Menjadi Pelayan Pangeran Bupati

Menjadi Pelayan Pangeran Bupati
Hari pertama


__ADS_3

Liena Pun menceritakan semuanya kepada mereka yang juga terdengar jelas oleh Kultivator jahat yang diikat tersebut.


"Jadi kau sudah bertemu Roh Murni itu?". Tanya Rong Bai.


"Ya, dan kuharap kalian merahasiakan ini. Aku takut jika ada yang mengetahuinya mereka akan membahayakan kalian".


"Baik, kami akan merahasiakannya". Ucap Bian Sue dan Ji Hua bersamaan.


Kini mereka kembali terfokus pada orang itu , kini giliran Rong Bai yang bertanya kepadanya.


"Apa kau bilang tadi Ketuamu adalah Shilin?". Tanya Rong Bai.


"Ya, apa kau mengenalnya?".


"Kenalan lama, lalu apa yang ia rencanakan sebenarnya?".


"Ck, apa kau tidak mengetahui? Setiap Negara bahkan setiap orang di istana ada mata mata dari Shilin atau lebih tepatnya bekerjasama dengan Shilin. Dan Khususnya di Negara Gu Permaisuri Negara Gu adalah salah satunya, dia melakukan perjanjian kepada Shilin untuk mencapai tujuannya". Jelas orang itu.


"Jadi begitu, Kakak Ipar sepertinya semua ini lebih rumit dari yang kita bayangkan. Lebih tepatnya mereka ingin menaklukkan Benua Tianzi ini , di awali dari Kota Suwan". Ucap Rong Bai.


"Yah, memang sedikit lebih rumit. Bagaimana kalau kita kirim surat ke Ayah masing masing agar mereka waspada kepada orang orang itu".


"Tunggu kak, jika kau mengirimkan surat dengan terburu buru dan tidak membuat rencana maka semua akan memudahkan Kuktivator jahat itu. Jadi lebih baik kita pikirkan rencana kita dahulu". Kata Liena Sue.


"Yah Kau benar Na'er". Jawab Bian Sue.


"Maaf, apa kalian tidak sungkan karena aku disini?". Tanya Ji Hua yang sedari tadi terdiam.


"Kenapa harus sungkan , kakak Ji kau kan akan menjadi keluarga jadi santai saja". Ucap Liena Sue.


"Ehh, tapi...".


"Tidak apa apa, Kau bisa bergabung asalkan jangan bocorkan rencananya". Ucap Bian Sue.


"Baik". Jawab Ji Hua


"Yang Mulia, kita apakan dia?". Tanya Mark .


"Bunuh dia, dan bakar mayatnya ". Ucap Bian Sue dan diangguki oleh Rong Bai.


Setelah mereka selesai mengintrogasi mereka segera ke kamar masing masing untuk tidur, sedangkan Mark menyelesaikan tugasnya untuk membunuh Kultivator itu .

__ADS_1


Liena Sue memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuk tetapi dia tidak bisa memejamkan matanya. Ia membalikkan badannya Ke sana kemari hingga akhirnya ia menemukan Rong Bai di tepi ranjang.


"Apa kau tidak bisa tidur Na'er?". Tanya Rong Bai.


"Ya, sejak kapan kau di sini?".


"Sejak tadi, Kalau begitu mari kita tidur bersama agar kau bisa tidur dengan nyenyak".


"Tidak, tidak perlu kau bisa kembali ke kamarmu Ah rong".


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menunggumu hingga tertidur baru aku akan kembali. Tutup matamu".


Liena Sue pun menutup matanya , dengan perlahan ia tiba tiba mengantuk dan tertidur saat Rong Bai menyentikkan jarinya di depan matanya.


Ketika Liena Sue sudah tertidur, Rong Bai tidak kembali begitu saja melainkan ia memanggil seseorang ke kamar Liena Sue.


"Keluarlah, kau sudah lama bersembunyi". Ucap Rong Bai.


"Hehh, Kau memang selalu peka seperti dulu Rong Bai".


"Katakan apa yang membawa kau kemari Shili?". Tanya Rong Bai.


"Bukankah kau sudah mengetahuinya, aku menginginkan gadis itu". Ucap Shili.


"Hahaha, bukankah dia hanyalah Pionmu saja, bagaimana bisa kau benar benar menyukainya? apa kau lupa tujuanmu itu Rong Bai?". Tanya Shili.


"Aku tidak lupa tujuanku, dan aku tidak menjadikannya Pion melainkan aku akan menjadikannya Permaisuri ku satu satunya. Dan aku peringatkan kau , Jangan kau macam macam denganku apalagi menyakiti Wanitaku. Kau akan tahu konsekuensinya".


"Hahaha kau tenang saja, selama kau memberikanku sedikit darah Murni itu aku akan melepaskannya. Kalau begitu aku akan pergi, dan tunggu hari selanjutnya aku akan menagih Darah itu". Ucap Shili kemudian pergi dengan cepat.


Rong Bai terlihat merenung kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat di mana Liena Sue tertidur, Raut wajah bersalahnya saat melihat Wanita yang ia sayangi ternyata adalah Pion dari rencananya.


Rong Bai merebahkan tubuhnya di samping Liena Sue yang sudah terlelap dari tidurnya, ia memandangi wajah cantik Liena Sue dengan penuh penyesalan.


"Na'er, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Adapun rencana itu, aku tidak peduli lagi". Gumam Rong Bai yang kemudian tertidur di samping Liena Sue


...


Malam Berganti pagi, semua orang Di kediaman Bian Sue kini telah selesai sarapan dan bersiap untuk aktivitas masing masing.


Begitupun Empat orang diantaranya yang akan bersiap memasuki Akademi setelah libur Musim semi berakhir.

__ADS_1


"Hari yang cerah, Beruntung sekali kita pertama masuk tapi sudah di sambut alam dengan begitu cerah". Ucap Liena Sue.


"Yahh, itu memang keberuntungan. Oh Ya kalian nanti akan mengambil kelas apa setelah memasuki Akademi?". Tanya Ji Hua.


"Kami berdua memasuki Akademi dalam Kakak Ji". Jawab Liena Sue.


"Benarkah? Kalau begitu selamat untuk kalian berdua. Akademi dalam adalah tempat terbaik bagi yang berbakat. Dan pastinya kalian pasti akan mempelajari semuanya secara bertahap".


"Kakak Ji, apakah di Akademi dalam kami tidak bisa memilih Alkemis saja atau yang lainnya?". Tanya Liena Sue.


"Entahlah, setahuku mereka di wajibkan harus bisa semua bidang". Jawab Ji Hua.


"Ternyata begitu". Jawab Liena Sue lirih.


Mereka berjalan menuju Akademi Langit Suang yang tidak terlalu jauh dari Kediaman Bian Sue, setelah sampai Ji Hua terlebih dahulu berpamitan untuk melapor ke tempat para guru dan bersiap untuk mengajar.


Sedangkan Ketiga orang itu kini berjalan melewati puluhan murid yang lolos seleksi yang sedang mendengarkan arahan dari para seniornya.


Terlihat Sosok Pangeran Silas yang tengah melambaikan tangannya kepada mereka bertiga, dia tersenyum seperti tidak ada masalah sebelumnya.


"Kenapa dia melambai dan tersenyum kepada kita Ah Rong?". Tanya Liena Sue .


"Itu karena dia sudah menyadari kesalahannya". Jawab Rong Bai dengan enteng.


"Semoga saja". Singkat Liena Sue.


Mereka bertiga berlalu menuju tempat Akademi dalam , sedangkan Pangeran Silas kini tersenyum miris melihat mereka bertiga yang berlalu tanpa membalas lambaian tangannya.


"Apa kau mengenali mereka?". Tanya teman baru silas yang berada di sebelahnya.


"Ya, yang tinggi itu adalah saudaraku. Dan Sisanya adalah Orang yang pernah ku singgung". Ucap Pangeran Silas .


"Kejam sekali mereka tidak mau melihatmu, Huh akan ku hajar jika bertemu dengannya lagi".


"Tidak perlu, mungkin memang hukuman untukku karena membuat kesalahan yang tak terhitung jumlahnya. Jika aku bertemu mereka lagi aku akan meminta maaf untuknya". Ucap Silas dengan Tulus.


"Baiklah aku akan mendukungmu, Yah setiap orang memang mempunyai kesalahan. Dan kau menyadarinya mereka pasti akan memaafkanmu".


"Terimakasih".


Setelah mendengarkan arahan senior akhirnya mereka segera memilih bidang yang akan di ikutinya.

__ADS_1


Pangeran Silas lebih memilih memasuki akademi perang, karena ia berniat melindungi seluruh keluarganya jika suatu hal buruk terjadi .


__ADS_2