
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aw, sakit!" jerit Mentari saat ia merasa ada sesuatu yang menerobos dengan kuatnya.
"Sabar ya, Sayang. Sakitnya cuma sebentar" Awan langsung membungkam bibir istrinya agar rasa perihnya sedikit berkurang.
Bukan tega atau tak kasihan, tapi ini sudah benar-benar tanggung jika harus di lepas. Hangat dan sempitnya membuat Awan mabuk kepayang padahal jelas ia belum melanjutkan aksi luar biasanya.
Setelah di rasa Mentari cukup tenang, Awan menarik sedikit si Jalu yang terbenam di dalam lembah becek milik istrinya. Sesuatu yang membuat ia bangga pun kembali membakar bi rahinya. Tetasan darah suci menjadi pertanda jika ia sudah berhasil membobol pertahanan seorang wanita terhormat.
Tak ada se inci pun tubuh Mentari yang lolos begitu saja, mulai dari leher dan dada semua penuh dengan tanda merah yang ia lukiskan dengan begitu bersemangat. Awan tak gagal menjadi suami meski sempat begitu jahatnya menyiksa bathin Mentari.
.
.
.
"By, geser!" ucap Mentari saat tubuhnya di dekap dengan sangat kuat.
"Hem, mau kemana?"
"Iya, tapi geser dulu. Akunya sempit" Mentari terus mendorong dada polos suaminya.
Bukan menggeser, Awan justru naik lagi ke atas tubuh wanita halalnya. Ia meraih tangan Mentari untuk mengusap si Jalu yang masih imut mengekerut agar panjang dan besaaaaaaaaaaaal
#Eh.
__ADS_1
"Di apain?" tanya Mentari polos karna yang ini ia benar-benar tak paham.
"Apain aja terserah kamu"
"Aku gigit, boleh?"
Tahu istrinya sering mendadak kesal, akhirnya membuat Awan mengurungkan niat meminta Mentari bermain dengan Si Jalu, tentu ia tak mau mengambil resiko jika senjata kebanggannya ini harus terluka.
Permainan selajutnya pun kembali terulang di pagi hari yang tentunya dengan sensasi berbeda dari sebelumnya. Seolah tak ada lelahnya mereka terus mencari titik nikmat untuk mendapat puncak pelepasan.
"Gantian, Sayang"
"Apa?" tanya Mentari yang akhirnya membuka mata saat Awan berbisik meminta sesuatu.
"Kamu di atas"
Awan langsung menarij tubuh istrinya itu untuk berganti posisi tanpa melepas Si Jalu yang sedang anteng bermain becek becekan.
"By, aku gak bisa" rengek Mentari yang bingung.
Awan yang tersenyum kecil menarik pinggul Mentari agar bisa di gerakan secara pelan lebih dulu, jika nanti ia sudah paham barulah dengan tempo yang lebih mengga irah kan.
"Begini?"
"Iya, Sayang," jawab Awan yang dengan posisi begini justru lebih leluasa untuknya menikmati dua bongkahan daging kenyal milik istrinya tepat depan mata.
Des ahan tak hentinya keluar saat dua bagian paling sensitifnya terus di mainkan oleh pria yang kini ada di bawahnya tersebut.
__ADS_1
"Lebih cepet, Sayang. Aku---"
Awan langsung memeluk tubuh berkeringat istrinya itu saat ia merasa si Jalu akan memuntahkan apa yang sejak tadi tertahan di ujung kepala daging tak bertulangnya tersebut.
Lenguhan panjang, seakan pertanda betapa nikmatnya apa yang kini Awan rasakan sedang kan Mentari entah sudah berapa kali ia menikmatinya lebih dulu.
"Cape banget," ucap Mentari yang lalu menjatuhkan tubuhnya ke samping suaminya yang terkapar lelah sambil memejamkan mata.
"Aku ambilkan minum dulu ya," balas Awan yang akhirnya bangun dan turun dari ranjang. Tapi, belum juga ia melangkah ponselnya yang ada di atas nakas bergetar tanda ada panggilan telepon masuk.
"Tutut Markentut, mau apa dia pagi-pagi telepon?" gumam Awan bingung. Ia pun mencoba mengatur napasnya lebih dulu agar tan terdengar kelelahan.
"Hallo, ada apa, kak?" tanya Awan saat telepon sudah tersambung.
.
.
.
Kata Appa suruh cepet pulang!!!! .
Ngapain Tut??
Kok gue gak percaya ya, kalo Gajah yang nyuruh🙃 jangan jadi biang rusuh ya, ntar gue tipon pak pulici nih 😂😂😂😂
__ADS_1