Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Milyaran Rupiah..


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Pagi yang aneh di rasakan Awan saat ia membuka mata karna biasanya ada tubuh mungil Mentari yang ia dekap dengan hangat. Awan memang tak pernah mengizinkan wanita halalnya itu beranjak dari ranjang sebelum ia benar-benar ingin bangun untuk membersihkan diri sebelum sarapan dan pergi ke kantor.


"Kangen, Woy!" teriak Awan frustasi dengan mengacak rambut dan mengusap wajahnya sendiri.


Ia menoleh kearah samping tempat tidur yang terdapat nakas tempat ia menyimpan ponsel. Jika disini masih pagi ia bisa pastikan jika disana sudah sudah beranjak siang karna memang perbedaan waktu beberapa jam di antara dua negara tersebut.


Awan langsung mengirim pesan dengan pertanyaan beruntun pada Mentari, ia sungguh sangat penasaran dengan apa yang di lakukan istrinya itu saat ini. Bahkan pria yang masih nyaman di balik selimut itu tak segan juga meminta foto dan video.


Satu, dua, tiga menit berlalu begitu saja.


Tak ada pesan balasan dari Mentari tentu membuat Putra Mahkota Biatara itu kesal menunggu kabar.


Panggilan telepon pun menjadi pilihan akhir sekaligus meredakan rasa rindunya juga.


Nada panggilan terus Awan dengar sampai berkali-kali hingga bosan sendiri.


"Lagi ngapain sih nih cewek, bikin kacau hati gue aja pagi-pagi!" umpat kesal Awan


.


.


.


Sedang yang di pikirkan saat ini justru sedang asik bermain dengan burung-burung peliharaan Tuan besar Biantara di halaman belakang.

__ADS_1


Mentari terus berceloteh dan bernyanyi bahkan diam diam mengungkapkan isi hatinya yang tak berani ia ceritakan pada siapapun.


Semua hanya tahu ia sosok gadis baik hati dan periang tapi tak ada yang tahu jika selama ini u


ia selalu menekan rasa cemburunya agar tak terlihat egois di mata sang suami.


"Tari, dimana ponsel mu, Nak?" tanya Cahaya yang tiba-tiba datang mengagetkan nya.


"Ponsel?" gumam Mentari yang nampak berpikir.


"Di kamar, Mih" Sahutnya cepat saat ingat dimana ia meletakkan si benda pipih tersebut.


"Awan menanyakanmu pada Mimih. Cepat ambil ponselmu dan hubungi dia kembali"


Mentari mengangguk, ia dengan cepat bergegas masuk kedalam rumah dan kamarnya.


Mentari menyambar ponsel miliknya di tengah kasur dan benar saja yang di katakan ibu mertuanya. Ada beberapa panggilan telepon dan pesan masuk yang menumpuk, tentu semuanya dari sang suami yang kini berada jauh di negara J.


Gadis cantik dengan dress merah maroon itu langsung membalas satu persatu semua yang di tanyakan Awan dengan perasaan takut.


"Iya, Hallo" jawab Mentari.


Merasa mendapat balasan dari sang istri, Awan justru langsung menelepon. Tak sabar rasanya jika harus menunggu lagi dan lagi.


"Kamu dari mana?"


"Kan tadi usah ku bales, kenapa masih nanya?"

__ADS_1


"Aku mau denger langsung!" jawab Awan dengan nada sinis masih menahan kesal.


Mentari membuang napas kasar, jika pria itu ada di depannya sudah tak bisa di bayangkan apa yang akan di perbuat Awan padanya saat ini.


"Aku di halaman belakang, lupa bawa ponsel, By" jelas Mentari sama seperti pesan yang ia kirim barusan.


Mentari sampai menggigit bibir bawahnya sendiri menunggu Awan melontarkan pertanyaan lagi.


"Ngapain di halaman belakang?"


"Ngajak main Bicho. Aku bingung mau ngapain"


"Emang gak sibuk kangenin aku?" goda Awan yang menahan tawa. Andai Mentari ada di depannya saat ini ingin rasanya ia tangkup wajah merah merona istrinya lalu di ciumi dengan gemas.


"Enggak" sahut Mentari.


"Yakin? tapi aku kangen loh"


"Masa sih?" tanya Mentari masih menekan rasa senangnya.


.


.


.


Hem, iya.. dan andai Kangen itu bayar aku pastikan kalau aku pasti langsung miskin dadakan karna harus bayar milyaran rupiah demi kangenin kamu!!

__ADS_1



__ADS_2