Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Surat pemanggilan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Bell masuk sekolah yang berbunyi membuat semua siswa siswi sekolah mewah bertaraf Internasional itu berhambur masuk kedalam kelas mereka masing-masing kecuali Heaven, ia masih betah berdiri dengan bersilang tangan didepan pintu melihat teman-temannya satu persatu masuk hingga terakhir tentu Sang guru yang datang dan bersiap untuk mengajar.


"Ngapain kamu? bukannya cepat masuk," kata Pak Darno, salah satu guru yang cukup sering dibuat kesal oleh Heaven.


"Toilet, Pak." jawabnya santai sambil melengos begitu saja.


"Hey, Heaven! kamu tadi ngapain aja? saya datang malah pergi! jangan ikuti pelajaran saya hari ini," teriak pak Darno sambil menatap punggung anak didiknya yang semakin jauh dari pandangan.


"Alhamdulillah, Bapak loh yang suruh saya buat ga ikut," balasnya sambil tertawa meledek.


Heaven dan Skala memang memiliki sifat yang tak jauh berbeda, tapi yang paling terparah tentu anak dari Rahardiawan putra Biantara, karna yang manis tentu hanya anak Tutur Markentut. Sudah bisa kalian tebak 'kan, bagaimana diriku ini pilih kasih!


.


.


.


Jam pelajaran pertama selesai, Heaven yang berada di kantin kembali ke kelasnya. Semua teman-temannya sudah tahu dan hafal betul dengan kelakuan pria itu. Tak ada yang berani buka suara apalagi melempar sindiran karna Heaven tak akan segan menghabisi. Darah Adam Si Mantan Mafia rasanya cukup kental ada padanya.

__ADS_1


Heaven yang tak mengikuti jam pelajaran pertama langsung dipanggil keruang guru seperti biasa. Ia yang tahu apa yang akan ia dapatkan tentu hanya bisa melenggang dengan santai.


Cek lek


"Siang, Pak."


"Kamu lagi, kamu lagi, sudah ini sudah sangat bosan saya sama kelakuan kamu. Ini lihat, selama ini hanya berapa kali kamu ikut pelajaran saya?" omel Pak Darno guru sejarah yang menurut Heaven sangat mengantuk bagai mendengar dongeng sebelum tidur.


"Bapak jangan salahin saya, kan bapak yang suruh!" tegas Heaven tak mau kalah.


"Berikan ini pada orangtuamu, jangan sampai lupa dan tak datang," titah Pak Darno sambil menyodorkan sebuah amplop putih pada Si pewaris kekayaan Biantara.


Heaven mengambilnya lalu pergi tanpa pamit, Pak Darno tak bisa lagi marah karna itu sudah sering terjadi.


.


.


Sepeda motor besar Heaven kini melaju cepat ke perusahaan Rahardian Group, ia memilih pulang kesana dibanding ke Kediaman Biantara lebih dulu. Semua pasang mata tertuju padanya yang kini sedang melangkah kearah lift yang akan mengantarnya ke ruangan Presiden Direktur.


"Kak, Uncle ada?" tanya Heaven.

__ADS_1


"Ada, Tuan. Silahkan masuk," Mila sang sekertaris yang baru saja keluar kembali membuka kan pintu saat tahu siapa yang berpapasan dengannya itu.


Heaven tersenyum menggoda dan masuk setelah mengucapkan Terima kasih. Dan orang yang ada diruangan itu pun menoleh.


"Ucle--," rengek manja Heaven pada si Tutut Markentut.


"Hawanya gak enak banget ini, mau apa kamu?" tanya Sam pada putra dari sepupunya itu.


"Besok ke sekolah ku ya, kalau Papah yang kesana pasti aku kena omel lagi," adu Heaven seperti bocah tiga tahun yang merajuk ingin mainan.


"Uncle sibuk!"


"Sebentar aja, Uncle cuma tinggal angguk-angguk geleng-geleng kalau Si tua bangka itu ngomong," ucap Heaven memohon.


"Kalo angguk-angguk geleng-geleng yang lain sih Uncle mau, tapi kalo disuruh dengerin gurumu ceramah, gak mau ah!" tolak Sam karna ia sudah berapa kali datang sebagai wali Heaven.


"Ayolah, Uncle. Tolongin aku." Heaven tersenyum lebar sampai wajahnya terlihat lebih tampan. Ia memang dekat dengan Samudera, jika mungkin ia terlahir sebagai perempuan pasti ia akan berada di garis depan fans fanatik Si Tutut jajah bersama mamanya.


.


.

__ADS_1


Enggak ah! cukup nolongin kamu pas mau berojol aja....


__ADS_2