Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Kembalikan Dia..


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sayang---- buka matamu, atau aku akan membencimu" teriak Awan.


Pria yang nampak bingung karna Mentari tak kunjung bangun itu langsung keluar dari kamar mencari siapapun yang bisa menolongnya.


Ceklek..


"Miiiih--- Mentari, Mih. Tolong istriku"


"Kenapa Mentari?" tanya Cahaya bingung karna seingatnya gadis itu baik-baik saja di terakhir mereka bertemu.


"Aku gak tahu, Mentari gak mau bangun. Dia-- dia pingsan atau apa aku gak ngerti" jawab Awan semakin panik.


Keduanya langsung keluar sedikit berlari kearah kamar sang putra mahkota Biantara.


Pintu yang memang sudah terbuka memudahkan ibu dan anak itu untuk segera masuk, betapa terkejutnya Cahaya saat tahu Mentari tak bergerak sama sekali.


"Kamu apakan menantu Mimih, Kak? dasar anak nakal" oceh Cahaya yang langsung memegang dadanya sendiri.


"Mih, jangan ikutan pingsan. Ku mohon. Jangan buatku semakin frustasi. Mimih tarik napas lalu buang perlahan" ujar Awan meminta Cahaya untuk tenang karna ia tahu betul riwayat penyakit Mimih nya selama ini.

__ADS_1


Cahaya yang khawatir langsung lemas dan duduk di tepi ranjang, ia menoleh kearah Mentari yang terpejam seperti terbuai mimpi.


"Telepon ambulans, bawa Mentari kerumah sakit" titah Cahaya tanpa menoleh.


Awan langsung meraih ponselnya diatas nakas, untuk menghubungi pihak rumah sakit milik keluarga Rahardian dan setelahnya tak lupa juga mengabari Langit untuk menyusul langsung kesana.


.


.


.


Kedunya menunggu entah sudah berapa lama dengan mata tak lepas dari pintu kaca berharap dokter segera keluar.


"Bagaimana Mentari?" tanya Langit yang sudah datang dengan raut wajah tegang.


"Bang--" Cahaya langsung berhambur kedalam pelukan suaminya agar Langit tak memarahi Awan. Tapi sayang, Pria itu tetap saja mengoceh tak habis habis.


"Pipih gak ngerti sama kamu, sampe segininya kamu nyakitin Mentari.?"


"Sumpah demi Tuhan, Pih. Aku gak apa-apain istriku. Tadi aku gak jadi ke kantor, ku pikir aku mau Quality time sama dia di rumah tapi Mentari ngeluh sakit perut. Aku-- aku lalu ambilin obat di kamar Mimih dan saat aku balik lagi Mentari udah gak gerak, dia gak sadar. Mentariku pingsan" jelas Awan yang semakin lirih di ujung bicaranya.

__ADS_1


Ia tersungkur di lantai dan menangis.


Cahaya yang mau merengkuh tubuh putranya yang berguncang langsung ditarik oleh Langit.


"Biarkan, Mih" cegah pria paruh baya yang nampak masih tampan tersebut pada istri tercintanya.


Semua orang tahu, Awan memang akhirnya menerima perjodohannya. Ia menikah dan memperlakukan Mentari dengan sangat baik layaknya seorang istri pada umumnya tapi orang lain tak pernah tahu bagaimana perihnya hati Mentari saat bibir suaminya itu selalu saja menyembut nama wanita lain di depannya. Ia, memang tak membandingkan tapi justru berharap sosok Mantari bisa seperti sang mantan kekasihnya.


"Kasihan Awan, Pih. Dia pasti sangat khawatir dengan istrinya"


"Lebih kasihan lagi menantuku, Mih. Sakitnya kali ini pasti karna Awan. Aku bilang apa sama besan kita nanti jika mereka tahu putrinya sampai pingsan dirumah. Apa itu tak membuat murka ibu bapak Mentari nantinya" ucap Langit yang terus saja menyalahkan putranya.


"Sudah ku bilang, aku tak tahu kenapa bisa begini, Pih" teriak Awan.


.


.


.


Kembalikan dia pada Orang-tuanya jika kamu tak mampu membahagiakannya.

__ADS_1


__ADS_2