
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bisa, kamu ambil terigu gih terus kita adon sama-sama, gimana?" jawab Mentari sambil terkekeh, tentu ia menganggap apa yang di ucapkan Awan adalah gurauan semata.
"Kamu pikir bikin kue?"
"No! kita bikin cilok, By"
"By? kamu panggil aku, By?" tanya Awan sedikit kaget sampai merubah posisi baringnya.
"Kenapa, kamu tak suka aku memanggilmu Hubby? kamu suamiku!" tegas Mentari.
"Aku suka, cuma sedikit kaget aja kok karna dulu saat bersama Lisya kami hanya memanggil nama" jawab Awan sambil menarik tubuh Mentari.
"Aku dan Lisya berbeda, aku tak ingin sama dengannya"
"Aku tahu. Kalian berbeda dan tak akan pernah sama" lirih Awan.
Awan mengeratkan pelukan sambil berkali-kali mencium kening dan pucuk kepala istrinya. Ada perasaan senang saat gadis kecilnya memanggil dengan sebutan spesial. Hal yang tak pernah ia lakukan bersama mantan kekasihnya dulu.
Mentari memainkan dada Awan dengan jari telunjuknya karna kantuk belum juga ia rasakan padahal sudah hampir tengah malam.
Awan yang sebenarnya sejak tadi sangat menikmati sentuhan tangan Mentari sambil memejamkan mata akhirnya mengerjap, ia angkat dagu istrinya agar pandangan mereka saling bertemu.
"Tidurlah, aku besok ke kantor pagi-pagi dan kamu harus mengurusku, Sayang" ucap Awan yang semakin terbiasa di layani istrinya, mulai dari pakaian hingga sarapan.
__ADS_1
"Aku kangen Cimol, By"
"Tar besok kita beli ya, kamu datang ke kantorku"
"Bukan Cimol itu, tapi Cimol ku, anak kambingku" jawab Mentari.
"Jangan pernah merindukan siapapun, selain aku, Paham!" tegas Awan yang mendadak kesal dan cemburu.
"Boleh aku pulang besok?" mohon Mentari.
"Sayang!!!"
Mentari yang tahu sepertinya tak di izinkan malah memunggungi Awan, dan itu semakin membuat suaminya sangat kesal.
Awan terus mengguncang bahu Mentari agar sang istri kembali mengahadapnya. Tapi sayang, gadis itu sama sekali tak mau menoleh. Alhasil Awan lah yang mendekat lalu memeluk dari belakang.
"Sedikit" jawab Mentari pelan.
Awan tersenyum kecil, ia bangun untuk melihat istrinya yang ternyata sudah memejamkan mata.
"Jangan pura-pura tertidur, aku tahu itu" bisik Awan sambil menahan tawa, entah kenapa melihat Mentari merajuk seperti ini rasanya ia begitu sangat gemas.
Awan membalikan tubuh Mentari secara paksa, dan....
"Kamu mau apa, By?" teriak Mentari saat ia merasa Awan kini sudah berada di atasnya.
__ADS_1
Awan mengulum senyum, ia semakin tertarik untuk menggoda di saat wajah Mentari berubah panik dengan kedua bola mata membesar.
"Kamu maunya apa?"
"Minggir, By. Berat ih"
"Aku tahan loh, apa yang berat sih?" tanya Awan tak tak berniat menggeser tubuhnya sama sekali dari atas sang istri.
Keduanya saling menatap, tangan Awan yang sedari tadi di buat menahan kini salah satunya sudah berada di pipi Mentari untuk di elus sayang dan lembut sampai gadis itu terbuai menikmatinya.
Cup..
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Mentari, jangan tanyakan sekencang apa detak jantungnya kini karna untuk berada di bawah pria itu tentu tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.
"Kamu cantik, meski aku sebenarnya aku tak suka hal itu karna aku takut" ucap Awan pelan.
"Tak ada yang perlu kamu takuti, By. Aku Mentari istrimu"
"Ya, kamu istriku, Sayang" sahut Awan yang bibirnya semakin dekat namun justru di tahan oleh Telunjuk Mentari.
"Kenapa?" tanya Awan.
.
.
__ADS_1
.
Katakan kamu mencintaiku lebih dulu, baru kita melakukannya.