
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Heaven yang pasrah hanya bisa mendengar dengan malas saat Pak Darno merincikan semua kenakalannya selama di sekolah, mulai dari bolos yang entah pergi kemana padahal jelas anak itu memakai seragam dan sarapan bersama hingga sengaja melengos begitu saja tak mau ikut pelajaran yang tak ia sukai.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak dan saya juga mohon maaf atas semua prilaku kurang baik putra saya. Saya pamit," ucap Awan, pria yang masih terlihat tanpan itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
"Sama-sama, Tuan. Semoga Heaven bisa berubah jauh lebih baik mengingat hanya tinggal hitungan bulan lagi ia akan lulus," balas Pak Darno yang sebenarnya sudah malas mengurus tingkah menyebalkan pewaris tahta Biantara tersebut.
Heaven keluar dari ruang guru bersama papahnya, kali ini Awan meminta anak tunggalnya tersebut untuk pulang, awalnya Heaven menolak tapi sorot mata Awan yang tajam membuatnya tak lagi bisa membantah.
Motor besar Heaven ditinggal begitu saja di area parkir sekolah, dan itu sudah biasa baginya.
Dan di sepanjang jalan menuju kediaman Biantara itulah keduanya diam tak ada yang bersuara, Heaven melempar jauh pandangannya keluar jendela mobil sedangkan Awan yang pusing dan kesal hanya bisa memijit pelipisnya, kepalanya berdenyut seakan ingin meledak, dan bayangan hanya bayangan senyum Mentari lah yang sedikit membuat ia jauh lebih baik.
.
__ADS_1
.
Sampai dirumah, ia langsung disambut Mimihnya, anak kesayangan Rahardian Wijaya itu selalu saja khawatir dengan cucu laki-lakinya tersebut. Entah apa dosanya di masa lalu sampai mempunyai keturunan yang nakalnya diatas rata-rata.
"Mimih kalau mau nanya sama Papah aja ya, aku ngantuk," ujar pemuda tampan itu sebelum Cahaya bersuara.
"Bisa gak sih nih anak dituker aja? sama minyak sayur seliter juga gak apa-apa," sungut Awan yang sudah kesal melihat kelakuan anaknya.
Cahaya yang mendekat mencoba menenangkan putranya, untungnya saja Tuan besar Biantara sedang tak ada dirumah. Karna jika ada, sudah bisa dipastikan Heaven akan mendapat siraman rohani lagi yang lebih panjang dari papahnya.
Tapi, ia nyata bagi tak bisa melakukan hal itu saat satu pesan notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Celine, gadis cantik yang tak lain adik kelasnya itu ingin ia menjemputnya saat pulang Les Biola nanti karna ada juga yang ingin disampaikannya pada Heaven.
"Cih, mau apa lagi sih?"
__ADS_1
Heaven melempar ponselnya secara asal, ia tak suka gadis itu karna terlalu baik dan penurut. Apa yang diucapkannya selalu dijawab anggukan kepala kecuali saat Heaven memintanya menjauh dan berhenti berharap jika kelak mereka akan menikan sesuai keinginan orang-tua Celine selama ini.
Heaven yang bebas dan nakal tentu tak suka jika wanitanya biasa saja, ia butuh sosok bidadari yang bisa membuatnya penasaran dan terus menguji adrenalinnya, dan orang itu adalah Jingga
Gadis manis anak seorang dokter yang membuka klinik di dekat jalan tempat ia sering balap liar.
Jingga anak yang manis tapi cuek dan ketus, sungguh sulit bagi Heaven menaklukkan hatinya termasuk mendengar suaranya.
Mereka yang kerap bertengkar membuat teman-teman satu sekolah hafal dengan kelakuan keduanya sampai tak ada siapapun yang tahu jika Heaven selama ini menaruh hati pada Jingga.
.
.
Bukan temen apa lagi pacar, tapi tinggal di hati gue. kan KURANG AJAR.
__ADS_1