
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku mau kerumah sakit. Aku mau jual hatiku yang harganya mahal ini. Aku udah baik banget loh kasih gratisan buat kamu, tapi kenapa di sakitin mulu sih?
Kalau terus terusan begini, kan bisa anjlok harganya!" cetus Mentari dengan kedua tangan berada di pinggang rampingnya yang selama ini selalu menggoda Awan untuk ia tarik.
"Gak! kamu gak boleh kemana-mana"
"Kenapa? kamu aja bisa pergi sama si barang bekas itu" timpal Mentari, moodnya yang sedang tak baik semakin kacau saat tahu ia di berikan oleh-oleh atas pilihan mantan kekasih suaminya.
"Jaga ucapanmu, Tari" sentak Awan.
Mentari yang tak suka dengan sorot tajam mata Awan akhirnya mundur dua langkah lalu dan setelahnya berlari kearah tangga dengan wajah basah penuh air mata. Sedangkan Awan tersungkur lemas di lantai merutuk salahnya yang beberapa waktu lalu membentak wanita halalnya.
"Jangan pernah tinggikan suaramu pada wanita, Awan! Apa kamu pernah melihat Papih dan Pipihmu melakukan hal tersebut?" suara Adam yang menggelegar tak membuat Awan menoleh sama sekali.
"Maaf" lirihnya pelan bahkan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Minta maaflah pada istrimu, Papih tak bisa bayangkan sesakit apa kini hatinya"
Awan mengangguk pelan, dengan sisa tenaga yang ia miliki, pria tampan itu bangun lalu berjalan gontai menuju tangga. Ia tapaki lantai marmer itu yang serasa begitu jauh tak berujung.
Ceklek
Awan terpaku di ambang pintu yang ia buka. Dahinya mengernyit saat melihat hal yang sangat di luar dugaannya.
"Jangan nakal ya Cimol, harus makan yang banyak, Ok" kekeh Mentari dengan suara seraknya.
Awan semakin mengutuk dirinya saat Mentari melempar senyum usai mengakhiri panggilan telepon.
"Kamu mau mandi?, biar ku siapkan" ucapnya sambil turun dari ranjang lalu bergegas menyiapkan semua kebutuhan suaminya.
Mentari bersikap seolah tak terjadi apapun. Dan itu sangat menyakitkan bagi Awan yang jelas sudah melakukan hal di luar batas barusan. Ia yang masih berdiri di ambang pintu perlahan masuk setelah menutup benda bercat putih tersebut.
"Aku lupa tanya kamu mau mandi pake aer apa, aer dingin aja ya biar seger" ujar Mentari yang tak di jawab oleh Awan yang hanya bisa meminta maaf lewat sorot matanya saja.
__ADS_1
"Semuanya udah siap, jangan lupa keramasin kepalanya ya biar bisa bersih dari masa lalu" sindir Mentari sambil terkekeh.
Dan kali ini Awan tak lagi bisa diam, ia langsung mendekat lalu menarik pinggang istrinya dengan cepat sampai Mentari kaget sendiri.
"Apa maafku bisa kamu terima?" bisik Awan yang memeluk erat tubuh mungil sang istri.
"Maaf yang mana? salahmu terlalu banyak" jawab Mentari yang sampai membuat suaminya itu mengigit bibir bawahnya sendiri, ia seolah di tampar dengan pertanyaan yang terdengar sederhana namun menghujam hatinya.
"Semua, semua salahku yang sering membuatmu kecewa dan menangis. Jangan tersenyum seperti itu lagi, marahi aku dan pukul aku sekuat mu hingga tenagamu habis tapi ku mohon jangan berikan aku senyum di balik lukamu, Sayang." ucap Awan yang kini terisak pelan dan Mentari yakin jika pria itu sedang menikmati rasa sesalnya.
.
.
.
Aku maafkan selagi aku punya batas rasa sabar, karena akan lain lagi ceritanya jika suatu hari nanti aku akan menjadi sosok rindu yang paling menyakitkan sepanjang hidupmu, sekalipun aku tepat di depan matamu, aku tak akan mau kembali jadi milikmu untuk kedua kalinya.
__ADS_1