Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Sebuah Nama


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sepi...


Itulah yang di rasakan Awan dan Mentari saat hanya mereka saja yang berada di dalam kamar rawat inap. Semuanya sudah pulang kecuali Ibu dan Mimih yang sedang ke kantin rumah sakit. Entah apa yang ingin para wanita itu bicarakan atau mungkin hanya ingin pasangan tersebut bisa bicara lebih nyaman tanpa gangguan.


"Siapa lagi yang kamu ingat?" tanya Awan saat ia duduk di kursi tepat di samping ranjang istrinya.


"Ibu, Bapak, Amma, Onty Hujan, kak Sam dan kak Ara" jawabnya sambil terus mengingat-ingat.


"Oh, ya. Cimol" sambungnya lagi dengan senyum sedikit lebar.


"Kenapa harus si kambing sih!" umpat pria itu semakin jengkel.


Mana mungkin seorang RahardiAwan putra Biantara harus kalah pamor dengan seekor kambing yang kotorannya pernah menempel di tubuhnya saat ia dan Mentari pertama kali berjumpa.


"Itu kambing ku, dan ia baik" tegas Mentari.


"Aku suamimu, Sayang" ujar Awan meyakinkan.


Mentari tak menjawab, entah apa yang ia rasakan sulit ia ungkapkan. Rasanya ia ingin memukul pria yang mengaku suaminya itu tapi ia tak punya alasan untuk melakukannya.


"Kenapa diam? apa ada yang kamu ingat tentang ku. Ku mohon, meski itu hanya sedikit atau pun sekilas" harap Awan.


"Entah, tapi kamu sangat menjengkelkan"

__ADS_1


"Panggil aku, Hubby! dulu kamu memanggilku seperti itu"


Mentari kembali diam, lalu mengangguk kan kepala memenuhi keinginan Awan.


Senyum pun langsung terukir di wajah tampan yang terlihat sangat frustasi dari seorang Putra Mahkota Biantara.


.


.


.


Dua minggu berlalu, Awan meminta team dokter dan rumah sakit mengizinkan Mentari untuk pulang dan melakukan rawat inap di rumahnya saja. Rasanya sudah cukup ia merasa kurang nyaman dengan keadaan rumah sakit yang justru membuatnya sulit membangun Chemistry dengan sang istri.


"Kenapa tak pulang kerumahku?"


"Aku harus bekerja, kalau kamu disana aku tak bisa melakukan dua hal sekaligus. Antara tanggung jawab dan istriku" Jawab Awan yang lalu mencium kening Mentari.


Tak enak juga rasanya jika harus membebani Samudera dan Gala untuk menggantikannya saat ada rapat penting yang tak bisa di handle oleh asisten juga sekertarisnya. Meski sering tak akur tapi para keturunan Rahardian itu selalu menjadi team terbaik untuk memajukan perusahaan.


Keduanya pun pulang ke kediaman Biantara dengan diantar supir.


Mentari yang baru melihat suasana di luar setelah koma nampak antusias melihat apapaun yang menurutnya menarik. Bahkan ternyata ada sebagian yang ia ingat meski harus memastikan lebih dulu pada suaminya.


"Apa kepala mu masih sakit jika mengingat sesuatu?" tanya Awan sambil mengusap dan mencium pucuk kepala Mentari yang bersandar di dadanya.

__ADS_1


Bukan hal mudah baginya meyakinkan gadis itu jika ia benar-benar suami yang sangat mencintainya, bahkan Awan hampir menangis lagi saat wanita halalnya tersebut bertanya apa warna kesukaannya. Dan Awan dengan bodohnya tak bisa menjawab. Ia maki dirinya sendiri dengan umpatan paling kasar karna hal sepele seperti itu saja ia abaikan.


"Tidak, semua baik baik saja jika aku tak terlalu memaksanya. Tapi ada yang aneh dan cukup mengganjal di hati bahkan tak lepas dari otakku" ungkap Mentari sambil mendongakkan wajahnya sampai pandangan mereka bertemu.


"Apa, Sayang?" tanya Awan.


"Sebuah nama. Nama yang sering terlintas yang membuat ku merasa sesak tiba-tiba." jelas Mentari lagi, dan dari raut wajah suaminya ia tahu jika pria itu menuntut penjelasan lebih.


"Katakan! siapa dia?" lirih Awan dengan suara bergetar.


.


.


.


Lisya!!! Apa dia ada hubungannya dengan kita??


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hayo..... jujur apa mau bohong?? 🤣🤣🤣🤣


Kalau buat si Bum-bum Maju Mundur enak


Tapi buat lo yang ada ENEK 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2