Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
13 biji.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Oeeeeeekkk...


Tiga orang yang ada di dekat ranjang pun langsung menoleh kearah pintu tepat dimana Adam kini berada sedang memegang mulut dan perutnya sendiri.


Rasa mual yang begitu hebat seolah sedang di aduk aduk membuat pria baya mantan Mafia itu bolak balik kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya.


"Pih---" Diana bangun dari duduknya dan langsung menghampiri sang suami, begitupun dengan Awan tapi tidak dengan Mentari yang masih berdiri di tempatnya.


"Papih, kenapa?" tanya Awan.


"Gak tau, mual terus dari tadi siang," jawab Adam yang di papah menuju ranjang.


"Hah!" Adam membuang napas kasar saat sudah berbaring dengan tumpukan bantal yang di susun Mentari di punggungnya.


"Aku antar kerumah sakit ya," tawar Awan yang di jawab gelengan kepala.


Pria baya itu memejamkan matanya rapat-rapat sampai membuat Diana sangat khawatir. Sehebat apapun pria itu pernah melukainya rasa cinta tentu yang paling tinggi bertahta.


Awan dan Mentari hanya bisa saling pandang, bingung harus berbuat apa. Semua yang di tawari di tolak mentah-mentah oleh Tuan besar Biantara.


"Papih tak apa, kalian istirahat saja sana ya, Nak" Adam berkata lirih, ia menoleh sekilas dengan senyum kecil di ujung bibirnya yang terlihat pucat.


"Yakin, Pih?"

__ADS_1


"Hem, iya. Papih akan beritahu kalian jika nanti bertambah mual," ujar Adam meyakinkan agar cucu kebanggaannya itu bisa sedikit tenang.


Awan yang pasrah dan melihat Papih nya ingin beristirahat pun membawa sang istri keluar dari kamar. Ia sesekali menoleh kearah belakang untuk memastikan pria baya itu baik-baik saja sebelum menutup pintu.


"Kak, ngapain?" tanya Langit yang ternyata baru datang bersama istrinya- Cahaya.


"Pipih, ngagetin gajah!" pekik Awan sambil mengusap dadanya sendiri, sedang Mentari dan ibu mertuanya malah tertawa kecil.


"Heh, di omelin si Tutut loh, gajahnya di bawa!"


Awan mengusap tengkuknya, benar juga yang di katakan Langit dan jika sepupunya itu mendengar, habis lah kepalanya itu dikempit diketiak.


"Kebetulan kalian sudah pulang, ada yang ingin ku bicarakan tentang hal penting. Awalnya aku ingin membahas ini bersama, tapi Papih sedang tak enak badan," ucap Awan yang membuat kedua orangtuanya penasaran.


"Kita bicara di ruang tengah," balas Langit yang kembali menggandeng tangan istri tercinta.


"Istriku, hamil!" Tanpa basa basi, Awan justru bicara langsung ke inti permasalahannya.


"Apa?!" Langit dan Cahaya yang kaget sampai berteriak secara bersamaan.


"Aku hamil, ada cucu kalian didalam rahimku. doakan kami sehat dan selalu dalam lindungan-Nya ya," ucap Mentari sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Kamu gak lagi bercanda 'kan, Nak?"


Mentari dan Awan menggeleng kan kepala mereka secara berbarengan. Dan itu malah membuat Cahaya semakin senang.

__ADS_1


"Baaaaang, ada bayi" teriaknya antusias. Ia memang ingin sekali hamil lagi. Tapi sayang, sampai detik ini mak othor tak pernah mengizinkannya.


#LierAhπŸ˜”


"Kita punya cucu, dek." Mereka pun langsung berpelukan sampai menitikan air mata haru. Doa dan harapan terus di layangkan keduanya yang sangat mendamba ada tawa dan tangis bocah di kediaman Bantara.


"Awan--" panggil Diana yang tiba-tiba datang, wajah wanita baya itu nampak bingung saat melihat anak dan menantunya masih berpelukan.


"Iya, Mih ada apa?" tanya Awan.


.


.


.


Papih minta kamu manjat pohon kedongdong, dan ambil buahnya 13 biji ya....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ada pemberitahuan ya...


Teteh up novel baru kisah Aurora anak Bumi dan Kahyangan. Ini kemarin udah di Up di sebelah satu rumah sama anaknya, tapi teteh tarik karna alasan tertentu.


Judulnya "Ternyata, Aku bukan istri pertama"

__ADS_1



__ADS_2