
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ish, pelit!" cetus Awan.
"Bodo ih" balas Mentari sambil mengalihkan wajahnya takut suami Laknatnya itu berbuat nekat mencuri ciuman pertamanya.
Awan menggulingkan tubuhnya ke samping lalu menarik Mentari agar lebih dekat lalu masuk kedalam dekapan hangatnya.
"Jangan tidur memunggungi ku lagi, aku tak suka, Sayang"
"Tapi kamu membuatku kesal, aku rindu Cimol" jawab Mentari.
"Tapi aku juga akan merindukanmu jika kamu pulang, Sayang"
"Kamu merindukan ku?" tanya Mentari.
"Tentu, bukankah sudah ku bilang, jika aku membutuhkanmu. Aku tak mau merindukanmu. Kamu, harus selalu ada untukku" ucap Awan sambil mencium kedua pipi istrinya.
"Untuk apa?"
"Untuk belajar mencintaimu, katamu aku harus terbiasa tanpanya, dan untuk mengisi ruang kosong itu aku hanya ingin kamu. Aku harus biasa juga bersamamu dengan segala aktivitas yang kita lakukan bersama" jelas Awan, dan itu benar-benar dari dalam hatinya yang tulus.
Bukan hanya Mentari yang lelah, ia pun sama merasakannya. Dimana kadang hatinya lelah terus di paksa melepas dua hati yang sedang ia genggam.
"Baiklah, pertahankan yang kamu butuhkan lebih dulu karna setelahnya cinta juga akan perlahan menyusul masuk kedalam hatimu" balas Mentari yang mencoba mencari posisi senyaman mungkin dalam pelukan suaminya.
Waktu yang perlahan terus berputar akhirnya membuat pasangan suami istri yang sedang berjuang perihal rasa di masing-masing hati itu pun terbuai mimpi.
.
__ADS_1
.
.
"Hari ini aku sibuk, ada beberapa meeting di luar kantor dan mungkin akan pulang malam. Jadi, jangan tunggu aku" pesan Awan sebelum ia masuk kedalam mobil mewahnya, sudah jadi kebiasaan jika istri dalam keluarga tersebut akan mengantar suaminya sampai pintu utama atau bahkan pintu mobil sebelum berangkat bekerja.
"Hubungi aku jika kamu sempat ya" pinta Mentari saat Awan mencium keningnya.
"Tentu, akan ku usahakan"
Mentari menatap lekat punggung suaminya saat masuk kedalam kereta besi berwarna hitam tersebut, sampai akhirnya hilang di balik pintu pagar yang menjulang tinggi. Ia tak pernah menyangka akan sesakit ini mencintai cinta pertamanya, cinta yang ia jaga selama sepuluh tahun tanpa ada yang tahu kecuali ibunya.
Cinta yang tumbuh nyatanya begitu indah dengan harapan akan bersama namun setelah bersama hanya luka yang Mentari rasakan, beruntungnya hati dalam tubuhnya itu adalah ciptaan mak othor yang di buat sangat kuat karena di racik dengan semen ratusan roda 🤣🤣.
#ApaSih??
"Tari, ayo masuk itu sudah mendung" suara Cahaya membuyarkan lamunan menantu Bintara tersebut.
Keduanya masuk dan langsung menuju ke kamar Tuan besar Biantara yaitu Adam.
"Papih yakin gak mau kerumah sakit?" tanya Cahaya saat ia duduk di tepi ranjang mertuanya.
"Tak perlu, cuaca di luar juga sedang ingin turun hujan" jawab Adam yang begitu senang karna Cahaya begitu sangat perhatian.
"Kayanya udah hujan deh" timpal Mentari yang menoleh kearah luar jendela.
"Jika tak membaik juga, sore nanti kita ke rumah sakit ya" pinta Diana yang kadang kesal dengan suaminya yang seringkali menahan sakitnya di rumah.
"Iya, Dee."
__ADS_1
Tak ingin mengganggu istirahat Adam, akhirnya Cahaya dan Mentari memilih keluar dari kamar untuk ke kamar mereka masing-masing yang masih di lantai yang sama yaitu lantai dua.
"Siang ini kita numpang makan dirumah utama ya, Tari" ajak Cahaya sebelum mertuanya itu membuka pintu.
"Iya, Mih"
Ceklek
Mentari yang baru masuk kedalam kamar langsung di tarik tangannya oleh Awan, jangan tanyakan berapa terkejutnya gadis itu saat ini.
"By, kamu gak kantor? kan tadi udah jalan?" tanya Mentari bingung.
"Gak jadi" sahut Awan.
"Loh, kenapa?"
.
.
.
.
Males ah, Hujan deres banget. Enakan sama kamu dikamar
***Yang mau nimpuk si Awan..
__ADS_1
Waktu dan tempat di persilahkan 🤣🤣
Atau mau nyumpahin sambil ngakak Guling-guling pun udah di siapain kapret merahnya 😅😅***