Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Pesan sang Gajah


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Awan, kamu dimana, Nak?" tanya Reza saat ia melakukan panggilan telepon lewat video call sebab cucu bungsu Laki-lakinya itu.


"Baru masuk ruangan, aku abis meeting, Appa. Appa sehat?"


"Sehat, Sayang" sahut Reza dengan senyum khas nya yang membuat hati para keturunannya menghangat.


"Appa gak bilang sayang ke Dede?" protes Samudera, tahu jika sang Gajah akan menelepon sepupunya tentu ia sudah ribut duluan tak mau jauh.


"Sayang semuanya, De" ucap Reza sambil mengelus pipi cucu sulungnya, melihat hal itu Awan langsung mencibir sambil meledek.


Beruntungnya Awan maupun Gala tak pernah ambil pusing dengan tingkah menyebalkan kakak mereka.


"Geseran apa, De!"


"Appa dede Oey" sahutnya yang malah usel usel manja di dada Tuan Besar Rahardian.


"Belum aja Gajahnya aku culik!" ancam Awan yang langsung membuat kepala Samudera bertanduk dua.


"Jangan macem-macem ya! kamu kan punya Phyton. Gak usah ganggu Gajah kakak!" protes Samudera.


Awan yang semakin senang menggoda terus saja meledek. Keduanya bagai tak ingat umur dan status yang kini sudah masing masing memiliki istri. Sedang Reza yang mendengar perdebatan kedua cucunya hanya bisa memijit pelipisnya sendiri. Niat hati ingin menanyakan perusahaannya yang berada di negara J justru malah menyaksikan dua jagoan kebanggaannya itu saling melempar ledekan.


"Kalian ribut mulu, Appa kabur ya"

__ADS_1


Samudera dan Awan langsung menutup mulut mereka masing-masing karna tak ingin merasakan hilangnya Reza untuk kedua kalinya padahal pria baya itu hanya berpura-pura marah saja.


"Maaf, Appa" ucap keduanya berbarengan. Jika awan ada, tentu ia juga akan melakukan hal yang sama seperti Samudera yaitu memeluk pria kesayangannya tersebut.


Reza kembali berbincang dengan Awan, ia menanyakan semua perkembangan perusahaan pada si bungsu. Umur boleh tua, tapi jiwa bisnisnya masih meronta.


"Aku akan lakukan yang terbaik, Appa. Appa tenang saja. Jika semua selesai aku akan cepat pulang" ucapnya meyakinkan.


"Bagus, pulanglah dengan membawa kabar baik ya, Nak"


"Tentu, Appa"


"Apa kamu merindukan Istrimu?" pancing Reza yang sejak tadi memperhatikan ada yang lain di kedua mata Awan.


Reza melempar senyum terbaiknya agar Awan mau sedikit bercerita tentang apa yang di rasakannya kini.


"Apa Appa tak akan rindu pada Amma jika kalian sedang berpisah?" Awan justru balik bertanya yang malah membuat Reza terkekeh.


"Tentu, karna Appa sangat-sangat mencintai Ammamu. Wanita itu selalu di hati Appa dan tak akan pernah terganti" jawab Reza yang sebenarnya menyindir.


"Cieeeeee, Appa! dede mau ikutan dong di hati Appa, muat nda?" goda Samudera.


"Jangan suka ngeribetin" cetus Reza dengan wajah sedikit memerah karna malu.


Awan tersenyum simpul, ia memang bangga dengan Appanya yang selalu me Ratu kan Amma. Ia tak perlu memberi tahu siapapun karna semua manusia di dunia halu paham sebesar apa cinta mereka.

__ADS_1


"Akupun sama, sepuluh hariku disini sangat berat ku lewati tanpanya. Aku butuh Mentari disisiku" lirih Awan.


"Jangan hanya sekedar butuh, cintai ia dengan segenap hatimu" pinta Reza.


"Sedang ku usahakan. Akan ku geser sedikit demi sedikit nama Lisya dari hatiku dan menggantinya dengan Mentari"


"Apa kamu masih mengingatnya?" selidik Reza.


"Sesekali, melupakannya masih sulit ku lakukan tapi setidaknya aku tak lagi tersiksa saat menahan ingin bertemu dengannya. Hem, lebih tepatnya aku tak lagi berniat menemuinya." jelas Awan yang sedikit membuat hati pria baya itu sedikit lega.


"Lakukan perlahan, terbiasa tanpanya adalah kunci utama untuk bebas dari belenggu masa lalu" pesan Reza.


"Dan satu hal yang harus kamu tahu juga, Awan"


"Apa itu, Appa?"


.


.


.


Saat kamu menyia-nyiakan orang yang dengan sangat tulus mencintai mu. Melakukan semua yang terbaik untukmu, selalu menghargai mu dan mengutamakanmu tapi kamu malah dengan bodohnya tak bersyukur dengan apa yang kamu miliki.


Percayalah, kamu tak akan menemukan cinta hebat lagi selain dirinya.

__ADS_1


__ADS_2