tanpa Menunggu Jawaban, Liena Sue langsung memasuki Kamar ibunya kemudian memeluk Sang Ibu yang tengah duduk sambil meminum teh.
"Ehh Putri ibu sudah pulang". Ucap Permaisuri setengah terkejut sehingga menumpahkan tehnya di punggung anaknya.
"Aku rindu ibu".
"punggungmu basah sayang, Cepat bangun dan ganti baju". Sahut ibunya.
"Aku tidak apa apa ibu.. Hanya basah tidak panas ataupun terluka". Jawab Liena Sue dengan manja.
"Ehemmm". Suara dehaman seorang pria berhasil mengagetkan Liena Sue yang masih dengan erat memeluk ibunya.
"Ibu, Apakah kau mendengar Suara Aneh?". Tanya Liena Sue dengan ekspresi lucunya.
"Tidak,, Ibu tidak mendengar". Jawab Ibunya sambil menahan tawa, Hingga Dehaman itu terdengar lagi.
"Eheeeemmm".
"Nahh, apakah ibu mendengarnya?". Tanya Liena Sue lagi.
"Tidak". Jawab Sang ibu yang masih menahan tawanya.
__ADS_1
"Ehh , ibu lebih baik kita cari pendeta hebat. Sepertinya Istana Ibu ada Roh jahatnya". Ucap Liena Sue dengan polosnya yang masih saja memeluk sang ibu .
"Memangnya calon suamimu ini adalah titisan Roh Jahat?". Ucap seorang Pria sambil merajuk.
Liena Sue pun menoleh kearah suara tersebut, alangkah terkejutnya ketika mendapati pemilik Suara adalah Rong Bai yang ternyata duduk berseberangan dengan Sang Ibu.
Liena Sue melotot tak percaya ditambah sedikit malu, dia pun tertawa sembrono kemudian melepas pelukannya dan duduk di sebelah ibunya.
Sang Ibu pun tertawa lepas saat melihat ekspresi Liena Sue yang tak beraturan karena malu, Begitupun Rong Bai yang tersenyum sambil sesekali terkekeh melihat ekspresi Liena Sue yang sudah merah padam bak memakan makanan pedas.
"Ibu, kenapa kau tidak bilang kalau ada tamu?". Tanya Liena Merajuk.
"Kau tidak memberi ibu kesempatan bicara Na'er". Jawab Sang ibu sambil mencubit hidung putrinya karena gemas.
" Sepertinya Aura kehidupanku tidak tercium sama sekali di hidungmu Na'er". Sahut Rong Bai.
"Diam kau!! Lagi pula, Kau tidak memberiku kabar. Jadi juga bukan salahku tidak mengetahui kedatanganmu". Ucap Liena Sue merajuk.
"Sudahlah jangan banyak merajuk, Liena kau bisa berjalan jalan dengan Rong Bai atau beristirahat terlebih dahulu. Tapi jangan ganggu pelayan yang sedang menyiapkan pernikahan Kakakmu ". Ucap Permaisuri menengahi.
"Kalau begitu biarlah Rong Bai yang mengantarmu".
"Hmm baiklah, Kalau begitu Kami pamit dulu Ibu".
"Pergilah".
Liena Sue dan Rong Bai pun segera pergi meninggalkan Istana Sang Ibu dan segera kembali Ke istananya untuk beristirahat.
Di perjalanan Liena dan Rong Bai terlihat diam tidak ada yang memulai pembicaraan, Liena Sue terlihat senyum senyum sendiri tetapi tidak berani melihat ke arah Rong Bai, malahan dia berjalan lebih cepat agar tidak terlihat oleh Rong Bai.
Sedangkan Rong Bai selalu memperhatikan Liena Sue dari belakang, Bahkan Wajahnya memerah sampai ke kuping pun Rong Bai tahu. Rong Bai terlihat terkekeh pelan melihat Liena Sue yang sudah cukup lama tidak ia temui kini tengah diam diam tersipu malu walaupun dia tidak melakukan apa apa.
Saking Fokusnya memandangi Liena, Rong Bai sampai tidak memperhatikan pilar besar yang tak jauh di depannya.
__ADS_1
Dugggg...
Suara keras Rong Bai menabrak Pilar berhasil menghentikan langkah Liena Sue yang kemudian menoleh ke arah Rong Bai yang tengah mengusap dahinya karena sakit dan satu tangannya memegang pilar itu.
"Pfft....Hahahhahaha". Suara Tawa Liena Sue pecah ketika melihat Rong Bai meringis kesakitan karena kebodohannya.
"Kenapa kau tertawa Na'er?". Tanya Rong Bai masih mengusap usap dahinya.
"Hhhaaha, Kau sungguh lucu sekali Ah Rong. Lihatlah dahimu yang benjol itu, Apakah Pilar besar itu terlihat transparan di matamu?''. Jawab Liena Sue yang masih tertawa terbahak bahak.
Untung saja tidak ada orang lain di sana , Sehingga Rong Bai tidak akan terlalu malu .
"Benarkah? apakah benjol, Huhhh siapa pula yang memasang Pilar besar di depanku!! Sungguh tidak tahu sopan santun". Runtuk Rong Bai.
Liena Sue malah bertambah terbahak bahak ketika mendengar Rong Bai bicara, Bukankah dia sendiri yang tidak lihat jalan lalu kenapa malah menyalahkan yang memasang Pilar.
"Hahahah, Dasar Bodoh. Kau sendiri yang tidak melihat jalan, Malah menyalahkan Si pembuat pilar". Ucap Liena Sue yang kemudian menghampiri Rong Bai yang masih mengelus elus dahinya.
Liena yang penasaran dengan benjolan yang cukup besar di dahi Rong Bai yang sudah mulai membiru.l, Ia pun memencet cukup keras benjolan sehingga Rong Bai berteriak kesakitan.
"Aww kau ingin membunuhku Na'er?". Ucap Rong Bai sambil beringsut mundur.
"Hehe maaf, Ayolah aku akan menyembuhkan benjolannya itu. Ayo percepat langkahmu dan aku akan mengobatinya di Istanaku". Ucap Liena Sue kemudian menggandeng tangan Rong Bai agar lebih cepat sampai di Istana nya.
Rong Bai yang di gandeng hanya pasrah , bahkan ia masih saja memperhatikan wajah Liena Sue dari samping dan sesekali tersenyum.
Sesampainya di Istana Liena, Rong Bai di ajaknya ke Gazebo dekat Kolam Ikan Samping Kamarnya. Ia meminta Para Pelayan untuk menyiapkan Air es dan Handuk untuk mengompres benjolan itu.
Sebenarnya Rong Bai bisa dengan mudah menyembuhkannya, namun ia ingin Liena Sue merawatnya.
Dan Sebenarnya Liena Sue bisa dengan mudah menyembuhkannya juga, namun dia berniat ingin merawatnya. Sehingga mempunyai waktu cukup dengan Kekasihnya itu. (Punya niatan sama, Sehati banget ya man teman).
Setelah sampai bahan bahan yang di butuhkan, Liena Sue pun segera merendam sebentar handuk ke dalam air es kemudian mengambilnya dan mengompres dengan telaten sambil sesekali meniup benjolan itu. Sebenarnya dia tidak hanya meniup biasa, melainkan dengan sedikit energi Internal.
__ADS_1
Rong Bai yang selalu saja memperhatikan Wajah Liena Sue kini terlihat tersipu bahkan tatapannya semakin intim.
Liena Sue yang menyadari sedang di perhatikan pun ikut menatap kembali, sehingga kedua tatapan mereka saling bertemu tepat saat Liena masih meniup dahi Rong Bai.