Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
TANPAnya!


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Butuh?? tapi setidaknya dia nyaman denganku.


Awan mengurai pelukannya, ia tangkup wajah cantik Mentari dengan kedua tangannya sambil tersenyum.


"Lain kali harus izin, jangan pergi sesukamu, Ok"


Mentari hanya mengangguk, ia sangat malu di perlakukan begitu manis di depan anggota keluarga Rahardian.


"Kamu dari rumah?" tanya Reza saat Awan dan Mantari sudah duduk di sofa.


"Iya, sampe rumah Mentari gak ada" jawabnya masih sedikit kesal saat ingat betapa paniknya ia tadi.


"Aku di ajak liat Gajah sama Kak Sam, tapi mana sih gajahnya?" tanya Mentari sembari memberi alasan kenapa ia bisa ada di rumah utama.


"Kak Sam? jadi si Tutut Markentut yang bawa kamu kesini?"


Mentari mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami.


"Wah, Nyulik bini orang!" tukas Awan pada kakak sepupunya yang langsung pindah ke samping sang Gajah.


"Awan galakin dede, Appa" adunya seperti biasa.


"Heh, aku belum ngapa-ngapain ya!" Protes Awan yang tak terima saat mendengar aduan Samudera pada Tuan Besar Rahardian.


"Tuh, Awan bentak dede"

__ADS_1


Awan yang kesal langsung bangun kemudian memukuli Samudera dengan bantal sofa, ia kesal bukan karna aduan kakak sepupunya tapi kesal karna sudah membawa kabur istrinya dari kantor.


"Eh, masih bagus ya Kakak Dede yang bawa, coba kalo cowo ganteng yang gandeng Mentari, hayo???" ucap Samudera tak mau terus di salahkan.


"Gak bakal lah, emang istriku Balita!" sentak Awan.


"Bisalah, orang lagi nangis sama galau gitu, ada yang ajak pergi ya mau aja. Perempuan kan kalo sedih pasti butuh bahu buat nyender, iya gak Bee" oceh Sam tak mau kalah sembari melirik kearah Biru.


Begitupun dengan Awan, mendengar alasan Samudera tentu ia pun menoleh kearah istrinya.


Mentari yang ditatap tajam pun hanya bisa menelan salivanya kuat-kuat, apalagi saat Awan mendekat lalu menarik tangannya.


.


.


Awan membanting pintu salah satu kamar di rumah utama yang memang tempat istirahat pribadinya jika sedang menginap.


"Duduk" titah Awan pada Mentari.


Mentari yang ketakutan hanya menurut, ia hempaskan bo kongnya di sofa single yang ada tepat di sisi tempat tidur king size.


Awan yang masih berdiri lama berjongkok di hadapan Mentari dengan memegang kedua tangan gadis cantik yang wajahnya sedikit pucat karna panik.


"Kamu nangis, kenapa?" tanya Awan dengan suara Lembut yang mampu menggetarkan hati Mentari.


"Tak apa"

__ADS_1


"Katakan, jangan sembunyikan apapun dariku. Aku tak ingin ada rahasia di pernikahan kita" pinta Awan masih dengan posisi yang sama.


"Aku justru akan sembunyikan apapun yang mampu membuatmu terluka, karna mungkin hatimu tak sekuat hatiku yang mampu bertahan saat kamu selalu menyebut nama wanita lain di pernikahan kita" balas Mentari.


Awan membuang napas pelan, ia mencium berkali-kali telapak tangan Mentari seolah tak sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini.


"Kamu marah padaku karna aku masih mencintai Lisya?" tanya Awan yang kembali mendoangakkan wajahnya agar mereka bisa saling menatap.


"Aku marah pada diriku sendiri, kenapa tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku" balas Mentari sambil tersenyum.


"Aku tak bisa melupakannya, bayangnya selalu ada di benakku. Aku merindukannya"


Awan meletakkan kepalanya di pangkuan Mentari. Gadis itu menarik satu tangannya yang sedang di genggam untuk di mengelus lembut rambut Awan.


"Aku sudah menghindar, aku sudah bertahan untuk tidak bertemu bahkan aku sudah menghapus semua tentangnya di ponselku, tapi aku tetap tak bisa melupakannya, aku harus apa?" ucap Awan frustasi bahkan satu tetes cairan bening kini jatuh di pipinya.


"Melupakan itu hal yang mustahil, kamu tak akan bisa melakukannya karna kita terbiasa mengingat bukan melupakan" balas Mentari yang masih bersikeras menguasai hatinya sendiri.


"Tapi aku ingin, aku ingin sebentar saja berhenti mencintainya dan melupakan semua yang mengingatkanku padanya" lirih Awan yang isakannya semakin terdengar.


.


.


.


Itu sulit, akan butuh waktu lama dengan proses yang panjang. Melupakan tak semudah mencintai tapi kini kamu cukup harus bisa TANPAnya...

__ADS_1


Ya... kamu harus terbiasa TANPA nya!!!


__ADS_2