
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Plaaaak..
"Tuh mulut, belom aja di cocol sama pup si Cimol" ucap Mentari sambil memukul bibir merah alami suaminya.
"Cukup kepala ku aja ya!" balas Awan yang langsung menarik tangan Mentari kearah sofa.
Gadis itupun menurut dengan berjalan satu langkah di belakang Awan sampai ke sofa panjang yang di peruntukan untuk tamu sang Direktur.
"Ada apa menyuruhku kemari?" tanya Mentari saat keduanya duduk berdampingan.
"Gak ada apa-apa, cuma lagi kangen"
"Kangen mantanmu itu?" tanyanya lagi dengan rasa sekuat hati menahan sesak.
"Iya, aku kangen Lisya. Aku harus apa?"
Awan mendekatkan tubuhnya, ia sandarkan kepalanya di bahu Mentari yang sebenarnya lemas seolah tak bertulang secara mendadak setelah mendengar pengakuan rindu Awan barusan.
"Lupakan dia, jangan siksa dirimu" ucap Mentari.
"Gak bisa, aku terlalu cinta" jawab Awan lirih.
"Tapi sekarang ada aku, istrimu" balas Mentari yang bingung harus bagaimana lagi menyadarkan Awan yang belum juga bisa move on dari sang mantan kekasih.
"Aku tahu, aku Terima kamu hadir dalam hidupku tapi tidak di hatiku, tak apa, kan?"
__ADS_1
Mentari tersenyum, ia mengangguk pelan karna untuk berontak pun rasanya tak mungkin. Ia tahu sejak awal jika pria yang akan menikahinya itu memang masih mencintai wanita lain tapi Mentari tak pernah menyangka jika Awan akan terus menyebut nama masa lalunya sesering ini.
Dan entah sampai kapan ia mampu menyembunyikan sakit hatinya itu di balik senyum dan ke bar-barannya itu.
"Tak apa, aku akan tunggu kamu mau membuka dan mempersilahkan ku masuk tanpa syarat"
"Terimakasih ya, kamu istri terbaik"
Setelah puas memeluk Mentari untuk melampiaskan rasa rindunya pada Lisya, Awan kembali melanjutkan pekerjaannya tapi saat makan siang Mentari justru pamit ingin pulang.
Awalnya Awan menolak, tapi ia ingat saat Valen mengatakan jika ia ada rapat empat puluh menit lagi Awan pun melepas istrinya pergi.
"Kabari aku jika sampai rumah" pesan Awan saat di depan pintu ruang kerjanya.
"Hem, tumben!" ledek Mentari dengan seringai ejekannya.
"Iya, aku akan memberi laporan padamu"
Mentari pergi sambil melambaikan tangan kearah Awan pertanda salam perpisahan, sampai di depan lift khusus ia pun langsung dan berjongkok karna sudah lemas sedari tadi. Sampai ada seseorang yang masuk pun ia tak sadar sama sekali.
"Udah nangisnya?" suara laki-laki sontak membuat Mentari mendongak.
"Kak, Sam!"
"Kenapa? nangisin si Awan kurang kerjaan banget sih" cetus Sepupu suami Mentari tersebut.
"Aku gak apa-apa, Kak Sam jangan bilang padanya kalau aku nangis di lift" Ponta Mentari.
__ADS_1
"Enggak, Paling aku ngadu sama Gajah" sahut Sam dengan nada kesal.
Mentari yang tak paham hanya bisa mengernyitkan dahinya. Pria tampan hampir sempurna itu malah tertawa kecil melihat raut wajah Mentari yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kakak mau kemana?" tanya Mentari.
"Mau pulang, mau ikut?? " tawar Sam.
"Kerumah utama?"
"Iyalah, kemana lagi, tinggalnya aja disitu saking gak bisa jauh sama Gajah" kekeh Samudera.
"Gajah apa sih?"
"Gajah besaaaaaaaaaaal" jawab Sam sambil tertawa, ia keluar lebih dulu saat pintu lift terbuka di bagian lobby yang langsung ke parkiran VVIP.
"Aku boleh liat Gajahnya?" pinta Mentari.
"Tentu, mau kesana?" tawar Sam yang di jawab anggukan kepala oleh Mentari.
.
.
.
Ckckck... sesekali ah bawa kabur bini orang!!!
__ADS_1