
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Papaaaaaaaaaaah!" teriak Cahaya saat ia datang kerumah utama.
"Nah, nenek gambreng datang. Dede mau peluk Appa" ujar Sam yang langsung pindah tempat duduk padahal ia sudah sangat terlihat nyaman duduk di samping istrinya.
"Jangan berantem! kasian Onty" tegas Reza, Antara anak bungsu dan cucu sulung tentu tak pernah bisa ia pilih salah satunya.
"Dede cuma mau peluk, bukan berantem oey!"
Tutut Jajah memang pulang lebih dulu lewat pintu belakang ruangan tempat Mentari di rawat jadi sampai detik ini Awan belum tahu jika Appa dan sepupunya itu ada bersama istrinya. Sedangkan Cahaya dan Langit pulang kerumah utama setelah memastikan drama berjalan lancar.
"Sini, Sayang"
"Pah, Abang nakal banget ngomelin anakku gak kira kira di rumah sakit tadi" adu si bungsu Rahardian.
"Drama kamu keren, Bang" kekeh Reza pada menantu laki-laki satu-satunya itu.
"Itu bukan drama, Pah. Emang aku kesel banget sama tuh anak semenjak Awan dan Lisya bertemu di Mall" jawab Langit sambil membuang napas kasar.
__ADS_1
Laporan dari pasukan Gajah tentang pertemuan dua mantan kekasih itu memang sangat mengganggu pikiran Langit. Ia takut menantunya tersebut semakin terluka dengan tatapan masih cinta sang suami pada wanita di masa lalunya.
Bagaimana pun Pak Haditama sudah menitipkan putri tunggalnya pada keluarga Biantara dan Langit sudah berjanji akan menjaga jiwa raga Mentari selama jadi menantunya..
"Lalu mereka bagaimana? dokter aman, kan?" tanya Reza.
"Aman, Mentari diagnosa sakit usus buntu" jawab Cahaya.
"Wah, parah!" timpal tutut jajah pada Onty nya.
"Dede kalau gak mau diem, balik peluk Biru sana!" ancam Reza pada cucu sulungnya yang baru mau mulai meledek Cahaya.
"Kita tinggal tunggu Awan bilang cinta ke Mentari" ucap Cahaya, ia sungguh gemas dengan hubungan pasangan suami istri tersebut.
"Ya, Mentari memang pantas mendapatkannya. Seorang istri harus punya tempat istimewa di hati suami" timpal Reza, dan itulah yang memang selama ini selalu di tekankan pada keturunannya.
"Abang cuma takut Mentari nyerah, Pah. Abang gak bisa bayangin gimana hancurnya mereka berdua nanti"
"Jangan bicara begitu, tugas kita disini menyatukan mereka. Abang harus percaya pada Mentari kalau ia bisa menjaga posisinya sebagai istri" ucap Melisa sambil meraih tangan Langit.
__ADS_1
Wanita itu bisa merasakan kegundahan anak angkat sekaligus menantunya tersebut. Melisa juga tahu bagaimana perasaan Mentari saat ia beberapa kali tak sadar mengungkapkan rasa sakitnya jika datang kerumah utama tapi Melisa tak bisa berbuat banyak kecuali memberi dukungan dan meminta gadis cantik itu untuk lebih bersabar.
"Sudah sering Abang katakan, jika dia tak bisa menggenggam keduanya secara bersamaan. Itu akan membuat mereka terluka secara bersamaan" Balas Langit yang bingung harus dengan apa lagi memberi pengertian.
"Tapi bukankah Lisya sekarang sudah jadi simpanan Tuan Liam. Berarti dia tak lagi bekerja di Club?" tanya Samudera memastikan.
"Ya, itu juga yang Uncle tahu, dan kabar itu membuat Awan semakin terluka dan kecewa" jawab Langit sambil memijit pelipisnya sendiri.
"Dari semua itu harusnya mereka paham" ucap Reza.
"Paham apa, Pah?" tanya Cahaya.
.
.
.
Tuhan tak mungkin mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang jauh lebih baik...
__ADS_1