Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Matahari dan Mentari.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sepi, itu adalah satu kata yang sederhana namun seakan menusuk kedalam hati pasangan suami istri yang kini berpisah karna jarak.


Ini malam ketiga mereka tidur tanpa memeluk satu sama lain, keduanya termenung menatap langit langit kamar seolah tak puas bercerita banyak hal selama empat jam lamanya.


Mentari ingin sekali mengirim pesan pada Suaminya jika ia sedang sulit sekali terlelap, tapi ia tak bisa seegois itu karna tahu pasti pekerjaan suaminya yang menumpuk setiap harinya. Lebih baik ia menahan sekarang agar semua yang sedang di kerjakan Awan segera selesai lalu cepat kembali sebelum empat belas hari.


.


.


Hari-hari yang di lalui Mentari tak lepas dari ponsel yang selalu ia bawa bahkan saat ke kamar mandi. Tentu hanya karna tak ingin Awan kembali merajuk seperrti hari di awal mereka berpisah dulu.


"Awan sudah mengabarimu hari ini?" tanya Cahaya saat mereka ada di teras depan meliat Nyonya Besar Biantara sedang memetik bungan mawar.


"Belum, aku juga bingung" jawab Mentari yang menerima kabar terakhir dari Awan saat pria itu bangun tidur.


"Mungkin sibuk, setahu Mimih besok dan lusa ia akan pergi ke kota lain di negara J. Kamu tak perlu khawatir"


Mentari hanya mengangguk, ia juga tahu akan hal itu langsung dari Awan sendiri. Beruntungnya dia meski pria itu tak cinta tapi tetap menghargainya sebagai seorang istri dengan tak menutupi apapun. Awan selalu menceritakan segala hal yang terjadi. Entah itu sebelumnya, atau mungkin yang sedang ia lakukan bahkan yang baru sebatas rencana.

__ADS_1


Mentari lalu mengabaikan ponselnya, ia biarkan tergeletak begitu saja mencoba mengerti jika belahan hatinya yang jauh disana mungkin sedang sangat sibuk karna jika ada waktu senggang biasa mereka akan menghabiskan waktu dengan cara mengobrol melalui panggilan telepon.


.


.


Lain Mentari, tentu lain juga dengan Awan yang terus melirik jam di pergelangan tangannya.


Sudah hampir empat jam lamanya meeting di adakan tapi belum juga mendapat titik temu agar semua cepat selesai. Dan Awan tak mungkin meninggalkan ruangan rapat itu hanya demi ingin mendengar suara istrinya saja.


"Pak, mau langsung pulang ke hotel atau makan siang dulu?" tanya seorang pria kepercayaan perusahaan sambil sedikit berbisik.


"Saya langsung ke hotel. Nanti saya makan siang disana saja" jawab Awan dengan langkah lebih tergesa-gesa.


Braaak..


Saling fokusnya pada layar ponsel Awan sampai tak sadar jika sudah membanting pintu dengan cukup keras.


Ia yang mencoba menelepon sang istri akhir nya bisa bernapas lega saat mendengar suara lembut gadis halalnya menyapa.


"Kenapa gak chat aku sih?" oceh Awan karna tak ada satu pesan pun dari Mentari untuknya.

__ADS_1


"Hem, gak mau ganggu, By. Takutnya kamu lagi sibuk banget ih" jawab Mentari memberi alasan yang mungkin bisa di terima suaminya.


Awan tentu mendengus kesal, padahal ia sudah sering mengatakan jika istrinya tak perlu punya pikiran seperti itu lagi. Sesibuk apapun ia kini, akan selalu di usahakan jika hanya untuk membalas pesan.


"Trus kamu lagi apa?" tanya Awan lagi.


"Lagi di luar, panas banget By" sahut Mentari sambil mendongak kan wajahnya kearah langit.


"Masa?"


"Hem" Mentari hanya berdehem kecil.


"Kamu tahu, bedanya Matahari dan Mentari?" goda Awan.


"Sama! cuma beda hurup aja" jawab Si cantik dengan rambut terurai panjang sepinggang.


.


.


.

__ADS_1


Bedalah, kalau Matahari itu menyinari semesta alam tapi kalau Mentari tugasnya cuma menyinari hatiku..


__ADS_2