Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Sabar dan Ego


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


#RumahUtama.


"Kan kak Tutut Markentut bisa, Appa!" tolak Awan saat Reza meminta Awan untuk menghadiri pertemuan penting di luar negeri selama 2 minggu lamanya.


"Kakakmu sibuk, Kamu saja"


"Senja, suruh Senja yang kesana. Dia gak ada kerjaan kecuali kelayapan gak penting, Appa" tawar pria yang kini mulai uring-uringan tersebut.


"Kerjaan kamu bisa di handle oleh Pipihmu dan untuk di kantor Rahardian biar Gala yang urus"


"Kok aku ikut-ikutan sih, Appa?" protes Galaksy ArMikha Rahardian Wijaya, cucu kedua yang tak tahu apa-apa karna dunianya sudah penuh dengan si anak curut tapi nyatanya terkena imbasnya juga.


Sedangkan Samudera yang sedari tadi hanya senyum-senyum tak jelas semakin anteng dalam pelukan sang Gajah. Jika sudah berkumpul seperti ini jangan harap ia mau menggeser posisinya.


"Awan hanya pergi dua minggu, kamu juga gak harus pergi setiap hari ke kantornya. Cukup sesekali saat ada meeting" jawab Reza pada Gala.


Gala merengut kesal kearah adik sepupunya, karna semakin ia sibuk di kantor semakin sedikit juga waktu yang akan ia lewati bersama Ara, gadis kesayangannya.


.


.


.

__ADS_1


Awan pulang ke kediaman Bintara dengan perasaan kesal dan bingung sendiri. Ia langsung masuk kedalam kamarnya saat tak ada siapapun di lantai bawah.


Cek lek


"Sayang..."


Mentari yang memang sedang berbaring memainkan ponselnya tersentak kaget saat Awan memeluknya dari atas. Tubuh suami istri itu begitu menempel tanpa jarak sama sekali.


"By, berat!"


"Diem, aku lagi kesel" jawab Awan yang tak mau turun dari atas tubuh istrinya yang mungil.


"Tapi berat, kamu kenapa sih?"


"Aku mau pergi ke luar negeri dua minggu" jelas pria tersebut.


Awan yang turun langsung berbaring di samping Mentari yang wajahnya tanpa ekspresi sama sekali.


"Kamu gak apa-apa aku pergi?" tanya Awan.


"Enggak, emang aku harus gimana?" Mentari justru balik bertanya.


Awan mendekatkan wajahnya, tatapan keduanya begitu intens seolah banyak pertanyaan disana.


"Gak sedih? dua minggu loh kita jauh"

__ADS_1


Mentari malah tersenyum kecil, ia tangkup wajah suami tampannya itu dengan kedua tangannya.


"Apa bedanya kamu disini atau disana? dua-duanya tak bisa ku jangkau. Lagi pula hanya ragamu yang pergi karna memang hatimu tak pernah tinggal bersamaku" ujar Mentari yang lagi dan lagi menyesakkan dada Awan.


"Jangan bilang seperti itu, aku tak suka"


"Kadang kenyataan memang jauh lebih menyakitkan. Pergilah, aku tak akan melarangmu selagi itu urusan pekerjaan"


Awan bangun dari baringnya, ia pergi meninggalkan Mentari begitu saja dengan hati semakin kacau.


Hingga langkahnya kini berhenti di tepi kolam ikan hias samping rumah mewahnya.


"Kenapa seolah kamu tak pernah takut kehilanganku. Padahal nyatanya aku sangat takut di tinggal kamu. Apa kamu nyerah? apa kamu tak lagi mencintai ku?" gumam Awan setelah membuang napas kasar berharap sesak dalam dadanya sedikit berkurang.


"Jadi pergi?" tanya Adam yang tiba-tiba datang menghampiri cucu kebanggaannya.


"Hem, Jadi Pih." jawab Awan yang akhirnya menuruti mau Appanya apalagi tak ada alasan dari istrinya untuk ia menolak.


"Sudah bilang Mentari? apa katanya?"


"Dia mengizinkan ku pergi, tak apa katanya selagi itu urusan kantor" sahut Awan lagi dengan menundukkan pandangan untuk menyembunyikan rasa sedihnya.


.


.

__ADS_1


Pertahankan dia yang selalu membesarkan rasa sabarnya dan mengecilkan ego nya untukmu.


__ADS_2