
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kamu yakin izinin aku pergi?" tanya Awan lagi yang entah sudah berapa kali menanyakan hal. tersebut.
Mentari yang masih ada dalam pelukan suaminya hanya menggangguk pelan karna jujur ia masih sangat mengantuk. Awan yang sepertinya tak tidur terus saja mengganggunya.
"Ikut ya, aku dua minggu loh di luar negeri. Aku gak yakin kamu bisa gak ada aku" kata Awan dengan percaya dirinya.
"Gak kebalik?" Sindir Mentari.
"Nah, iya. Itu tahu" balas Awan yang semakin mengeratkan pelukannya sambil terkekeh.
Mentari yang mencibir langsung di ciumi secara gemas oleh Awan di kedua pipinya.
Keduanya begitu menikmati pelukan yang kini mereka rasakan karna jam 10 nanti pasangan suami istri itu akan berpisah dalam rentan waktu 14 hari ke depan. Awan yang biasanya nampak santai saat akan bepergian berbeda dengan kali ini yang justru uring-uringan sejak kemarin. Ia sendiri bingung kenapa tak ingin meninggalkan Mentari padahal dari yang sudah-sudah ia hanya sedikit sedih jika berpisah dengan Lisya.
"Nanti aku tidur sama siapa disana?" lirih Awan, pikirannnya ternyata sudah sejauh itu.
"Peluk guling, anggap itu aku ya, By" jawab Mentari dengan kedua mata terpejam, ia sampai terbuai oleh aroma harum tubuh suaminya sendiri.
"Sayang, boleh aku minta sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Selagi itu masuk akal, tentu boleh"
Awan membuang napas pelan, tentu ia tak yakin dengan apa yang akan ia utarakan pada Mentari saat ini. Gadis itu pasti menolak dan akan meminta syarat aneh darinya.
"Kenapa? kok diem, katanya mau minta sesuatu padaku?" tanyanya yang kini sudah mendongak kan wajah sampai tatapan mata keduanya saling bertemu satu sama lain.
"Aku ingin menciummu"
"Bukannya dari tadi udah ya?" kata Mentari yang nampak berpikir karna seingatnya kening dan pipinya sejak semalam sudah menjadi sasaran empuk suami setengah tobatnya tersebut.
"Aku ingin yang ini, Sayang" jawab Awan sambil mengusap bibir ranum istrinya yang ia yakin masih original.
"Ngarep! aku gak akan kasih sebelum aku udah ngaduk-ngaduk hati kamu, By" tegas Mentari.
Ya, sadar tak sadar akhirnya nama Mentari mulai terus berputar di otaknya. Ia selalu ingat dan ingin tahu semua yang di lakukan gadis itu saat tak bersama. Kebiasaan yang kini tanpa si masa lalu perlahan tak lagi membelenggu hatinya yang kuat menyimpan segala kenangan tentang cinta pertamanya tersebut.
"Apa kamu sudah mencintaiku, By?"
"Cinta? Hem, sudah belum yaaaaa?" goda Awan yang langsung di cubit dadanya.
Di perlakukan seperti itu saja sebenarnya sudah membuat Mentari bahagia apalagi kalau di jadian ratu satu-satunya dalam kehidupan sang suami, mungkin indahnya surga pun tak seindah warna hatinya saat itu.
__ADS_1
"Jangan katakan jika masih ragu atau mungkin memang tidak sama sekali. Aku akan menunggu mu, tenang saja" ucap Mentari santai dengan kedua alis naik turun.
"Ya ampun! gemes banget sih. Untung udah halal"
Awan menarik hidung yang tak begitu mancung milik Istrinya yang harus ia akui memang cantik dan imut berbeda dengan Lisya yang sedikit dewasa karena umur mereka yang sama.
"Aku lucu ya, Awas loh nanti aku diambil orang"
"Gak akan aku izinin lah, enak aja" jawab Awan yang hatinya mendadak gelisah.
"Emang kenapa? disini juga di sakitin terus sama kamu"
"Gak! kamu milikku!" tegas Awan yang mulai takut dengan apa yang di ucapkan istrinya.
"Aku milikmu, semua yang ada dalam diriku adalah milikkmu, apa kamu bahagia, By?"
.
.
.
__ADS_1
Tentu, karna pada akhirnya aku tak butuh yang sempurna cukup yang bisa melengkapi kekuranganku, menerima ku apa adanya dan yang terpenting membuat ku nyaman saat aku berkeluh kesah dengan semua yang sedang ku alami.
Dan semuanya, ada padamu Mentari ku..