Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Lumutan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Heaven RahardiAwan Bintara langsung keluar dari mobil mewahnya yang sudah terparkir di area Sekolah. Wajahnya yang tampan seolah menutupi tingkah nakal dan seenaknya, jadi apapun kesalahan pemuda tersebut akan selalu di bela oleh para pemujanya terutama kaum hawa.


Tapi sayang, semua itu tak berlaku bagi Jingga. Ia sekali tak suka tentu tak akan suka dan akan mengatakan itu tepat di depan wajah orang yang tak ia sukai. hidupnya lurus tak banyak drama, semua akan di permudah dengan pola pikirnya sendiri.


"Sendiri aja, kalah lo sama truck gandeng," ledek Heaven saat di perpustakaan.


"Iyalah, gue kan manusia!"


"Punya hati dong?" goda pewaris Biantara tersebut.


"Punya, dan gak akan gue kasih ke lo!" cetus Jingga, ia pindah tempat duduk sebelum amarahnya meledak.


Tapi bukan Heaven namanya jika ia berhenti sampai disitu, semakin Jingga menghindar semakin rasa penasarannya meronta. Padahal hampir semua siswi ingin menjadi pacarnya tapi Heaven tetap bersikeras melabuhkan hatinya pada Putri tunggal Seorang Bidan.


"Apa lagi?" tanya Jingga.


"Apa? lo baca aja, ngapain mikirin gue," sahutnya santai, sambil memberi senyum terbaiknya agar gadis di sampingnya ini luluh.


Heaven sering kali memberi kode jika ia menyukai Jingga, tapi tak pernah sekalipun ia meminta Jingga menjadi kekasihnya. Layaknya remaja seumuran yang menyatakan cinta dan ingin berpacaran dengan ikatan resmi.


Pemuda susah di tebak maunya, kadang ia baik dan menggemaskan seperti hari ini dan tak jarang juga menjahalinya jingga sampai murka.


Bell pun berbunyi, semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar dari perpustakaan termasuk Heaven dan Jingga yang memang berbeda kelas.


"Pulang sekolah gue kerumah lo ya," ucap Heaven tiba-tiba yang langsung membuat Jingga menghentikan langkah lalu membalikan badan.

__ADS_1


"Ngapain?"


"Ya kali gue mau periksa kandungan!"


.


.


.


Apa yang di ucapkan Heaven di sekolah benar-benar ia lakukan, datang dan bertemu kerumah seorang gadis baru ini ia lakukan dan tentunya hanya pada Jingga.


"Assalamu'alaikum," seru Heaven di depan sebuah pintu rumah berwarna coklat.


"Waalaikum salam," sahut seorang Wanita paruh baya yang wajahnya sangat keibuan.


"Sore, Tante."


"Saya yang suka tabrak di ujung jalan sana, Tante."


"Ah, iya. Langganan saya ya, haha."


Heaven malu sendiri, demi bertemu Jingga ia rela menjadi langganan sebuah klinik melahirkan.


"Ada apa? kamu tabrakan lagi? kok tumben masih siang? biasanya kan malem," ucapnya yang membuat Heaven rasanya ingin pingsan seketika.


Dan belum juga ia menjawab, ternyata Jingga keluar dengan seekor kucing dalam pelukannya.

__ADS_1


"Ini temen Jie, Mah."


Wanita itu diam dan sedetik kemudian langsung mengangguk sembari tersenyum.


"Persilahkan duduk kalau gitu, jangan lupa suguhkan minum dan yang penting jangan galak," pesan Mama Jingga pada putrinya.


"Nah, yang terakhir saya setuju, Tante," timpal Heaven sambil tertawa, namun ucapannya barusan justru mendapat sorot mata tajam dari gadis incarannya.


"Jingga emang gitu, tolong dimaklum ya, Nak"


"Iya, tante saya udah kebal di galakin sama anak tante."


Jingga yang kesal tentu tak bisa marah-marah di depan mamanya, ia memilih duduk lebih dulu kursi kayu teras rumahnya dan tak lama Heaven pun menyusul.


"Mau apa lo kesini?" tanya Jingga ketus seperti biasa.


"Mau lo suka sama gue," sahut Heaven.


"Gak mungkin, gue akan suka sama lo!"


"Yakin?" Heaven yang semakin tertantang malah menggoda dengan menatap lembut wajah Jingga.


"Banget!"


.


.

__ADS_1


.


Ya udah deh, pokonya gue mau tetep nunggu lo sampe suka balik ke gue. Sampe lumutan juga gue jabanin...


__ADS_2