
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tok... tok.. tok...
"Jie, buka pintunya, Sayang," panggil seorang wanita yang membuat Jingga akhirnya turun dari ranjangnya.
"Iya, Mah." sahut Jingga yang terus berjalan lalu membuka pintu.
...Cek lek...
"Tolongin Mama ya, Mama lagi ngurus pasien lahiran. Ada yang kecelakaan di ruang periksa, kamu urus ya, Nak." titah Mama Jingga.
Gadis manis itu hanya mengangguk, untuk hal-hal kecil ia memang bisa turut membantu di klinik ibunya yang bekerja sebagai seorang Bidan.
Jingga berjalan santai menuju ruang periksa yang dikatakan Mama tadi, pintu yang sedikit terbuka hanya di dorong perlahan olehnya.
"Kamu lagi?!" Jingga membuang napas kasar saat melihat siapa yang duduk di brankar pasien.
"Gak usah banyak tanya, nih obatin," titah Heaven sambil mengulurkan tangannya yang terluka.
__ADS_1
Ini bukan yang pertama bagi Heaven datang hampir tengah malam dengan alasan kecelakaan, padahal jelas hanya luka kecil. Sadar tak sadar ia justru menjadi langganan tetap Klinik tersebut meski sebenarnya itu di sengaja.
"Aw! pelan-pelan!" pekik Heaven saat luka ditangannya dibersihkan oleh Jingga.
"Gak usah teriak!"
Heaven tersenyum kecil, cuma di ruangan ini ia bisa sedikit lama dan dekat bersama gadis pujaannya walau harus mengorbankan tubuh putihnya terluka dan motornya hancur. Untung ia seorang anak tunggal kaya raya yang jika ingin motor baru tinggal tunjuk bagai membeli sebiji Cilok.
Jingga mengobati tangan bagian siku yang lecet, memang bukan luka yang cukup parah tapi jika tak segera di bersihkan bisa infeksi dan itulah yang sedang Jingga lakukan pada Si pria tampan pewaris dua perusahaan besar di negeri ini. Siapapun tahu tentang Heaven, bukan karna paras dan juga kekayaannya saja tapi juga kenakalannya dan balap motor yang kerap ia lakukan, jangan tanya sudah berapa kali ia terciduk polisi dalam waktu satu tahun belakangan ini.
"Kamu punya nyawa berapa?" tanya Jingga.
"Dah tau punya nyawa cuma satu, dijaga baik-baik. jangan malah tabrakan terus! kamu memang kaya, tapi nyawa tak bisa dibeli," ucap Jingga yang akhirnya buka suara karna bisanya ia justru diam seribu bahasa.
"Cie, yang khawatir," ledek Heaven yang malah senang sendiri mendengar apa yang dikatakan Jingga barusan. Wajahnya benar-benar merona sampai membuat Jingga bingung dan panik.
"Bu-bukan gitu! aku bosen kamu terus yang dateng," kata Jingga. Ya, itu memang alasan utamanya.
"Demi bisa buat ketemu dan berdua sama lo, gue lakuin ini. Gak apa-apa badan gue lecet, motor gue ancur. Malaikat juga tahu kok kalo ini demi bisa liat jodoh gue," sahut Heaven sambil terkekeh.
__ADS_1
Jingga mengernyitkan dahi, pria didepannya ini memang aneh menurutnya maka itu ia tak pernah suka dengan sosok Heaven yang justru di gilai oleh banyak teman-teman perempuannya di sekolah. Entah apa yang membuat ia begitu di puja karna bagi Jingga, Heaven hanya pria menyebalkan dan pecicilan jika di depannya.
"Malaikat gak semudah itu bisa di ajak nego," ucap Jingga sambil membereskan alat-alat bekas mengobati lengan Heaven.
.
.
.
Siapa bilang, tinggal kasih seblak sayap aja udah seneng kok.
Lo ngomongin gue apa Malaikat?? 🙄
Gajah lo disini udah bobo cantik dalam tanah 🤣
Aku jahat looooooh 😂
__ADS_1