
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
" Kok, Abang?" protes Langit saat mendapat tugas dadakan dari papihnya.
"Ya sudah, Cahaya saja kalau gitu yang bikin sambel, kamu ngulek sana."
Mendengar nama istri tercinta disebut, tentu membuat Langit panik. Ia yang tak pernah mengizinkan Cahaya masuk dapur tentu tak akan terima jika tangan wanita yang teramat dicintainya itu menyentuh cabe, garam dan cobek, terlebih terasi. Karena, jika itu terjadi tentu ia juga akan digantung hidup-hidup oleh papa mertuanya.
Sang Gajah akan ikut murka melihat anak bungsu kesayangannya mengeluarkan tenaga hanya demi menghancurkan bumbu.
"Abang aja," jawab Langit cepat pada Papihnya sambil merengut kesal.
"Gak apa-apa, biar adek aja, Bang." Cahaya yang tahu suaminya itu terpaksa tentu menawarkan diri sendiri.
"Kamu diem aja, Abang gak mau ya dipecat jadi mantu sama Papah," balas Langit, ancaman seperti itu adalah satu-satunya yang paling ia takutkan seumur hidup.
Awan yang sudah turun dari atas pohon datang dengan tiga buah kedongdong ditangannya yang langsung diberikan pada Tuan besar Bintara.
Pria baya itu tersenyum puasa dan senang bagai menerima sebongkah berlian.
"Banyak uletnya," ucap Awan sambil bergidik geli.
"Tuh kan. Papih bilang apa, ambil yang banyak kan kasihan kalau Awan manjat pohon lagi," ujar Adam yang membuat anak dan cucunya itu tercengang.
"Beli, Pih. Nanti aku beliin segerobak buat Papih," jawab Awan yang langsung menolak sambil marah-marah.
__ADS_1
Plaaaak..
"Mau bikin Papih mu ini masuk rumah sakit, hah?" omel Diana sembari memukul lengan cucu kesayangannya itu sampai Awan meringis sakit.
.
.
Drama rujak kedongdong berlanjut di dapur bersih, Adam duduk dimeja makan ditemani sang istri tercinta yang sedang membersihka buah berwarna hijau tersebut. Sedangkan Langit masih bergelut dengan cobek beserta bumbunya. Diana sesekali menoleh pada pria cinta pertamanya itu yang terlihat begitu antusias ingin segera menikmati rujak si buah asam itu.
"Papih yakin? jangan banyak-banyak ya, takut sakit perut. Papih harus ingat kesehatan Papih," ujar Diana sangat khawatir.
"Iya, Mih."
"Hem, iya Pih," sahut Cahaya sambil meraih ponselnya.
Mentari yang baru datang bersama Awan usai membersihkan diri langsung ikut bergabung dimeja makan yang kini diatasnya sudah tersedia buah dan sambelnya.
"Kok jadi banyak kedongdong nya?" tanya Awan bingung karna seingatnya hanya tiga yang ia ambil dari atas pohon.
"Iya, nyuruh orang kebun buat ambil lagi barusan," jawab Diana karna Cahaya masih berbicara dengan papahnya lewat sambungan telepon.
"Bagaimana?" tanya Adam yang sepertinya sangat mengharapkan kedatangan besannya tersebut.
"Iya, Pih. Mereka akan kemari," jawab Cahaya.
__ADS_1
Sambil menunggu pasukan Gajah datang, mereka mengisi waktu dengan mengobrol termasuk memberi nasihat dan saran bagi pasangan si calon orangtua itu. Awan dan Mentari hanya bisa tersenyum sambil mengangguk paham. keduanya harus bisa menjaga sang calon jabang bayi dari dua keturunan keluarga luar biasa tersebut.
Dan tak lama, Tuan besar Rahardian beserta rombongan pun datang. Mereka disambut baik oleh Adam dan Diana yang kini sedang sama sama bahagia.
"Ayo duduk," titah Adam yang kini semunya siap menarik kursi meja makan masing-masing.
"Ini apa?" tanya Embun pada PapAynya. Bocah menggemaskan seolah aneh dengan apa yang dilihatnya.
.
.
.
Ini tuh, RUJAK KEPONGPONG...
Masih pagi woy!!!
Mules sumpah sambil nahan ngeces soalnya dimulut berasa asem terus banjir..
Bener gak.?
bener dong, buktinya si Buaya ampe keseleo jawabnya 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1