Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Rumah utama


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Braaaakkk


Rain yang masuk mobil paling akhir sedikit membanting pintu sampai kedua sepupunya kaget dan menguasap dada mereka masing-masing.


"Astaghfirullah," ucap Skala sambil menggelengkan kepala. Ia yang dari keturunan jalan yang lumayan lurus masih ingat dengan kata-kata baik meski hidupnya agar belok sedikit.


"AnJIr! kaget gue woy," timpal Heaven sambil menoleh kebelakang. Lain hal dengan pria ini yang memang kental dengan darah Mafia, jadi tak salah jika bibirnya begitu pasih mengucapkan kata kotor.


Rain yang merengut langsung menadahkan tangan ke hadapan keturunan Si Phyton, Timun dan hasil maju mundur Si Jalu.


"Apa?" tanya Heaven belum paham.


"Bum tadi bayar obat lo!" cetus Rain, bibirnya yang merah alami semakin terlihat menggoda jika sedang merengut.


"Amal, Bum Ganteng, Keh" sahut Heaven sambil tersenyum.


"Gak! itu jatah buat lahiran Si Uwi, dia mau Cesar minggu depan," kata Rain masih memaksa Heaven mengganti uangnya.


"La, kasih dulu tuh bocah, tar nangis kita di sleding Buaya," ujar Heaven pada Skala.


"Kita? lo doang kali, gue mah udah otewe TOBAT. Udah gak mau bikin dosa nangisin Si Bum-Bum," cibir Skala yang juga sambil terkekeh.

__ADS_1


"Sialan lo!"


Ketiganya kini pulang kerumah utama, Heaven tentu tak berani jika pulang ke kediaman Biantara karna papahnya pasti tahu jika motornya kembali jadi santapan aspal ditengah malam buta seperti ini. Skala yang menyetir mobil bagai jalan miliknya sendiri, tak perduli dengan pengendara lain. Ia yang tak ingin di dahului tentu akan mengeluarkan umpatan kasar saat itu terjadi.


"La, Bumbum belum kawin loh," rengek Si bungsu Rahardian di kursi belakang.


Skala tak menggubris, apalagi ada Heaven yang jadi team hip-hip horenya.


.


.


.


Tapi sungguh malang nasib Rain, Skala dan Heaven saat mereka sudah sampai di ujung tangga lantai dua rumah utama.


"Dari mana?" tanya Tuan besar Rahardian.


"Hehe, PapAy." sahut ketiga berbarengan saling senggol.


"Bum, masuk kamar ya, pAy. Ngantuk, keh," pamit Si imut pada Buaya kesayangannya.


"Skala juga, papAy istirahat ya, jangan tidur malem malem," timpal putra tunggal Barata.

__ADS_1


"Heaven pengen pipis!"


Si biang rusuh nyatanya sudah kabur duluan menuju kamar Rain, hawa tak enak dirasakan Heaven saat sorot mata Air tak lepas memandangnya.


Dan saat mereka sudah berhasil menghilang dari hadapan PapAynya kini gantian lah Rain yang mengomel.


"Kalian kan punya kamar, sana!" usirnya sambil memukuli Skala yang sudah berbaring ditengah ranjang sambil memeluk Boneka gajahnya.


"Diem! lagi kangen Appa nih," ujar Skala.


Mendengar kata Appa, Rain dan Heaven meringsek naik keatas ranjang. Ketiga pria tampan itu akhirnya duduk mengitari gajah abu abu yang sudah turun menurun.


Meski tak banyak kenangan bersama pria baya itu, tapi sosok Appa memang tak terganti oleh siapapun, begitupun dengan Amma yang selalu memeluk mereka dengan hangat.


Para keturunan Rahardian itupun diam termenung. seolah sedang memutar memory mereka masing-masing yang hanya sekilas dan tak banyak tapi cukup terkesan dan berbekas di hati dan otak mereka.


"Appa lagi apa ya, Appa dimana?"


"Appa disini, hihihihi,"


.


.

__ADS_1


Huaaaaaaaaaa..... kabuuuuuuur!!!!!!


__ADS_2