Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Bisakah kamu hamil?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Hamil???" pekik Awan kaget dengan saran yang di berikan Langit untuknya.


"Kenapa? sudah kewajibanmu memberikan nafkah bathin pada istrimu, kalian halal melakukannya"


"Gak segampang itu, Pih. Aku ingin melakukannya atas dasar cinta bukan hanya tentang hak dan kewajiban." tegas Awan yang kurang suka dengan saran pria di depannya kini.


"Belum saja kamu merasakannya" ledek Langit dengan seringai di ujung bibirnya


Awan yang sadar maksud ucapan Pipihnya lebih memilih bangun dari duduk lalu keluar dari ruangan yang mendadak mencekam baginya itu.


Ia melangkah gontai ke arah kamar yang ada Mentari di dalamnya.


Ceklek..


"Tari--" panggil Awan saat ia masuk dan tak menemukan sosok gadis kecilnya didalam kamar.


"Mentari-- kamu di dalam?"


Awan yang penasaran terus saja mengetuk pintu kamar mandi berharap sang istri mau menyahut.


"Iya, Aku di dalam"


Mentari keluar dengan handuk kecil di tangannya dan itu membuat Awan curiga, ia tatap gadis itu dengan seksama terutama di bagian matanya.


"Kamu menangis?" selidik Awan.


"Enggak, kenapa?"

__ADS_1


"Gak apa-apa, aku cuma khawatir kamu nangis di dalam sana karna kejadian tadi" ujar Awan sambil melirik kearah kamar mandi.


"Aku capek nangis, aku mau nangis bahagia karnamu, boleh?" pinta Mentari yang di jawab anggukan kepala pelan sambil tersenyum.


"Tentu, aku sudah berjanji akan membahagiakanmu" balas Awan yang langsung memeluk tubuh kecil mungil istrinya.


"Cintai aku, maka aku akan sangat-sangat bahagia"


"Aku akan belajar, sabar ya Sayang"


Mentari mengangguk dalam pelukan suaminya, ia akan menurut apa kata Awan untuk terus ber sabar meski entah sampai kapan karna ia tahu hati tak bisa di paksa apalagi perihal cinta. Tapi, dengan Awan yang memang tak lagi berhubungan dengan sang Mantan pun sudah membuat ia yakin jika sang suami akan bisa ia miliki sepenuhnya. Tugasnya hanya memberi rasa nyaman agar perasaan itu lekas tumbuh lalu di berikan seutuhnya padanya.


.


.


.


"Aku senang di rumah utama, mereka Lucu-lucu" ucap Mentari saat menceritakan bagaimana ia bisa datang ke bangunan mewah tersebut kemarin.


"Lucu pasti dengerin debatnya, papAy, kak Sam sama Appa, kan?" tebak Senja.


"Iya, kak Sam janjiin aku liat gajah loh, tapi gak ada"


Senja dan Cahaya pun langsung tertawa, sepertinya menantu Biantara itu tak tahu siapa Gajah yang sebenarnya sampai harus kebingungan dan menganggap Sam berbohong.


"Ada kok, gajahnya besaaaaaaal dan baik hati" jawab Senja di sela gelak tawanya.


"Adanya cuma, burung, ikan sama kelinci doang loh"

__ADS_1


"Sudah-sudah, ini sudah malam. Kamu masuk kamar sana. Suamimu pasti menunggu" titah Langit karna pembahasan rumah utama Sepertinya tak akan selesai apalagi Cahaya dan Senja terus saja menggoda.


"Nah, iya. Cepetan kamar sana"


Mentari yang malu langsung memerah kedua pipinya, ia yang tak mau terus menerus di ledek akhirnya bangun kemudian bergegas ke kamar.


Ceklek


Mentari membuka pintu dengan sangat pelan, ia tak ingin mengganggu suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaan di dalam kamar.


"Kemarilah, aku ngantuk" pinta Awan sambil mengulurkan tangan setelah ia bangun dari sofa.


Mentari berlari kecil menghampiri Awan, ia tak menerima uluran tangan suaminya melainkan berhambur memeluk Awan.


"Aku juga"


Awan mencium pucuk kepala Mentari, beberapa malam tidur di ranjang yang sama tentu tak ada lagi kecanggungan diantara mereka.


Keduanya naik keatas tempat tidur, memilih posisi yang nyaman untuk bersiap mengarungi mimpi.


"Aku ingin bertanya sesuatu" ucap Awan sambil mengelus punggung istrinya.


"Tanya apa?"


.


.


.

__ADS_1


Bisakah kamu hamil tanpa kita harus melakukannya???



__ADS_2