Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Cucuku, cucumu!!


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hatchiiiiii...


Samudera yang bagai seekor cicak di atas kedua bongkahan daging kenyal istrinya tiba-tiba saja bersin sampai mengagetkan wanita dibawahnya tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya Biru bingung saat melihat hidung sang suami yang merah bagai tomat.


"Gak tahu, tiba-tiba gatel" jawabnya.


Sam yang sedang bersemangat membuat banyak tanda merah di area favoritnya itu pun akhirnya bangun tak lagi meneruskan aktifitas menyenangkan padahal bagian atas tubuh istrinya sudah polos tanpa benang sehelai pun.


"Hidungku kenapa sih?" gerutunya kesal karena kembali bersin.


"Iya, gak kaya biasanya. Kamu ada makan yang aneh-aneh gak hari ini, takutnya alergi loh ?" tanya Biru sambil memakai kaosnya karna di rasa Samudera tak akan melanjutkan lagi misi penjelajahan di gunungnya.


"Gak ada, aku mana punya alergi"


Sam bangun dari duduk, ia berjalan menuju nakas untuk menegakkan air putih berharap bersinnya berhenti karna takut terkena pada Embun.


"Bee, kerumah sakit yuk." ajak Sam dengan tangan masih memegang gelas kaca.


"Ngapain?"


"Aku kangen Jajah, Ih!" sahut Sam sambil tersenyum.


#SamaGueJugaKangen!

__ADS_1


.


.


.


Samudera datang bersama anak dan istrinya menuju rumah sakit tempat dimana Mentari dirawat. Ia senang karena belahan jiwa sepupunya itu kini sudah sadar dari koma tapi belum tahu jika gadis itu mengalami Amnesia yang hanya mengingat atau melupakan beberapa hal saja.


Cek lek.


"Dede dateng" serunya dengan percaya diri.


Tapi..


Bugh.. Plaaak... Praaaaang..


"Apa sih? aw-- sakit! sakit banget tau!" pekik Samudera saat kepala dan wajah tampannya itu berada di ketiak awan, adik sepupu bungsunya.


Gala yang baru datang lima menit lebih awal malah bersorak senang. Ia menjadi team Awan karna satu nasib dengan pria itu, dimana pasangan mereka selalu saja mengagungkan pesona si Buntut Gajah.


"Ayo, Wan! sleding terus, iya ayo-- jangan kasih ampun" seru Gala sambil tertawa.


Tapi tak laka ia justru langsung di jewer oleh Langit untuk menjauh.


"Jangan jadi kompor meleduk ya Baby Koala" kata Langit dengan tangan masih berada di telinga keponakannya tersebut.


"Aku kan suaminya, yang tidur sekamar seranjang se selimut. Kenapa Mentari cuma inget Kakak tapi gak inget aku?!" protes Awan yang semakin kesal, ia geram selalu di abaikan terus menerus padahal ia selalu melontarkan kata cinta di telinga isterinya selama koma tapi yang terjadi justru berbeda Samudera lah yang di tanyakan keberadaannya saat kedua mata teduh Mentari terbuka.

__ADS_1


"Apa sih? bawa-bawa kamar, ranjang sama selimut" teriak Samudera masih tak paham.


Semua yang ada di ruang rawat tak ada satu pun yang melerai, karna tahu dua pria tampan itu tak berkelahi sungguhan. Tapi jiwa kasih sayang para Kakek sungguh tak terbantahkan. Takut cucu-cucu mereka semakin menjadi Reza dan Adam pun mulai mendekat untuk memisahkan.


"Kalian tuh kenapa sih? kalo ketemu ribut terus" oceh Adam pada Awan dan Samudera.


"Cucumu yang mulai duluan, datang-datang maen hantam si Tutut Markentut." bela Reza pada cucu kesayangannya.


"Hey, apa kamu bilang? Awan cucuku? bukankan dia juga cucumu!" sentak Adam Biantara tak terima.


"Eh, Iya. Lupa!!" sahut Reza sambil terkekeh.


.


.


.


.


Appaaaaaaaaaaaaaa....


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Nasib lo sial amat sih, Wan 🤣🤣🤣🤣🤣


Di lupain Bini, di lupain Gajah 😂

__ADS_1


Sini di ruqiyah dulu biar idup lo sesempurna Tutut Markentut 🙃🙃🙃


__ADS_2