
🍂🍂🍂🍂🍂
"Kembalikan dia pada Orang-tuanya jika kamu tak mampu membahagiakannya." tegas Langit yang membuat Awan tercengang.
Wajahnya yang basah karna air mata membuat Cahaya sangat tak tega dan langsung berhambur memeluk putra kesayangannya.
"Enggak, Mih. Aku gak mau balikin Mentari. Dia istriku. Aku gak pernah pukul dia, aku gak pernah bentak dia lagi, aku --"
"Tapi kamu selalu menyebut nama Lidya di depannya. Kamu tahu sehancur apa hati seorang istri saat suaminya menyembut nama wanita lain dengan sangat terang-terangan?" timpal Langit memotong ucapan Awan yang berusaha membela diri.
"Aku masih mencintai Lisya, Pih"
"Kalau begitu lepaskan Mentari, Pipih gak akan larang kamu lagi buat balikan dengan Lisya. Asal Pipih tak melihat Mentari terluka karnamu"
"Jangan, Pih. Jangan buat pilihan yang sulit untuk ku putuskan. Aku sudah berjanji padanya untuk belajar mencintai Mentari asal dia sabar" rengek Awan dengan kedua tangan menangkup di dada, ia benar-benar memohon pada Pipih nya yang memang punya kuasa apalagi jika rencananya itu di dukung oleh Papih juga Appanya.
"Kamu tak bisa mencintai dua wanita sekaligus, Nak" ucap Cahaya. Ia tak bisa bayangkan bagaimana hati Mentari selama ini karna hidupnya sejak lahir sudah menjadi satu-satunya bagi Langit.
"Tolong beri akun sedikit waktu, melepas Lisya aku bisa tapi berhenti mencintainya itu sulit. Perpisahan kami tanpa kecewa kecuali pada keadaan. Mengerti aku, ku mohon"
Awan memeluk Cahaya, ia bagai bocah yang takut kehilangan mainan kesayangannya. Ia meronta dan menangis sesegukan.
__ADS_1
.
.
Sedangkan didalam kamar rawat, satu dokter dan dua perawat belum bisa keluar saat drama perdebatan antara ayah dan anak itu belum juga berakhir. Teriakan Langit cukup menggema padahal pria itu tak pernah sekalipun menaikan nada bicaranya selama ini, dan entah apa yang yang akhirnya bisa membuat Langit melakukan hal di luar kebiasaan.
Ia yang selalu bahagia dalam rumah tangganya tentu ingin juga melihat hal yang sama di dalam pernikahan anak-anaknya. Hidup rukun dan saling menyayangi tanpa harus ada hati lain yang sedang di jaga.
"Udah belum sih? aku harus gimana habis ini?" tanya Mentari yang berbaring di ranjang brangkar pasien rumah sakit.
"Nona tanya saya, saya tanya siapa? drama ini terlalu mendadak bagi saya" jawab dokter tampan yang memiliki lesung pipi di bagian kanan.
"Terus gimana?" tanya Mentari lagi, ia sudah bosan dan segera ingin memukul kepala suaminya.
"Emang belum selesai, Lama amat ya. Abang kayanya terlalu menjiwai peran. Cocok tuh kalo nge lenong" kekeh Reza, dari rekaman yang ia lihat ia sudah bisa puas melihat cucu bungsunya sedang menangis penuh sesal.
"Bagusan dikit, Appa!" protes Samudera.
"Ngintip yuk, De" ajak Reza pada cucu kesayangannya.
"Yuk, dede juga penasaran" sahut Sam, kedua pria tampan beda generasi itu pun bangun dari duduk dan langsung berjalan kearah kaca kecil di dekat pintu yang sengaja masih di tutup.
__ADS_1
"De' geseran dong, Appa kan mau liat"
"Appa udah tua, jangan kepo" jawab si Tutut Markentut yang hidung mancung nya langsung di tarik oleh Tuan besar Rahardian.
"Ini juga kan Appa yang ajak ngintip" omel Reza.
"Ini udah mojok banget, awas ya kalo Dede ken tutin Appa"
.
.
.
Gak apa-apa, ken Tut orang ganteng mah halum Tobeli oey😍😍
Ini apa 😭😭😭😭
Kalian. lagi main drama apa ini???
__ADS_1
Ada udang di balik bakwan kayanya 🤣🤣