
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sakit, By!!" protes Mentari saat pipinya di cium gemas oleh pria yang tadi pamit bekerja namun nyatanya malah ada di dalam kamar.
"Aku gemes, pengen gigit"
"Gigit apa?" tanya menantu Biantara tersebut.
"Gigit bibir sambil adu lidah" bisik Awan.
Mentari melepas pelukan, ia tahu jika Awan dulu sering melakukan itu dengan mantan kekasihnya dan ia tentu tak ingin hanya menjadi pelampiasan nafsu suaminya saja yang jelas hatinya masih ada nama wanita lain.
"Mau kemana?" Awan menarik tangan Mentari yang sudah mau menjauh darinya.
"Aku mules, mau ikut?"
Awan tertawa kecil karna Mentari terlihat kesal padanya meski Awan sendiri tak tahu apa alasannya yang jelas kini ia sudah kembali pulang untuk bersama sang istri.
Lama Awan menunggu di sofa sampai akhirnya Mentari keluar dengan keringat di dahinya yang cukup lumayan basah, melihat gadis itu meringis memegangi perut Awan pun segera beranjak.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Awan.
"Gak tahu, Tiba-tiba sakit perut"
Awan langsung mengangkat tubuh mungil Mentari untuk di gendong ala bridal style menuju ranjang mereka. Di rebahkan nya sang istri di tengah sambil di usap juga perutnya dengan lembut.
"Kamu abis makan apa sampai sakit begini? aku panggil dokter ya?"
__ADS_1
"Gak usah, aku mau teh hangat tawar aja. Kamu bisa buatkan?" pinta Mentari.
"Tentu, Sayang"
Awan mencium kening Mentari sesaat sebelum ia keluar kamar menuju dapur dan Mentari menatap punggung pria itu begitu lekat sampai hilang di balik pintu.
.
.
.
"Awan, kamu sedang apa?" tanya Diana, wanita baya itu kaget saat melihat cucu laki-lakinya ada di depan pintu dapur kotor.
"Aku lagi minta di buatkan teh hangat untuk Mentari, Mih" jawab Awan yang berhambur kedalam pelukan ibu dari Pipihnya itu.
"Kenapa istrimu?" tanya Diana.
"Entah, Tiba-tiba sakit perut"
"Ya sudah, jika masih sakit cepat hubungi dokter dan minta obat pada Mimih mu ya" pesan Nyonya besar Biantara tersebut sebelum akhirnya pergi.
Awan kembali ke kamar dengan nampan kecil di tangannya berisi satu gelas besar teh tawar hangat sesuai keinginan Mentari.
Ceklek.
"Sayang, aku udah bawain tehnya"
__ADS_1
Awan duduk di tepi ranjang setelah meletakan si nampan diatas meja samping tempat tidur karna akan membantu Mentari untuk bangun dari baringnya.
"Pelan pelan di minumnya, masih panas"
"Makasih, By. Maaf merepotkan mu"
"Sama-sama, aku ambilkan obat dulu ya di Mimih. Kamu masih sakit?" tanya Awan yang melihat Mentari masih memegangi perut kanan bagian bawahnya.
"Iya, sakit banget"
Awan yang tak tega dan seolah ikut merasakan sakitnya langsung menangkup kedua wajah Mentari dengan kedua tangannya, di tatap kedua mata sendu itu lalu di ciumnya juga pelan.
"Aku takut, Sayang" lirih Awan, hatinya mencelos.
"Aku gak apa-apa"
Awan bergeming, dan beberapa saat kemudian ia bangun untuk mengambil obat di kamar orang tuanya.
Ceklek
Awan kembali tak sampai sepuluh menit, ia mendekat dan duduk di samping Mentari.
"Sayang, bangun dulu" panggil Awan pada istrinya yang memejamkan mata.
"Hey, jangan dulu tidur. Minum dulu obatnya"
"Tari--- bangun"
__ADS_1
"Sayang---- buka matamu, atau aku akan membencimu!"