
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku gak bisa liat Awan seperti ini, Mas. Bilang sama semua dokter di rumah sakit untuk sembuhkan cucu mantuku. Mentari harus bangun, mereka harus bahagia" rengek Melisa dalam pelukan Reza setelah mereka pulang menjenguk Mentari.
Melisa salah satu orang-tua yang ikut terpukul dengan musibah yang sedang di alami keluarga Biantara. Ia terus saja menangis ketika melihat Awan begitu terluka sampai berantakan
Dunia pria itu bagai hancur seketika, apalagi semuanya tahu bagaimana rumah tangga pasangan itu yang sebenarnya. Sebelum Mentari mengalami kecelakaan yang di akibatkan oleh pohon tumbang di jalan, Melisa bisa melihat luka yang terbungkus rapih oleh senyuman. Hati gadis itu begitu sabar menunggu uluran tangan sang suami yang mau mengajaknya masuk dan tinggal di dalam hati sana.
Mentari adalah pilihan terakhir Reza dan Adam dari sekian banyak gadis yang menjadi kandidat Nona muda Biantara. Dua pria baya itu memang langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihat Mentari sampai terus mencari tahu dan merayu orang-tua gadis itu.
"Jangan menangis, banyak banyaklah berdoa, Ra. Semua kita serahkan pada yang berkuasa menuliskan takdir" balas Reza yang masih terus menenangkan Khumairahnya.
Mereka yang berkumpul di rumah utama semuanya merasakan hal yang sama pula. Bangunan mewah itu kini sedang berselimut duka dari cucu bungsu Rahardian Wijaya.
Air dan Bumi yang tak lain adalah kakak kembar Cahaya tentu bisa merasakan luka yang di rasakan adik mereka. Keduanya terus menguatkan bukan hanya pada Cahaya saja tapi juga Senja.
"Kamu istirahat ya, jangan sampai ikut sakit" titah Hujan pada keponakannya itu.
"Dadaku sesek, Moy" jawabnya sambil meremat baju bagian dadanya sendiri.
Semua tahu, Senja sedikit banyak bisa merasakan apa yang Awan rasakan. Sakitnya pria itu sungguh sangat di mengerti adiknya. Dan rasanya sulit untuk di ungkapkan.
__ADS_1
"Aku antar ke kamar yuk" ajak Biru yang sedari tadi bahunya di jadikan tempat bersandar Senja.
"Hem, ayo"
Dua wanita itu bergegas bangun, Biru menuntun Senja menuju lift karna rasanya gadis itu tak mampu jika harus menapaki anak tangga satu persatu.
.
.
.
"Gimana? belum ada perubahan?" tanya Gala, kini Mentari sudah di pindah ke ruangan yang bisa di jenguk oleh beberapa orang meski dalam batas waktu yang di tentukan.
"Belum, masih nyenyak tidur" jawab Awan yang pandangannya kembali ia alihkan lagi ke arah istrinya.
"Sabar ya, semua butuh waktu. Tapi yakin aja ini gak akan lama. Istrimu pasti sadar dan sembuh seperti semula" ucap Gala lagi, di banding Sam ia memang jauh lebih dewasa karna yang ada di otak si Tutut hanya sang Gajah seorang.
#SamaDong.
#TosDuluTut
__ADS_1
"Aku harap begitu, aku hanya ingin ia tahu dan dengar jika aku sangat mencintainya" lirih Awan yang kini tanpa air mata yang jatuh ke pipi.
Ia sedikit sudah bisa menerima kenyataan tentang ujian rumah tangganya yang baru seumur jagung tersebut.
"Mau kakak bantu gak, Wan?" tawar Samudera yang baru buka suara.
"Bantu apa?" tanya Awan dan Gala berbarengan, sepertinya hawa tak enak sudah menyelimuti perasaan dua pria tersebut.
.
.
.
Lapor pulici, buat tangkep si Pohon biar masuk penjara Oey...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ngelawak bae lu Tut 🤧
Dasar si otak sengklek kang Fitnah si Ireng 🤣
__ADS_1