Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Satu...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari-hari yang berlalu hanya aman dan damai bagi si Ibu hamil saja, karna bagi yang lain justru waktu yang berputar kini tak seindah biasanya. Ada saja Drama nyeleneh yang dilakukan para lelaki Biantara terutama Adam dan Langit. Kedua pria yang masih tampan diusia yang tak lagi muda itu bagai kucing dan tikus saat menjalani rasa ngidam simpatik mereka pada Sang menantu kesayangan-- Mentari.


"Masih mual?" tanya Diana sambil mengusap pipi yang tak lagi kencang milik Sang sandaran hati.


"Sedikit, aku pengen apa ya?" Adam bertanya sendiri pada dirinya sambil berpikir, pagi adalah waktu yang menyebalkan untuknya karna sering sulit menentukan pilihan.


"Cepet, mau apa? nanti aku siapin."


"Aku mau pisang kukus," jawab Adam mantap yang langsung dijawab anggukan kepala oleh istri tercintanya tersebut.


Diana keluar dari kamar mereka menuju dapur kotor dilantai bawah, tapi langkah Nyonya besar Biantara tersebut saat melihat Mentari keluar dari lift.


"Awan mana, Nak?" tanya Diana sambil mengusap pelan perut cucu mantunya yang masih rata.


Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Diana dan Adam yang masih bisa menyaksikan para keturunannya lahir ke dunia dengan sehat dan selamat, tak perduli meski harus disiksa beberapa waktu lamanya.


"Dia sakit, semalam demam dan muntah terus," jawab Mentari, raut wajah yang biasanya segar kini terlihat sedikit pucat.


"Sudah hubungi dokter?"


"Sudah, Mih. Mungkin sebentar lagi datang," sahut Si Bumil mencoba menenangkan wanita baya di depannya itu.

__ADS_1


Keduanya berjalan kearah dapur, Diana meminta tolong salah satu pelayan untuk membuat kan pisang kukus sedang Mentari membuat teh hangat sendiri untuk suaminya.


"Harusnya kamu tinggal bilang aja, tak perlu turun untuk buat sendiri tehnya, Nak," ujar Diana.


"Tak apa, Mih. Hitung-hitung aku gerak sedikit agar tak tidur pagi pagi," jawab Mentari.


Ia yang khawatir tentu ikut terjaga saat suaminya bolak balik ke kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya.


Dan itu malah membuatnya kini tak sanggup lagi ingin memejamkan kedua matanya. Jika tak ingat pesan keluarga terutama ibu dan ayahnya ingin sekali rasanya saat ini Mentari memeluk bantal guling agar cepat sampai ke ruang mimpi.


"Ya sudah, cepat berikan tehnya pada suamimu. Hati-hati takut tumpah dan kena tanganmu," pesan Diana, hal sekecil apapun kadang tak luput dari perhatiannya. Sikap lembut penuh kasihnya memang tak jauh seperti Melisa, si pawang Gajah kesayangan Mak Othor geulis.


.


.


Mentari membuka pintu kamar dengan tangan kanannya, karna tangan kirinya sedang memegang nampan berisi segelas teh manis panas.


"By, diminum dulu," titah Mentari.


Awan yang lemas tak bisa menjawab, tak ada sama sekali kata yang keluar dari bibirnya yang pucat.


"Panas ya?"

__ADS_1


"Enggak ko, cuma kemanisan aja," jawab Awan saat ia sudah meletakkan si gelas tadi keatas nakas.


"Kok bisa? perasaan takaran gulanya sama kaya biasa," kata Mentari bingung sendiri.


"Iya kah? berapa sendok?" tanya Awan yang malah gemas dengan ekspresi wajah istrinya yang begitu sangat lucu karna pipinya yang bulat kini semakin gembil saat hamil hasil maju mundur cantiknya.


"Tiga sendok, aku biasa pake segitu kok," sahut Mentari yang masih belum sadar dengan aksi modusnya suaminya.


"Hem, lumayan kalau tiga, asal jangan satu ya, Sayang," sambung Awan yang membuat alis coklat Mentari menaut.


"Emang kalau satu, kenapa?" tanya wanita itu penasaran.


.


.


Kalau satu, nanti saingan sama kamu yang juga satu-satunya di hatiku...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sinyal ngajak gelud oey 😭😭😭


Gak bisa ngintip Entun sama sekali 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2