
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Apa aku mengabaikanmu?" tanya Awan, kini tatapan suami istri itu saling bertemu.
"Ya, kamu selalu mengabaikan perasaanku, By."
"Maaf, aku takan mengulanginya lagi" janji Awan.
"Aku tak memaksamu menempatkan namaku di hatimu. Tak apa, tutup saja dan biarkan wanita itu terus ada disana"
"Gak, Sayang! aku takan melakukan hal konyol seperti itu" tolak pria yang kini menjatuhkan lagi air matanya.
Mentari tersenyum, sejak tadi bukan hanya permohonan maaf yang ingin dia dengar, tapi juga kalimat 'Aku menyayangimu' yang keluar dari mulut suaminya. Tapi dari sekian panjang perdebatan yang mereka lontarkan Awan sama sekali tak mengatakannya.
Dan itu, cukup membuat Mentari sadar jika Lisya masih memegang tahta tertinggi di hati pria yang teramat ia cintai selama sepuluh tahun ini.
.
.
.
Dua hari satu malam menantu Biantara itu menginap di rumah sakit. Dan siang ini sudah waktunya gadis cantik itu pulang kerumah bersama sang suami yang tak meninggalkannya meski hanya satu jengkal. Awan yang masih sangat khawatir memang terlihat sangat begitu perhatian, ia tak mau lepas dan jauh dari istri kecilnya.
__ADS_1
"Ibu bilang apa?" tanya Awan saat Mentari menutup panggilan telepon dari kedua orang tuanya.
"Apa mereka marah padaku, saat tahu kamu sakit?"
"Asal bukan luka hati yang kamu goreskan mereka tak akan marah padamu, By" sahut Mentari.
Awan langsung diam, karna itu seolah sedang menyindirnya. Selama menikah entah sedalam apa ia sudah menyakiti hati Mentari dan yang tak habis pikir gadis itu masih saja bisa tersenyum bahkan tertawa seakan ia adalah satu-satunya yang ada dalam genggaman.
Sampai di rumah keduanya di sambut oleh keluarga, meski hanya sebuah drama dan Mentari nyatanya baik-baik saja tapi semuanya melakukan peran masing-masing dengan sangat rapih sampai Awan tak sadar apa pun.
"Jaga kesehatanmu, Nak. Jangan sampai sakit lagi." pesan Diana pada cucu mantunya.
"Jaga juga makanmu, jangan makan yang terlalu pedas dan harus tepat waktu" timpal Adam.
"Iya, Mamih, Papih. Aku gak pernah makan telat apalagi yang pedes-pedes kok palingan cuma makan ati. Iya, kan By?" sahut Mentari sambil melirik kearah suaminya.
"Kalau makan ati terus, itu yang kasih Ati coba sesekali kamu kasih empedu yang pait" ujar Langit dengan nada sinis yang langsung di cubit oleh Cahaya.
"Sudah-sudah. Kamu istirahat ya sayang. Di minum Obatnya ya cantik" pesan sang ibu mertua yang di balas anggukan kepala oleh Mentari.
Keduanya pun segera naik kelantai atas dimana kamar mereka berada. Awan sama sekali tak melepas genggamannya sampai istri kecilnya itu berbaring di ranjang dengan nyaman.
"Kamu butuh sesuatu?" tawar Awan sambil mengusap kepala Mentari.
__ADS_1
"Aku tak ingin apa-apa, ada denganmu saja sudah cukup bagiku"
"Aku selalu disini, untukmu"
Lagi, Awan mencium kening istrinya padahal dulu ia hanya sesekali melakukannya dengan Lisya tapi dengah Mentari Awan justru menjadi candu, bukan karna ingin memberi pembuktian jika ia suami yang baik tapi ia selalu merasa nyaman melakukan hal tersebut begitu saja.
"Ya sudah, istirahatlah. Aku akan temani disini"
"Bukankah ada pekerjaan, kamu sudag berhari-hari tak masuk kantor" ucap Mentari yang sebenarnya tak enak hati.
"Aku bisa melakukannya saat kamu tertidur, Sayang"
Mentari hanya mengangguk, ia mencari posisi nyaman untuk sekedar menikmati mimpi yang terkadang jauh lebih membuatnya bahagia, Sedangkan Awan terus mengusap kepala istrinya sampai benar-benar terlelap.
.
.
.
Jangan pergi ya, Cantik...
Aku hanya ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku. Terima kasih untuk rasa sabarmu yang luar biasa sampai aku merasa, kini aku sudah berada di titik yang paling nyaman.
__ADS_1
Ku mohon bersabrlah sampai dimana NAMAnya tak lagi menggetarkan hatiku