Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Si----???


__ADS_3

Aku maafkan selagi aku punya batas rasa sabar, karena akan lain lagi ceritanya jika suatu hari nanti aku akan menjadi sosok rindu yang paling menyakitkan sepanjang hidupmu, sekalipun aku tepat di depan matamu, aku tak akan mau kembali jadi milikmu untuk kedua kalinya.


Kalimat itu terus berputar di otak Awan saat ia melajukan mobil mewahnya menuju kantor. Ia takut apa yang pernah di katakan Mentari menjadi sebuah kenyataan. Jangankan untuk menghadapi kehilangan karna untuk membayangkan saja pria itu rasanya tak sanggup. Cintanya kali ini berbeda tak menggebu seperti saat bersama Lisya.


Sebagai seorang suami tentu ia bertanggung jawab atas kebahagiaan istrinya, tapi ia justru bertugas mengembalikan rasa itu, rasa yang jarang ia berikan pada wanita halalnya selama mereka menikah.


'Andai kita bertemu di waktu yang tepat, bukan di saat aku masih mencintainya. Jangan buat aku benci dengan pertemuan ini, Tuhan. Karna nyatanya hanya luka yang kuberi padanya saat ia hadir dalam hidupku secara tiba-tiba ketika masalalu ku saja belum ku selesaikan'


*******


Awan yang sudah sampai di perusahaannya langsung meminta asisten dan sekertarisnya berkumpul di ruangan. Dan tentu itu mengagetkan serta membuat panik orang-orang kepercayaan Sang Direktur Utama Rahadian Group.


"Bagaimana, bisa?" tanya Awan dengan raut wajah serius.


"Lusa, Tuan. Hanya itu jadwal anda yang bisa di kosongkan."


Awan membuang napas kasar, ia memang sedang meminta waktu libur selama satu minggu mulai dari hari ini. Tapi, semua tak bisa ia lakukan karna padatnya jadwal pekerjaan dan meeting yang wajib ia sendiri hadiri.


"Lusa! masih 2 hari kedepan"

__ADS_1


Semuanya nampak diam mendengar keluah kesah dan napas berat Bos mereka. Awan hanya ingin berlibur bersamamu istrinya keluar kota. Bukan hanya demi memberi kenangan manis tapi sudah saatnya juga mereka melakukan hal yang menyenangkan, mungkin saja dengan itu bisa sedikit demi sedikit mengikis luka hati Mentari.


"Baiklah, lusa semua kalian yang handle." tegas Awan yang akhirnya pasrah.


Kabar baik itupun langsung ia beritahukan pada sang istri, Awan yang gemas melihat rona bahagia Mentari membuatnya ingin pulang saat ini juga.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Jangan lupa makan siang dan minum obat," pesan Awan sebelum mengakhiri panggilan teleponnya melalui video call.


"Iya, By. Nanti pulang bisa belikan aku donat yang kemarin?"


"Tentu, Sayang"


.


.


.


Ceklek

__ADS_1


Awan yang sudah pulang langsung masuk kedalam kamarnya. Tak di sangka, Mentari justru masih terlelap dengan pulasnya. Terbukti gadis itu sama sekali tak terganggu saat Awan naik keatas ranjang setelah meletakan apa yang sudah di pesan Mentari keatas nakas.


"Andai kamu tahu gimana kesiksanya aku setiap malam nahan buat gak nyentuh kamu," lirih Awan sambil mengusap pipi lembut sang istri yang mulus tanpa cacat sampai ia tak pernah merasa bosan menciuminya.


Mentari yang bergeliat kecil malah merubah posisi tidurnya dari miring ke terlentang, dan tentu itu membuat Awan merasa tertantang hingga harus mengikuti naluri kelelakiannya yang selama ini mati-matian ia tahan sendiri.


.


.


.


Ya ampun!! kalau kaya gini jangan salahin aku kalau kamu harus kenal sama si JALU lebih awal ya...


********


Apa sih 😳😳😳😳


Aku yang polos ini gak paham loh 😢😧

__ADS_1


Jajah, tolong translate in bahasa planet cucumu ini dong 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2