
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Valen, ini semua sudah kamu cek, kan?" tanya Awan pada sekertaris seksinya.
"Sudah, Pak. Sudah saya kirim juga ke email Bapak" jawabnya dengan senyum ramah namun menggoda, dari semua pria di kantor hanya Bos nya saja lah yang tak acuh padanya selama ini, padahal Valen sudah menaikan sedikit demi sedikit roknya agar terlihat lebih pendek menantang. Belum lagi dua buah dadanya yang menyembul besar seolah ingin di lahap.
"Ya sudah, kalau begitu saya pulang ya, kamu bereskan sisanya" pamit Awan sambil bangun dari duduk. Ia tinggal kan sang Sekertaris yang masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya.
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan"
Awan keluar dari ruangannya dengan sedikit tergesa, ia meraih ponsel di saku jasnya berharap ada satu pesan dari Mentari, tapi hasilnya room chat di di dalam benda pipih itu kosong tanpa pesan baru.
"Kemana sih? padahal udah di bilangin buat kasih kabar kalau sudah sampai rumah. Ini pasti lagi video call sama si Cimol. Awas aja tuh Embe, Lama-lama gue jadiin gule kambing baru tau rasa!" oceh Awan yang entah kenapa justru kesal pada hewan peliharaan Mentari yang jauh di sana.
Awan yang sudah sampai di parkiran langsung masuk kedalam mobil, melajukan kendaraan mewah miliknya itu dengan kecepatan tinggi karna kebetulan ini memang belum jamnya pulang kantor, tentu tak terlalu macet hingga harus memakan waktu lebih lama di jalan.
Selama perjalanan pulang, rasa resah tak karuan terus menyelamuti hati Awan yang ingin segera sampai di kediaman Biantara.
.
.
.
Sampai di dalam bangunan mewah tersebut, ia menoleh saat namanya di panggil oleh seorang wanita yang tentu suaranya sudah sangat Awan hafal di luar kepala.
"Awan"
__ADS_1
"Iya, Mih. Ada apa?" tanya Awan pada Cahaya.
"Mentari mana? kok kamu pulang sendiri?"
Deg...
Hatinya mencelos dengan debaran jantung yang langsung berdetak ribuan kali lipat saat mendengar pertanyaan dari Mimihnya, Awan pun lekas mendekat untuk memastikan.
"Mentari belum pulang?"
"Belum, Nak. Katanya mau ke kantor mu" jawab Cahaya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi dia sudah pulang sejak siang, Mih" teriak Awan frustasi, ia langsung berlari ke keluar menuju mobilnya lagi.
Braaaaakk.
Pintu kereta besi mewah itu di tutup dengan keras oleh Awan, ia nyalakan dan ia lajukan dengan kecepatan tinggi dengan pikiran tak karuan.
Awan akhirnya menelepon supir kantor yang ia tugaskan mengantar istrinya pulang, dan betapa terkejutnya pria tersebut saat tahu Mentari sama sekali tak muncul di lobby depan dan itu artinya Mentari hilang entah kemana.
"Sial!! lo kemana sih? jangan bikin gue takut kaya gini" umpat Awan kesal dengan nada bergetar.
Pikirannya yang kalut akhirnya berpusat pada rumah utama. Appanya tak mungkin tak tahu apa-apa meksipun begitu setidaknya ia bisa meminta pasukan Gajah untuk membantu mencari keberadaan sang istri.
Di rumah utama Awan langsung naik ke lantai dua, suara gelak tawa dari keluarga besarnya membuat ia menghentikan langkah di ujung tangga. Tubuhnya lemas saat melihat Mentari ternyata ada di dalam pelukan Amma nya.
"Mentari" panggil Awan yang justru membuat semuanya malah menoleh.
__ADS_1
"Awan, sini Nak" sahut Melisa, ada Reza juga di sana yang tersenyum kecil pada cucu bungsunya.
Kali ini yang pertama ingin ia peluk saat datang kerumah utama bukan pasangan baya itu, melainkan Awan langsung menarik tangan Mentari untuk di jatuhkan ke dalam dekapannya.
"Kenapa gak bilang kalau mau kesini?" bisik Awan yang sudah memeluk tubuh mungil sang istri.
"Hem, lupa. Gak niat juga mau kesini." jawab Mentari dengan senangnya. Sungguh ini di luar dugaannya.
"Jangan gini lagi ya" pinta Awan lirih semakin mengeratkan pelukan..
"Kenapa? Apa kamu sudah menyayangiku?" tanya Mentari.
.
.
.
"Enggak!!! Aku gak sayang kamu, tapi aku takut kehilangan kamu. Aku butuh kamu"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ini konsepnya gimana ya, Bang ?
Gue kok lier kaya utel utel nih kelapa 🤣🤣
Amma, panci aman kan?
__ADS_1
Pinjem satu boleh laaaaaaaaaah. 😗😗
Entun riview lama, jadi sabar ya 😭😭