
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Huft, sakit banget!"
Mentari yang berada didalam kamar mandi terus merintih menahan rasa yang tak bisa ia gambarkan saat ini. Bukan sekali, tapi sudah sejak pagi seperti ini tepatnya setelah mengantar Awan sampai depan pintu utama kediaman Biantara.
"Apa kamu mau lahir? tolong tahan ya, Nak."
Mentari berjalan dengan sangat pelan, ia membuka pintu sambil terus menarik napas lalu dibuangnya perlahan, ia lakukan itu berulang sampai sakitnya hilang. Itulah yang dianjurkan dokter padanya saat terakhir ia memeriksakan kandungan bersama Sang suami.
Wanita berperut besar itu kini sudah sampai di tepi ranjang, ia duduk lalu meraih kalender yang berada di atas nakas. Mentari memperhatikan deretan angka berwarna hitam sambil terus menghitung maju.
"Masih seluruh hari kedepan jika menurut HPL" ia letakan lagi benda tersebut lalu meraih ponsel yang tergeletak disamping lampu tidur.
Dengan masih sesekali meringis, Mentari menekan satu nama yang paling berarti dalam hidupnya- Ibu.
Beberapa detik berlalu, akhirnya telepon pun tersambung pada wanita paling berjasa itu, bukan hanya karna sudah melahirkan dan membesarkannya saja, tapi juga sudah mau mengurus Si Cimol dengan sangat baik selama ia menikah.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Waalaikum salam, Nak. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Ibu tanpa basa basi lagi, sepertinya ia sudah merasakan firasat yang tak enak tentang putri semata wayangnya tersebut.
"Perutku sakit, Bu. Bagian bawah sedikit keram dan pinggang belakangku terasa panas," adu Mentari sambil kembali meringis.
__ADS_1
"Suami dan mertuamu ada? apa mereka tahu?" Ibu memberondong pertanyaan dengan nada panik luar biasa dan itu wajar sebagai orang tua yang jauh dari anaknya apalagi dalam kondisi seperti ini.
"Belum, Bu." Mentari menggeleng seolah Ibu ada dihadapannya.
"Cepat berita tahu mereka, dan periksakan kerumah sakit, jangan menunda lagi, paham?!" tegas Ibu yang semakin khawatir disebrang sana.
"Tapi masih sepuluh hari lagi, Bu."
"Ya ampun, Tari! itu hanya perkiraan dokter dan dokter itu tetap manusia. Yang menentukan kelahiran tentu hanya Tuhan semata, anakmu bisa lahir kapanpun Dia berkehendak," jelas Ibu yang justru malah geram mendengar alasan Mentari.
"Iya, Bu. Tari bilang Mimih dulu," ucapnya kemudian lalu menutup teleponnya.
Mentari meletakkan lagi Si benda pipih tersebut keatas nakas lalu bangun perlahan dari duduknya.
Langkah yang terasa berat itu seakan tak kunjung sampai ke pintu, ingin rasanya ia menangis karna merasa nyeri lagi dibagian bawah perutnya.
Ceklek...
Pintu ia buka dengan pelan, pandangannya beredar mencari pelayan untuk ia tanyai keberadaan para Nyonya besar Biantara kini.
"Kok tumben sepi banget ya," gumamnya sambil melanjutkan langkah menuju lift.
Sudah berbulan-bulan semenjak kehamilannya semakin besar, Mentari sama sekali tak di izinkan naik turun tangga oleh suami dan juga keluarganya, dan Si kotak besi adalah satu-satunya yang bisa membawanya dari atas ke bawah begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Triiiing...
Pintu lift terbuka setelah berbunyi sekali, Mentari lekas keluar menuju halaman belakang karna diruang tengah tak ada siapapun, ia yakin jika mertuanya pasti ada disana, entah di kebun atau mungkin di kandang para hewan peliharaan mereka.
Doooooor...
"Astaghfirullah!" pekik Mentari saat bahunya di tepuk seseorang dari belakang.
"Eh, Dadet Dede," kekeh Samudera sambil mengelus dadanya sendiri.
"Ada apa?"
"Enggak, Onty ada gak? tadi Amma nitip ini buat kasih ke mertuamu," jelas Samudera sambil memperlihatkan bungkusan yang ia bawa.
"Ini aku lagi cari, mungkin di ---"
"Aduh, Kak. Sakit banget," teriak Mentari yang hampir jatuh ke lantai jika Sam tak menahannya.
.
.
Huaaaaaaa.... Appa!!! Lontongin Dede Oey....
__ADS_1