Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Satu Syarat


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari terus berganti, keluarga Biantara masih di sibukkan dengan drama ngidam para Tuan besar yang membuat pusing seisi rumah karna apa yang di inginkan Adam ataupun Langit kadang tak masuk di akal. Terlepas dari rujak berjama'ah dan ingin Durian di pagi buta banyak lagi yang mereka inginkan. Para istri hanya bisa jadi penonton dan pendengar sambil mengusap dada mereka masing-masing.


"By, dibawah rame loh," ucap Mentari, ia yang sudah turun nyatanya naik dan kembali masuk kedalam kamar.


"Ada apa?" tanya Awan.


"Entah, ada mobil box sama orang-orang," kata Mentari lagi.


Awan langsung mengernyit kan dahi. Jika keluarganya ingin berbagi biasanya langsung ketempat tujuan bukan dirumah seperti ini.


Mereka yang penasaran akhirnya turun untuk mencari tahu, ruang tamu kediaman Biantara sudah dipenuhi banyak bahan sembako dan yang lainnya.


"Mih, ada apa sih?" tanya Awan bingung.


"Biasa," jawab Cahaya yang berdiri disamping suaminya.


Mentari yang menyenggol lengan Awan langsung mendapat jawaban dari kode mata pria itu.


Adam Biantara, ia sengaja meminta orang-orang yang jauh dari kata mampu untuk datang ke rumahnya untuk mengambil apa yang sudah ia sediakan, dan itu tak lain hanya karna ingin berbagi pada yang lebih membutuhkan tapi kali ini tentu dengan cara yang berbeda.

__ADS_1


"Tumben disini?" tanya Mentari.


"Entah," kata Langit dan Cahaya.


Adam dan Diana yang berada di luar tetap memperhatikan orang-orang mereka yang kini sedang sibuk menurunkan beberapa barang lagi dari mobil box, belum lagi ART dan pelayan serta semua penjaga yang sama sibuknya. Semua penghuni kediaman Biantara mendapatkan perannya masing-masing dalam acara pembagian sembako ini.


Awan yang tak begitu perduli langsung menarik t


tangan Sang istri menuju ruang makan, tak ada juga yang mereka lakukan disana jadi lebih baik sarapan dan memanjakan perut.


"Hari ini ada rencana mau kemana?" tanya Awan setelah ia menyeruput sedikit kopinya.


"Gak ada, tapi gak tahu juga," jawab Menyari.


"Iya, udah berat banget rasanya. Aku udah kaya bawa beras sekarung," kekeh Nona muda Biantara tersebut.


Awan mengelus lembut perut istrinya yang keras dan bulat bagai buah semangka. Kandungan yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan memang membuat Mentari jauh lebih mudah lelah, belum lagi pembengkakan diarea kaki.


"Kamu harus banyak banyak istirahat ya, jangan terlalu cape apalagu stress," pinta Awan lagi yang langsung di iyakan oleh bidadari hatinya tersebut.


Sarapan pagi yang cukup mengguggah selera itu kini habis oleh keduanya sambil diselingi obrolan ringan. Tak lupa buah potong yang juga harus di habiskan oleh Mentari.

__ADS_1


"Aku kenyang banget, loh," tolak nya sambil menggelengkan kepala.


"Gak usah semua, kamu biasanya suka mual 'kan? daripada makan permen mending buah," kata Awan masih menyodorkan garpu yang ditusukkan buah melon.


Belum juga Mentari membuka mulut, nyatanya Cahaya datang meminta anak dan menantunya itu untuk cepat keluar karna acara pembagian akan segera dilakukan oleh Tuan Besar Biantara.


"Wih, Si Papih keren banget nangkring disana," ucap Awan saat melihat Adam ada di atas panggung kecil.


"Mau apa sih?" tanyanya lagi pada kedua orangtuanya.


"Jangan berisik, dengerin aja," jawab Langit.


Kini semua mata tertuju pada Sang mantan Mafia soleh, dengan orang-orang yang kali ini begitu beruntung mendapatkan sedikit rejeki lewat pria baya tersebut.


"Saya ucapkan banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah datang kesini, ada sesuatu yang akan saya bagikan pada kalian semua tapi dengan satu Syarat," ucap Adam yang membuat semua bingung.


"Syaratnya apa Tuan?" teriak salah satu orang yang mengantri.


.


.

__ADS_1


Berikan saya pantun Jenaka, bagaimana?


__ADS_2