
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku mencintamu" bisik Awan di telinga kanan Mentari yang kepalanya diperban serta leher yang terpasang gips.
Hati pria itu hancur melihat istrinya terbaring tak berdaya dengan mata tertutup rapat. Tak ada ocehan kesal, sindiran halus bahkan pukulan yang di lakukan Mentari, ia terlihat damai di bawah alam sadarnya.
"Bangun, Sayang. Bukankah kamu kuat, lawan rasa sakitmu dan kembali padaku. Aku tak kuat menyaksikan mu seperti ini"
Tangis Awan meraung bagai bocah yang kehilangan mainan kesayangannya. Rasanya begitu sedih sampai air mata saja tak mampu menggambarkan apa yang ia rasakan saat inu.
Semua di utarakan mulai dari kesedihan, kecewa hingga perasaan cintanya yang baru ia pahami akhir-akhir ini.
"Apa kamu tak mau mendengar ceritaku?, bagaimana si bodoh ini baru sadar jika kamu sudah menguasai hati dan pikiranku, Sayang"
Awan menjeda ucapannya, ia menarik napasnya lebih dulu karna dadanya semakin sesak saat Mentari tak merespon sama sekali.
"Kamu ingat? dulu aku pernah mengatakan aku akan belajar mencintaimu saat nama dan senyum Lisya tak lagi menggetarkan hatiku. Dan aku mengalaminya saat di negara J kemarin. Wanita yang dulu sangat berarti dalam hidupku itu seolah asing saat kami bertemu. Aku justru selalu menyebut namamu dalam hatiku, Sayang." ungkapnya lagi di sela isak tangis yang sangat memilukan.
__ADS_1
Jika saja ada orang lain di sana, mungkin mereka akan larut juga dalam kesedihan yang di alami Awan. Hampir kehilangan orang yang baru di cintainya bahkan parahnya, Awan belum menyatakan kata cinta pada sang belahan jiwa.
.
.
.
Dua hari berlalu, Kondisi Mentari tak jauh lebih baik dari sebelumnya tapi meski begitu Awan tak beranjak sedikitpun dari sisi sang istri.
"Awan, kamu bisa pulang sebentar untuk istirahat. Biar Mimih yang jaga Mentari" ucap Cahaya sambil mengusap punggung putranya.
"Aku mau disini, aku mau saat istriku sadar aku lah orang yang pertama kali dia lihat" harap Awan yang air matanya jatuh lagi membasahi pipi.
"Mentari akan memarahimu jika tahu kamu seperti ini, Nak. Jangan siksa dirimu juga. Kesehatan mu penting untuk menjaganya"
Awan menoleh, ia peluk perut Mimihnya yang ramping untuk menumpahkan rasa sesal karna begitu banyak yang menurutnya terlambat.
__ADS_1
"Kenapa bukan aku? Dia tak sekuat itu mengalami ini semua. Aku mencintainya, Mih. Istriku harus dengar itu sekarang juga."
"Mimih tahu, Mimih paham perasaanmu. Kalian pasti bisa melewati ini semua. Percaya lah pada dokter yang akan melakukan penanganan terbaik. Berdoalah terus, Nak" ucap Cahaya yang tak juga bisa membendung air matanya.
Anak dan Ibu memeluk saling memberi kekuatan, dan tak lama datang juga Langit yang akhirnya bergabung dengan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya tersebut.
"Pipihmu ini adalah pria tersabar saat menemani Mimih di rumah sakit, 25 tahun bukan waktu yang sebentar untuk kami saling berjuang menunggu keajaiban" sambung Cahaya yang betapa bangganya ia pada sang suami.
Awan yang memang tahu penyakit Mimihnya hanya bisa mengangguk paham. Ia menoleh kearah Langit yang juga tersenyum padanya.
.
.
.
Setia itu bukan rasa cinta yang meluap-luap tetapi bagaimana kita tetap bertahan dalam segala cobaan dan masalah yang terjadi.
__ADS_1