
Liena Sue dan Rong Bai benar benar terkejut dan tidak bisa mengelak serangan dari Wang Feying yang terlalu mendadak.
Namun nasib baik masih menyelimuti mereka, Pak Tua Jun Li pun telah toba dan menghalau serangan Sengatan jatum beracun itu, sehingga mengenai pohon di belakangnya sehingga menjadi mati seketika.
"Apa kami terlambat?" Tanya Bian Sue.
"Hampir". Ucap Rong Bai dan Liena bersamaan sambil terengah engah.
"Mari kita selesaikan Pak Tua Jun Li, kalian berdua beristirahatlah. oh ya gunakan cairan ini untuk melepaskan Silas itu". Ucap Bian Sue sembari memberikan cairan di dalam botol porselen kecil itu.
"Baik". Singkat Liena Sue.
"Ingat, satu tetes di atas jaring. jangan sampai mengenai kulit". Teriak Bian Sue.
"Yaa, kau tenang saja". Balas Liena Sue.
" Apa kau sudah meminum pil yang kuberikan tadi Bian Sue?". Tanya Pak Tua Jun Li.
"Sudah, dan aku sudah siap ".
"Baiklah, mari kita serang dari dua arah dengan belati emas kita". Perintah Pak Tua Jun Li.
Bian Sue pun hanya mengangguk, kemudian ia terbang menuju ke sebelah kanan Wang Feying sedangkan Pak Tua Jun Li berada di sebelah kiri Wang Feying.
"Ck, kalian hanya makhluk lemah!! Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku dengan cara bodoh seperti itu". Wang Feying kini meremehkan mereka berdua, walaupun begitu dia juga tetap dalam kewaspadaan yang baik .
Pak Tua Jun Li menyerang dengan gesit dari sebelah kiri bersamaan dengan Bian Sue dari sebelah kanan, membuat Wang Feying mau tak mau harus mengelak ke belakang. Tapi tanpa di duga ke dua orang itu mengubah arah serangannya saat akan sampai dari target sehingga Wang Feying tidak siap akan serangan dadakan mereka.
Pak Tua Jun Li menusukkan belati emas tepat di dadanya, sedangkan Bian Sue memotong gelang merah yang di gunakan Wang Feying secara bersamaan.
Dan Brugg..... Wang Feying akhirnya tumbang, tubuhnya menguap hanya menyisakan tulang belulang yang sudah berwarna setengah menghitam.
Dan Jaring yang melilit Pangeran Silas pun sudah menghilang karena cairan yang di berikan Bian Sue tadi.
Jenderal Wang terduduk saat melihat tubuh yang tadinya utuh kini menguap , tangis yang ia tahan akhirnya pecah saat semuanya berakhir. Dia tidak dendam, hanya saja ia menyesal akhirnya putrinya benar benar pergi meninggalkannya .
"Bagaimana keadaanya Yang Mulia?". Tanya Pak Tua Jun Li kepada Kaisar.
"Sudah lebih baik".
"Bagus, mari kita ke kediamanku. Dan aku akan menceritakan kepada kalian". Ajak Pak Tua Jun Li.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti Pak Tua Jun Li ke Mansionnya, Rong Bai memapah Silas bersama sang Ayah. Setelah sampai, Silas segera di rebahkan di Ranjang yang sudah di siapkan.
"Letakkan di sini, aku akan memeriksanya". Ucap Pak Tua Jun Li.
Setelah Pangeran Silas di rebahkan mereka segera mundur kecuali Kaisar Bai yang menunggunya di samping ranjang.
Sedangkan Jenderal Wang lebih memilih kembali lebih awal dengan di antarkan oleh Mark.
"Untungnya racun laba laba itu tidak menyerang organ tubuhnya, hanya kekuatan internalnya yang berkurang". Jelas Pak Tua Jun Li.
"Syukurlah,".
"Kalau begitu mari Bergabung dengan mereka Yang Mulia, Aku akan menjelaskan kepada kalian".
"Baik Tetua".
Mereka pun segera berkumpul di meja besar Ruangan itu, Kaisar duduk di seberang Rong Bai dan lainnya bersama dengan Pak Tua Jun Li.
Pak Tua Jun Li memulai menjelaskan tentang awal mula semuanya bisa terjadi.
Mereka mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Pak Tua Jun Li. Tak ada satupun dari mereka yang berani menyela , walaupun sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang mereka ingin utarakan .
Setelah selesai bercerita baru mereka berani untuk bertanya kepada Pak Tua Jun Li.
"Ya, dia membangkitkan nona Itu tanpa sepengetahuanku. Orang di Kota Suwan Tahu kalau aku sudah tidak menggunakan metode terlarang itu, tapi sudahlah semua sudah selesai".Terang Pak Tua Jun Li.
"Saya selaku ayahnya meminta maaf kepadamu Tetua Jun Li, Saya gagal membesarkan Silas". Ucap Kaisar Bai sembari menoleh ke arah Silas yang masih tertidur.
"Lupakan Saja Kaisar, dia pangeran yang begitu ambisius ". Ucap Pak Tua Jun Li.
Kaisar Bai menghembuskan nafasnya dengan Berat, pasalnya Silas akhir akhir ini tengah melakukan banyak masalah dan kesalahan. Dia Selaku Kaisar harus bersikap adil walaupun itu anaknya sendiri.
"Lebih baik kalian istirahat saja, Kamar tamu sudah di siapkan. Para pelayan akan mengantar kalian ke kamar masing Masing".
Mereka pun segera pergi mengikuti Para Pelayan ke kamar tamu untuk beristirahat, sedangkan Kaisar Bai masih menunggu Pangeran Silas yang belum sadar.
.....
Hari terakhir Seleksi awal telah selesai, saat ini adalah Seleksi kedua yang bakal di saring menjadi Lima Puluh Murid Akademi Luar. Pangeran Silas yang sudah lolos di Seleksi pertama, kini dia akan melakukan seleksi kedua yang kali ini Kaisar Bai sendiri yang menghadiri untuk melihat dirinya .
Pangeran Silas tampak begitu bersemangat karena impian selama ini perlahan tercapai, impian dimana Sang Ayah yang meluangkan Waktu untuk bersamanya.
__ADS_1
Tak Hanya Kaisar Bai, Rong Bai, Liena Sue dan Bian Sue pun juga ikut hadir di tribun untuk melihat Pangeran Silas.
Sejak kejadian Lusa lalu, Pangeran Silas tampak menjadi orang yang sangat berbeda. Kaisar Bai semakin perhatian sehingga membuat Pangeran Silas tersadar akan tingkah buruknya dan meminta maaf kepada orang orang yang telah ia sakiti.
"Ah Rong, bukankah kita harus menemui Tetua Feng?". Bisik Liena Sue.
"Kau benar, Bukankah Bian Sue bilang. Kita akan menghadap Tetua Pertama setelah tengah hari, jadi lebih baik kita menonton Seleksi di sini saja". Jawab Rong Bai.
"Tapi aku bosan...". Rengek Liena.
"Ini, kalau kau bosan"? Ucap Bian Sue memberikan sekantong camilan yang baru ia beli dari depan Akademi.
Liena membuka perlahan dan mulai memakan Camilannya perlahan.
"Ah Rong,a apa kau mau?". Tanya Liena Sue .
"Tidak kau saja".
Waktu berjalan lambat, Seleksi ke dua pun hampir setengah Calon siswa telah tersisih dan hanya beberapa Siswa yang masuk untuk final nanti sore termasuk Pangeran Silas di dalamnya.
Waktu bertemu Tetua Pertama pun sudah tiba, mereka berpamitan dengan Kaisar Bai untuk segera menemui Tetua.
Setelah berpamitan, Bian Sue mengantarkan mereka berdua.
"Panas sekali". Ucap Liena Sue.
"Sebentar lagi kita sampai, hanya beberapa belokan lagi ". Bian Sue menangggapi.
Setelah melewati beberapa lorong akhirnya mereka menemukan pintu gerbang yang bertuliskan Akademi Dalam, Bian Sue mengeluarkan token untuk membuka segel pintu Gerbang.
"Kakak, apakah di Akademi dalam banyak murid seperti di luar sana?". Tanya Liena Sue penasaran.
"Tidak, nanti kau bisa melihatnya". Jawab Bian Sue.
Mereka terus berjalan menyusuri taman bunga dengan kolam yang indah di sampingnya. Setelah melewati beberapa jalan setapak akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan Super megah dengan dua lantai dengan pilar pilar berwarna emas.
Bian Sue mengajak mereka memasuki bangunan itu hingga terlihatlah benerapa orang yang tengah duduk di meja besar termasuk salah satunya Tetua Pertama.
"Salam Tetua Pertama". Bian Sue memberi salam diikuti oleh Liena dan Rong Bai.
"Bangunlah, dan kemarilah duduk di sebelah sini". Jawab Tetua Pertama.
__ADS_1
Terlihat beberapa Gadis di antaranya begitu terpesona melihat Rong Bai, sehingga membuat Liena Sue sedikit kesal di buatnya. Rong Bai yang paham pun segera menggandeng erat tangan Liena Untuk duduk di sampingnya, membuat para gadis itu mendengus kesal terhadapnya.
"Akhirnya kalian datang, Perkenalkan Ini adalah Murid Baru Akademi Dalam . Setelah bertahun tahun, akhirnya kita bertambah dua murid". Ucap Tetua pertama.