
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pet, gue kalo lumutan masih ganteng gak?" tanya Heaven pada Skala saat pemuda yang sering kabur kaburan itu sedang bermain game dengan Rain.
"Woy! gue nanya denger gak?" teriaknya lagi kesal.
"Lo nanya sama siapa?"
"Sam lo lah!" sahut Heaven tepat di telinga sepupunya.
"Dadet, Bum-Bum" seru Rain yang ponselnya sampai jatuh karna ia mengusap dadanya sendiri.
"Gue siapa?"
"TEROMPET KIAMAT!" sahut Heaven dan Rain berbarengan.
"Kampret," balas Skala yang membanting ponselnya sendiri lalu menghajar Heaven habis-habisan dengan bantal sofa karna posisi tiga para pewaris tunggal itu sedang ada di ruang tengah lantai dua Kediaman Biantara.
"Teroooooooooooos!"
Suara berat seorang laki-laki sontak membuat Heaven, Skala dan Rain menoleh secara bersama.
"Pih, Skala nih," adu Heaven pada Langit.
__ADS_1
Ya, Langit Marvelio Biantara, pria baya yang kini hanya menghabiskan waktu dirumah bersama Sang istri tanpa mau tahu lagi tentang perusahan yang kini semua diambil alih oleh Awan, putranya.
"Samanya kalian tuh, ribut terus!" omel Langit pada ketiga cucu laki-laki tapi beda keturunan tersebut.
"Bum enggak ya, Bum baik ya," protes Rain sambil mencibir kearah dua sepupunya yang langsung bungkam.
"Diem lo bapak meong!" sentak Skala.
Langit yang sudah pusing dengan tingkah ketiganya langsung memberi hukuman, mereka di minta untuk masuk kedalam kandang Phyton untuk di bersihkan.
Rain yang mendengar itu langsung melompat ke punggung Skala sampai ia hampir tersungkur jika tak di tahan oleh Heaven.
"Pipih yang bener aja, aku gak mau," tolak Skala.
"Cepetan!"
"Yaelah, kaya baru pertama aja."
"Bum, maunya kandang miong, gak mau kandang Uler," rengek Rain yang masih bersembunyi dibalik punggung Skala yang sama ngerinya dengan hewan panjang tersebut.
"Gak apa-apa, dia bae kok. Paling kalo kesel karna keganggu nelen kalian," kata Heaven santai sambil mengusap ular kesayangannya itu.
Rain dan Heaven pun langsung berteriak dan berlari keluar dari kandang besar itu meninggalkan Hevaen sendiri.
__ADS_1
Tau jika ia ditinggalkan, tentu hati pemuda itu pun tak karuan, karna sejinak jinak nya hewan tersebut ia tetap buas dan seekor pemangsa apapun jika merasa lapar dan mengancam.
"Jiah, gue balik ya, gue juga sebenarnya takut sama lo. Takut di peluk, ancur badan gue yang tinggi putih glowing ini. Cakep aja kena tolak mulu gue," kekeh Heaven yang malah curhat pada Si MariMar.
#NgakakNamaNya.
Heaven terus menyusul kedua sepupunya itu yang ternyata ada di dapur sedang menunggu mie instant yang di buatkan pelayanan matang.
"Ketauan Pipih, kena omel lagi nih, kita." ucap Hevaen yang baru bergabung.
"Kita, lo doang kali." cetus Skala.
"Cuci tangannya udah belum, abis elus-elus MariMar kan itu," kata Rain yang masih saja mendesak Skala.
"Udah lah, lo mau gue elus juga sini!" kata Heaven.
"Lagian tadi lo ngomong apa sih, bawa bawa Lumut?" tanya Skala.
"Lumut kan Bum-Bum, Lucu dan Imut." kekeh Rain dengan percaya dirinya.
"Gue nembak Jingga, eh kena tolak lagi. Gue bilang ya udah gak apa-apa gue tungguin sampe lumutan juga gue kuat," jelas Heaven.
.
__ADS_1
.
Ya elah, masih Si Jingga yang lo bahas. Lo pasrah aja dah, kalo jodoh aja HAJATan kalo gak jodoh jadi tamu UNDANGAN, sekalian tuh lo acak acak meja Prasmanan!!