Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Si Jalu.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Basah?" tanya Awan yang awalnya bingung namun setelahnya paham lalu tersenyum kecil.


"Aku bikin banjir ya," goda Awan sedikit terkekeh.


Mentari hanya diam tak lagi menjawab apalagi saat Awan menggendongnya ala bridal style kedalam villa menuju kamar yang mereka isi sementara.


Cek lek..


Pintu di buka oleh Mentari dengan tangan kirinya, tubuh mungil yang kini jauh lebih berisi itu pun sudah di rebahkan di atas ranjang yang mungkin sebentar lagi akan jadi saksi betapa indahnya perjalanan menuju puncak surga dunia.


"Aku ingin melakukannya sekarang denganmu" bisik Awan yang sudah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Mentari tentu paham, ia bukan gadis bodoh yang tak tahu tentang hak dan kewajiban sepasang suami istri. Berkali-kali ia bertanya pada Awan mengapa mereka belum melakukannya padahal sudah jelas halal dan resmi, tapi pria itu hanya tersenyum tak memberi jawaban sama sekali.


"Kenapa baru sekarang?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Karna sudah saatnya. Semua yang pernah terjadi biarlah terjadi, kini waktunya kita melangkah jauh untuk masa depan agar lebih baik dari sebelumnya," jawab Awan yang sudah berada di atas tubuh Mentari.


Tanpa persetujuan, Awan justru langsung ******* habis bibir ranum istrinya yang sangat menggoda. Ia yang tak tahan dengan hasratnya sendiri mulai nakal menyentuh apapun sesuai nalurinya sebagai laki-laki dewasa dan normal.


"By--" de sahanpun lolos begitu saja yang justru membuat Awan kian bersemangat untuk lebih dalam dan menuntut.


Ia melepas ciumannya, lalu sedikit menarik tubuhnya untuk membuka kaos yang kini ia kenakan. Keringat yang sudah sedikit banjir pun pertanda jika permainan sudah mulai semakin panas.


"Buka ya, Sayang" pinta Awan yang sudah memegang ujung kaos yang di pakai Mentari.


Tubuh berisi setengan telan jang itu pun kini sedang terlentang tepat di depan mata Awan yang tak berkedip saat melihat dua bongkahan daging kenyal yang bulat padat menantang.


Merasa terlalu indah untuk di abaikan, Awan pun langsung menarik pengait kecil si penutup bukit mulus milik istrinya.


Awan benar-benar tak menyangka, ia akan melakukannya dengan Mentari yang selama ini melupakannya tanpa ingat apapun tentangnya kecuali luka yang ia beri.


Tangan yang terasa dingin kini sudah ada di salah satu bukit yang selama ini bersembunyi dengan sangat rapih. Jangan kan untuk di sentuh, karna untuk melihat saja Awan baru kali ini mengalaminya.

__ADS_1


Cup...


Satu ciuman mendarat di kening Mentari yang akhirnya turun dan semakin turun hingga mulutnya sudah menyesap kerikil kecil yang ada di puncak bukit nya. Desa han dan Er angan saling bersahutan apalagi saat Awan semakin berani berpetualang.


"Saatnya si Jalu ngadu," ucap Awan saat keduanya sudah polos tanpa apapun.


"Mau kenalan dulu gak?" goda Awan sambil memegang si Jalu dan mengelus kepalanya yang siap menerobos lembah kenikmatan.


Mentari dengan cepat menggeleng, ia masih malu jika harus memegang si Jalu yang ternyata sudah siap mengacak-acak miliknya.


"Sekarang ya, kalau sakit tahan aja karna itu gak akan lama," pesan Awan yang di iyakan oleh istrinya.


Awan langsung merentangkan kedua paha Mentari lebar lebar agar bisa langsung melakukan hal yang menyenangkan saat ini juga.


.


.

__ADS_1


Ok Jalu, udah siap maju mundur cantik 'kan?..


__ADS_2