Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Dokter Shella


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Mentari yang baru saja meletakkan gelas berisi teh manis yang tinggal separuh itu dikagetkan dengan suara pintu. Dan ia yakin jika itu adalah dokter keluarga yang datang.


"Aku buka dulu ya, By," ucap Mentari sambil bangun dari duduknya. Langkahnya begitu pelan menuju pintu berwarna putih tersebut.


Ceklek


"Maaf, Nona. Dokter Shella sudah datang," kata pelayan yang mengantar seorang wanita muda berjas putih dengan tadi jinjing ditangannya.


"Iya, silahkan masuk, Dok,"


"Permisi, Non,"


"Ya, terimakasih," sahut Mentari yang akhirnya mengikuti langkah dokter cantik itu menuju ranjang tempat dimana suaminya berbaring.


"Selamat pagi, Tuan. Apa yang dirasa?" tanya dokter Shella, ia duduk di kursi sisi tempat tidur.


"Pusing, lemes dan mual," jawab Awan.


"Maaf ya, saya periksa dulu."


Plaaaaak


"Jangan sentuh!" pekik Mentari yang membuat Dokter dan Awan menoleh cepat padanya.


"Jangan sentuh suami saya," ulangnya dengan nada marah dan tak suka.

__ADS_1


"Kalau tak disentuh, lalu bagaimana saya memeriksa Tuan?" tanya dokter Shella bingung. Ia menoleh kearah Awan yang tersenyum kecil lalu mengangguk.


Belum Mentari menjawab, suara pintu terbuka setelah mengetuk beberapa kali mengalihkan pandangan mereka bertiga.


"Bagaimana?" tanya Cahaya, ia datang bersama suami dan mertuanya.


"Belum diperiksa, Nyonya," jawab dokter Shella yang bangun lalu menunduk hormat kepada Nyonya dan Tuan besar Bintara.


"Kenapa?" tanya Diana, wanita berlesung pipi itu bejalan mendekati cucu laki-laki pertama dan satu-satunya.


"Hem, saya, ---" Dokter Shella menggantung ucapannya seraya melirik kearah Mentari.


"Kenapa?"


"Gak boleh sama aku!" sahut Mentari lantang tanpa rasa takut.


Kini semua pandangan mata tertuju padanya. Sadar diperhatikan, Mentari malah berhambur memeluk Awan, dan itu tentu membuat orang didalam kamar saling melempar tanya Lewat sorot mata.


.


.


"Kenapa?" tanya Awan saat hanya mereka berdua yang ada didalam kamar.


"Dia mau pegang kamu, kamu pikir aku suka?" oceh Mentari yang masih menyembunyikan wajahnya didepan dada Awan.


Pria itu tertawa gemas, ia mengeratkan pelukan sampai Mentari protes karna sulit bergerak.

__ADS_1


"Kalau gak dipegang, gimana periksanya? bener loh apa kata dokter Shella barusan," balas Awan yang kemudian mrnciumi pucuk kepala istri tercintanya.


"Gak usah diperiksa, langsung kasih obat aja."


Awan yang melihat bibir Mentari yang mengerucut menahan kesal, tentu membuat pria itu gemas dan langsung menyambarnya dengan cepat. Ciuman yang awalnya hanya sekilas perlahan menuntut lebih dan dalam. Desa han pun keluar begitu saja dari mereka yang kini sudah tumpang tindih.


Adegan maju mundur cantik pun dilakukan oleh Awan dengan lembut karna ia tak pernah lupa jika dalam rahim Sang istri ada buah cintanya.


Erang an nikmat saling menyahut menandakan keduanya sudah hampir berada berada dipuncak pelepasan. Mentari langsung mencengkram kuat-kuat bahu Awan saat dirasa ada sesuatu yang ingin meledak dibagian tempat si Jalu bermain saat ini.


"Sakit?" tanya Awan khawatir saat melihat Mentari masih memejamkan kedua matanya, dadanya pun terlihat naik turun sambil terus mengatur napas karna lelah mengeluarkan banyak keringat.


"Enggak, By. Gak sakit kok," jawab Mentari pelan bahkan hampir tak terdengar.


"Terus kamu kenapa?" Awan yang panik sampai menepuk pipi istrinya.


.


.


.


Enak....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kampretto!!!!

__ADS_1


Seenak apa sih Si Jalu 🤣🤣


Nyolek dikit, buweh???


__ADS_2