
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Langit yang sudah bosan karna lama menunggu si Durian jatuh akhirnya kesal sendiri, bagaimana pria tampan itu tak emosi jika harus berada di gazebo belakang rumahnya sejak jam 3 pagi. Adam dengan rasa tak berdosa mengetuk pintu kamarnya hanya untuk ditemani menanti satu hal yang tak pasti.
"Pih, udah yuk, kita masuk," ajak Langit masih memohon lewat rengekan kecil.
"Kok gak jatuh-jatuh ya?" bukan menjawab dan mengiyakan ajakan sang putra, pria baya itu malah bergumam sendiri.
"Pih, denger Abang gak sih?!"
"Kamu tega tinggalin Papih sendirian di kebun?" Adam balik bertanya dengan sorot mata tajam.
"Ya udah, ayo masuk."
"Duriannya belum ada yang jatuh, Bang. Papih juga bingung padahal kemarin ada dua yang ngegelinding," kata Adam merasa aneh sendiri karna pasalnya kemarin ia memang melihat sendiri buah berduri itu jatuh dari pohonnya.
"Lain kemarin, lain juga hari ini, Pih," jawab Langit dengan nada kesal, biasanya sepagi ini ia akan bercumbu lebih dulu dengan sang istri sebelum membersihkan diri.
Adam hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada si pohon Durian.
.
.
Awan dan Mentari yang sudah ada di ruang makan menatap aneh dua wanita baya didepan mereka, jawaban Cahaya dan Diana tentu membuat pasangan itu tercengang.
__ADS_1
"Maksudnya gimana sih?" tanya putra mahkota Biantara tersebut.
"Entah, Mamih juga bingung. Tiba-tiba jam 2 pagi Papih kalian bangun dan minta Mamih temenin ke kebun belakang buat lihat pohon Durian, duh cinta sih cinta tapi klo semalem itu makasih deh kayanya," jelas Diana sambil tertawa.
"Wah, si Mamih gak setia," ledek Awan yang juga ikut tertawa.
"Bukan gak setia, cuma Mamih takut diketawain Onty Unti," kekehnya lagi semakin renyah. Diana yang memiliki lesung pipi memang semakin terlihat cantik saat tertawa dan itu yang membuat Adam sang Mafia soleh begitu tergila-gila.
"Onty Unti tuh siapa?" tanya Mentari bingung.
"KUNTILANAK, sayang," jawab Awan yang kemudian mencium sekilas pipi istri tercintanya.
"Terus gimana ceritanya sekarang justru sama Pipih?"
"Karna Mamih gak mau, jadilah Pipih kalian yang kena sasaran," sahut Diana lagi.
Keempatnya kini sarapan dimeja makan tanpa para sang Tuan besar, karna Adam tetap masih ingin berada di kebun belakang miliknya menunggu si Durian jatuh sendiri dari pohon.
Langit yang mengantuk ditambah dinginnya udara pagi semakin mengeratkan selimut tebal ditubuhnya, ini benar-benar godaan diluar perkiraan.
Adam yang sesekali menoleh hanya bisa cekikikan melihat putra keduanya yang menguap berkali-kali menahan kantuk. Tapi tanpa si pria baya itu sadar, ide cemerlang akhirnya hinggap dikepala Langit.
Ia meraih ponsel yang tergelatak disampingnya lalu mengirim pesan pada salah satu kepala pelayan di Kediaman Biantara.
[ Perintah siapapun untuk naik keatas pohon Durian dan jatuhkan buahnya. Tapi ingat, jangan sampai Tuan besar curiga, jika ia tahu, kepala mu yang akan ku gantung!]
__ADS_1
Dengan seulas senyum diujung bibirnya, kini Langit sudah bisa bernapas lega. Bayangan empuknya kasur dan hangatnya pelukan sang istri membuat pria baya itu ingin cepat masuk kedalam rumah.
Dan....
GUBRAAAAK.....
Tak sampai sepuluh menit, Dua buah Durian akhirnya jatuh dengan sempurna ke tanah. Adam yang tahu dan melihat hal itu langsung bersorak senang bukan kepalang, ia bangun dan berjingkrak bagai menonton golnya sebuah pertandingan bola.
"Pih, Durennya udah jatuh," ucap Langit, ia kemudian berlari untuk mengambil buah berduri tersebut.
Adam mengangguk, senyum tak lepas diwajahnya yang masih terlihat tampan meski usianya jauh dari kata muda.
"Mau dibuka sekarang, Pih? atau mau dimakan gini aja atau juga mau dibuat---?" Langit tak melanjutkan ucapannya karna Adam malah pergi begitu saja meningggalkannya.
.
.
Terserah, Papih kan cuma mau denger suara jatuhnya aja...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ngeselinnya mirip si Qia 😒😒😒
Yang belum mampir, yuk mampir ke....
__ADS_1
#Ternyata, Aku buka istri pertama
#Mendadak Halal