Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Kebon belakang.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rujak berjamaah di kediaman Biantara diakhiri dengan tangisan para pria, Sam yang merasa lidahnya bagai terbakar terus saja merengek di dalam pelukan sang Gajah.


"Abang nih! si dede kan jadi kepedesan!" omel Air saat melihat putra semata wayangnya itu menangis dengan mata dan hidung yang merah.


"Tau pedes, kenapa gak udahan," jawab Langit.


"Enak," sahut si Turut Markentut.


Dan di jam sebelas malam akhirnya keluarga Rahardian pun berpamitan untuk pulang, meski sudah ditahan dan minta agar menginap nyatanya semua tetap akan kembali kerumah masing-masing.


Doa dan harapan membanjiri Mentari saat semua keluarga suaminya itu memeluk hangat tubuhnya yang kini sedang berbadan dua. Ia pun kembali terharu dan berjanji akan menjaga keturunan dua keluarga paling berpengaruh itu.


Setelah mengantar sampai pintu utama, Awan membawa istrinya itu menuju kamar mereka dilantai dua menggunakan lift, ia juga tak lupa untuk berpesan untuk tak lagi menggunakan tangga jika naik dan turun.


Mentari hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, ia begitu menikmati ocehan sang suami yang menurutnya sangat menggemaskan.


.


.


"Sayang, aku masih bisa ngusrukin si Jalu kan?" tanya Awan, ia yang belum paham betul tentang kehamilan tentu merasa khawatir.


"Boleh, tadi dokter bilang gak apa-apa asalkan pelan," sahut Mentari.

__ADS_1


Awan menarik napas dan membuangnya pelan, harusnya momen pertama kali ini mereka lakukan bersama, bukan justru malah Mentari saja yang seorang diri memeriksakan kandungannya meski itu secara tak disengaja.


"Kenapa?" tanya Mentari yang dijawab gelengan kepala.


"Kapan kontrol lagi? nanti aku ikut ya."


"Tentu, bulan depan kita kerumah sakit bersama, By. Dan aku rasanya tak sabar," jawab Mentari yang kemudian berhambur memeluk suaminya.


.


.


Kini hari hari dijalani pasangan berbahagia itu dengan perasaan jauh berbeda, Awan yang sudah cinta kini semakin cinta pada istri yang dulu selalu saja diabaikan perasaannya. Bahkan ia sudah sangat tak ingin lagi menoleh kebelakang. Jikapun iya, ia akan mengutuk dirinya sendiri karna sudah bersikap bodoh mengacuhkan cinta tulus Mentari padanya.


"Jangan pulang terlalu sore ya, aku mau jalan-jalan," pinta si ibu hamil saat memasangkan dasi dileher suaminya.


"Hem, entah. Nanti ku pikirkan lagi, yang penting jalan-jalan, Ok."


Awan mengangguk kemudian memeluk hangat tubuh Mentari yang belum terlihat berbeda termasuk perutnya yang masih rata.


"Baiklah, pikirkan baik-baik, sore nanti kita pergi," jawab Awan, tak lupa ia juga menciumi seluruh wajah si calon ibu buah hatinya tersebut.


Dirasa sudah rapih, keduanya pun keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan, Mentari masih aman karena sama sekali tak merasakan morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya.


Mentari yang bergelayut manja membuat Awan begitu bahagia mengawali harinya, ia bisa pastikan jika pekerjaannya akan cepat selesai jika suasana hatinya baik.

__ADS_1


"Kok sepi?" bisik Mentari.


"Iya," sahut Awan yang juga sama bingungnya seperti sang istri.


Tapi mereka tetap melanjutkan langkah sampai tepat berhenti di meja makan.


"Pada kemana? tumben cuma ada Mimih sama Mamih?" tanya Awan saat ia hanya melihat dua wanita kesayangannya saja, Cahaya dan Diana.


"Pipih kamu lagi nemenin Papih dikebon belakang," sahut Cahaya pelan.


"Ngapain lagi?" Awan dan Mentari bertanya secara berbarengan.


.


.


.


Nunggu duren jatoh...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Beli ngapa 😭😭😭😭


Malu-maluin gue ih, cenah mah Mafia konglomerat 🤧 😏😏😏

__ADS_1


Hampura, up nya kemaleman 😍


__ADS_2