
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek
Pintu yang sejak tadi tertutup rapat akhirnya di buka oleh satu perawat, satu dokter pun keluar dan memanggil Awan sebagai suami dari pasien yang ia periksa barusan.
"Bagaimana dok?" tanya Awan saat ia sudah mendekat.
"Mari ikut keruangan saya, Tuan" ajak sang dokter yang begitu mendalami perannya sesuai perintah sang Gajah si pemilik rumah sakit.
Awan mengangguk paham, namun setelahnya ia memintak ke-dua orang tuanya itu untuk masuk lebih dulu menemani Mentari.
"Pergilah, Mimih akan jaga istrimu"
Setelah yakin sang putra sudah pergi dengan dokter dan dua suster, Cahaya dan Langit pun lekas masuk kedalam ruangan dimana menantunya berada.
"Mih, aku takut" ucap Mentari saat ibu mertuanya sudah duduk di tepi ranjang sedang Langit berdiri melipat tangan di dada.
"Tak ada yang perlu kamu takutkan, kita sudah hampir berada di akhir drama tinggal menunggu reaksi Awan padamu nanti"
"Aku dengar dia teriak tadi, Mih"
"Dia sedang lepas kontrol karna tak mau melepasmu, bukankah itu bagus?" ujar Langit dengan senyum hangatnya.
"Tapi dia masih menyebut nama wanita itu." lirih Mentari, tentu ia sedikit bisa mendengar perdebatan antara suami dan ayah mertuanya tadi di luar meski tak begitu jelas tapi nama Lisya sempat terdengar sekilas di telinganya
__ADS_1
Cek lek..
Awan masuk dan langsung menghampiri Mentari, kedua orang tuanya pun bergegas pindah agar putra mereka bisa lebih dekat dengan istrinya.
"Sayang, kamu gak apa-apa? masih sakit perutnya?" tanya Awan yang begitu khawatir.
"Udah enggak, maaf merepotkanmu"
"Apa kata dokter?" tanya Langit pada putra sulungnya.
"Mentari terkena usus buntu, Pih."
"Apa sudah parah? dan perlu di oprasi?" tanya Langit lagi yang di jawab gelengan kepala oleh Awan.
Cahaya dan Langit langsung berpamitan untuk pulang, dan kini hanya tinggal pasangan suami istri itu saja yang ada di dalam ruang rawat.
.
.
"Yakin udah gak sakit? kamu punya penyakit seperti itu dan gak bilang sama aku, kenapa?"
"Apa kamu perduli?" tanya Mentari.
"Tentu, Sayang. Aku perduli padamu" sahut Awan meyakinkan.
__ADS_1
"Tapi aku tak yakin. Jika hatiku saja tak kamu perdulikan lalu bagaimana dengan sakit badanku, By." ucap Mentari.
Mendengar hal itu Awan langsung naik keatas ranjang, ia peluk istrinya seolah esok tak akan bertemu lagi. Cairan bening di ujung matanya pun mulai kembali mengalir meski tak sederas di luar tadi. Tapi jika ia bisa jujur, tangisnya kali ini justru lebih sakit di rasakan.
"Jangan bicara seperti itu, aku sangat perduli padamu. Maaf karna aku sering menyakiti hatimu dengan aku yang selalu menyebut nama wanita di masa laluku." sesal Awan yang langsung mencium kening Mentari lama dan lembut.
"Aku paham perasaanmu. Tapi aku takut, aku takut tak lagi kuat bertahan jika terus begini. Ini lebih sakit dari luka apapun itu" ujar Mentari yang merasa pelukan suaminya justru semakin erat.
"Sayang, jangan pernah berniat untuk pergi. Aku tak akan pernah mengizinkan hal itu. Aku ingin kita bersama, selalu seperti ini"
"Dengan dia yang selalu menjadi bayang-bayang dalam pernikahan kita?" tanya Mentari.
"Sayang---"
"Sssstt... boleh aku memberimu satu pesan?" pinta Mentari yang jarinya kini ada di bibir Awan.
"Katakan, Sayang"
.
.
.
Jika masih ada, di jaga. Karna jika sudah hilang, sakitnya akan nyata.
__ADS_1