Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Tiga pria tampan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sudah selesai, mau nunggu aku usir?" cetus Jingga saat Heaven tak juga turun dari brankar pasien padahal lukanya sudah selesai ia bersihkan sejak tadi.


Dan malam yang semakin larut membuat gadis cantik tersebut ingin cepat beristirahat karna besok ada pelajaran olahraga yang sebenarnya tak pernah Jingga suka, bukan perkara takut berkeringat seperti siswi lainnya tapi Jingga hanya tak nyaman jika berada di tengah-tengah orang banyak.


"Ntar, gue nunggu sepupu gue dateng," sahut Heaven yang matanya tak lepas menatap Jingga.


Jingga mengangguk lalu bergegas ingin keluar, tapi belum juga ia melangkah kan kaki tangan kanannya langsung dicekal oleh Heaven.


"Mau kemana? temenin gue," pinta pria tampan tersebut.


"Tidur! udah malem," sahut Jingga.


Kini sepasang muda mudi itu berdiri saling berhadapan, tapi Heaven langsung bersembunyi dibalik punggung Jingga saat mendengar sesuatu.


"Kenapa?"


"Itu suara apa, Jie?" tanya Heaven yang terlihat ketakutan, ia juga memegang ujung kaos yang dikenakan gadis tersebut.


"Mana?"


"Itu, yang nangis," kata Heaven.


Jingga yang mengernyitkan dahi langsung memfokuskan pendengarannya saat Heaven mengatakan ada suara tangis, dan...


Plaaaak.


"Itu suara yang lagi mau lahiran!" cetus Jingga.


Sebagai anak dari seorang Bidan tentu suara rintihan sakit, jerit dan tangis bayi sudah sangat biasa Jingga dengar karna klinik Sang Ibu memang menyatu dengan rumah utama.

__ADS_1


Jingga yang mencoba melepas tangan Heaven sampai dibuat benar-benar sangat kesal.


"Takut, Jie. Itu beneran tangis orang lahiran? bukan kuntilanak 'kan?" tanya Heaven memastikan.


Jingga mendengkus kesal, pria menyebalkan seperti ini kenapa bisa membuat semua siswi disekolah jatuh cinta padanya, sungguh itu di luar akalnya.


"Bukan! itu yang lahiran, lagian apa sih takit sama kuntilanak?. kan kami Genderuwonya!" sindir Jingga yang langsung membuat tanduk Heaven keluar.


"Gue segini gantengnya lo bilang Genderuwo, sini gue congkel mata lo!" balas Heaven.


Jingga yang malas berdebat akhir melepas paksa tangan pria itu dari ujung kaosnya yang masih di pegangin. Tak perduli Heaven mengomel ia tetap keluar dari ruang periksa.


"Lo kenapa tega banget sih?"


"Pulang sana! oh ya, jangan lupa bayar," kata Jingga dengan tangan melipat di dada.


Heaven yang baru saja ingin mengumpat kasar langsung menoleh saat namanya di panggil.


Tiga pria tampan laki-laki satu-satunya keturunan konglomerat itu kini sudah berkumpul di depan Jingga yang nampak biasa, mungkin jika gadis lain justru akan beda cerita, entah itu berjingkrak senang atau mungkin pingsan seketika.


"Jemput Si ahli Surga nih," sahut Skala.


"Ish, mending ngelonin Si jagur!" jawab Rain kesal, ia yang sedang bermain dengan kucing peliharaannnya dipaksa ikut oleh Skala.


"Itu sindiran atau pujian?" timpal Jingga dengan senyum seringai.


"Mulutnya pedes banget, sayang aja gak bisa gue cium!"


Jingga yang kesal langsung berkacak pinggang tapi Heaven langsung di tarik oleh Skala menjauh.


"Yuk pulang, jangan berantem ma cewe bisa panas kuping lo!"

__ADS_1


Skala yang hangat menarik Heaven keluar klinik tentu meninggalkan Rain hanya berdua dengan Jingga.


"Hehe, pulang dulu ya," pamit Rain.


"Eh, enak aja! bayar biaya pengobatan dulu!"


"Loh, kok gue? kan Si Dedemit yang luka," protes Rain.


"Sama aja! Dia kan saudara kamu," ucap Jingga.


"Dih, Ogah!"


.


.


.


Mau bayar, atau kamu aku suNat??



Rain



Skala



Heaven..

__ADS_1


__ADS_2